A. Pendahuluan
Pengembangan lalulintas kreativitas dibeberapa Negara di Asia telah diaplikasi sebagai pola pembinaan untuk memunculkan inovasi dalam berbagai bidang. Vietnam sangat baik dalam menerapkan system lalulintas kreativitas dalam pengembangan seni kerajinannya, didukung peran pemerintah dalam membantu regulasi dan fasilitasi. Hal ini, membuat Vietnam sebagai Negara berkembang memiliki daya saing tinggi. Lalulintas kreativitas merupakan istilah yang penulis munculkan, esensi dari system itu adalah upaya menyelaraskan jalur komonikasi jaringan kreativitas dengan industry seni kerajinan Indonesia. Sebab telah terjadi ketersumbatan antara creator seperti seniman, desainer, desainer, atau orang yang bertalenta tinggi dalam menciptakan karya kreatifnya, mereka jarang dihargai atas hasil kreativitasnya oleh para produsen. Meskipun telah tersedia undang-undang Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI), namun seni kerajinan perkembangannya lebih dinamis dan lemah dalam aturan HAKI terutama produk baru yang berkarakter khusus. Perlindungan terhadap kreativitas seni kerajinan itulah sebagai pengembangan lalulintas kreativitas itu. Sebab penciptaan desain baru merupakan salah satu kekuatan pada seni kerajinan rakyat. Saat krisis global, pengembangan desain baru memiliki relevansi terhadap pasar. Sejak global krisis 2008, membuat beberapa industry seni kerajinan Indonesia mati suri teruma untuk pasar ekport.
Berkacamata dari perkembangan pasar industry seni kerajinan pada Trade Ekspo Indonesia (TEI) 2007, merupakan saat panen raya industry seni kerajinan Indonesia. Pameran internasioanl itu nilai transaksinya mencapai hampir 150 juta dolar AS, dan masih didominasi oleh produk furniture dan seni kerajinan yang mencapai transaksi 93, 61 juta dolar AS, dan produk glassware (barang pecah belah), keramik, serta produk plastik senilai 9,75 juta dolar AS. (Harian Pelita, 27 Oktober 2007) . Memang kemudian laporan panitia pada penyelenggaraan tahun berikutnya terus meningkat, namun apa yang dirasakan panitia dengan peserta berbeda. Hal ini terkait dengan munculnya krisis global pertengahan tahun 2008. Penyelenggaraan pameran selanjutnya menjadi malapetaka bagi industry seni kerajinan Indonesia. Buyer yang seyogianya datang ke Indonesia untuk berbisnis, beberapa mengurungkan niatnya akibat dari melemahnya daya beli pasar mereka.
Pameran TEI itu adalah salah satu event pameran internasional yang paling bergengsi dan telah menjadi ruang pamer para industry furniture seni kerajinan Indonesia. Kondisi ini sampai pertengahan 2011 masih terasa akibatnya, bahkan beberapa industry telah banyak mengurangi tenaga kerja. Kapan dan bagaiman cara keluar dari krisis masih terus diupayakan. Pasar terbesar seni kerajinan selama ini adalah eksport. Konsekwensi era global, utamanya ekspor non migas seperti produk industry seni kerajinan ini adalah persaingan perdagangan baik regulasi dalam negeri tujuan pasar dan produk sejenis dari Negara produsen.. Apa lagi pada perdagangan global muncul blok-blok yang mengatur system perdagangan setiap Negara untuk melindungi industry dalam negerinya . Hal inilah yang kemudian ikut memberi kemunduran pada indutri seni kerajinan itu. Disisi lain globalisasi memberikan akselerasi pertumbuhan ekonomi banyak Negara, namun jika terjadi perubahan-perubahan ditingkat global akan membawa dampak pada tingkat internal pada suatu Negara. Industri ini telah lama menjadi tumpuhan kegiatan ekonomi bagi sebagaian masyarakat Indonesia, dan sejak diselenggarakan TEI 43 tahun lalu daya tarik konsumen manca negara salah satunya adalah seni kerajinan.
Jaringan pasar global seperti Eropa, Amerika, Australia, Jepang, dan Afrika selatan adalah pasar yang paling potensial selama ini. Beberapa telah mengalihkan belanjanya ke Cina yang memiliki banyak ragam kerajianan bervariasi dan murah. Kekuatan seni krajinan Indonesia terletak pada bahan alam, sentuhan handmade, dan unique. Guna mempertahankan dan mengembangkan pasar disaat krisis global, yakni dengan menciptakan produk baru dengan sentuhan desain sesuai dengan trend yang berkembang dipasar itu. Diciptakan seni kerajinan dengan desain baru dari orang-orang yang kreatif dan memiliki kreativifas dalam mencipta desain baru . Perlindungan terhadap orang kreatif itu, adalah salah satu upaya keberlangsungan industry kreatif di Indonesia. Sebab seorang yang kreatif dalam menciptakan desain baru, belum tentu dapat melakukan produksi dalam jumlah masal dengan manajemen yang rumit.
B. Pengembangan Kreativitas Seni Kerajinan di Era Global.
1. Pengembangan Kreativitas
Kreativitas merupakan proses mental yang melibatkan pemunculan gagasan atau konsep baru, bahkan hubungan antara gagasan dan konsep yang telah ada. Hasil pemikiran kreatif itu umumnya memiliki keaslian dan kepantasan. Sebagai alternative konsepsi sehari-hari dari kresativitas merupakan tindakan untuk membuat sesuatu yang baru atau berdaya cipta . Daya cipta atas kemampuan untuk mencipta sesuatu itulah yang membuat sesuatu tak berguna menjadi berdaya guna, sesuatu yang biasa menjadi luar biasa, bahkan yang belum ada menjadi ada. Dalam bidang seni kreativitas memegang peran yang sangat penting sebab kreatvitas menciptakan seni menjadi tolok ukur sang seniman seberapa jauh kreativitasnya dapat memberikan dampak terhadap dirinya maupun lingkungannya. Sebab daya kreativitas muncul sejak lahir dan juga dapat dipengaruhi oleh lingkungannya.
Dalam masyarakat orang yang memiliki kreativitas untuk melakukan hal baru untuk memberikan alternative baru, perubahan baru, dan inovasi baru, tidak mudah ditemukan. Banyak orang yang sebenarnya kreatif, namun tidak pernah menggunakan daya kreativitasnya atau bahkan tidak sadar bahwa dirinya kreatif. Dalam pendidikan, Fajar Sidik seorang dosen seni lukis ISI Yogyakarta, pernah memprovokasi mahasiswanya untuk tidak selalu terpancang pada eksplorasi seni lukis dengan aturan di atas kanvas dan dua demensional, ia menganjurkan untuk melakukan inovasi disegala bidang. Akibatnya, banyak karya antara tahun 1970 sampai 1980-an yang menunjukan sepirit eksplorasi itu, sepertti penggunaan berbagai material seperti besi, kaca, kayu, pasir, batu, kertas, dan lain-lain . Eksplorasi baru pada sesuatu yang belum pernah dilakukan orang, berbeda, dan dapat memberikan nilai kebaruan, maka saat tertentu ditemukan kreativitas dengan hasil yang besar dan berdaya guna.
Ada beberapa cara untuk mencari orang yang kreatif itu, yakni dari dunia pendidikan, kelompok sanggar, dan masyarakat. Sebenarnya dunia pendidikan memiliki berpotensi membangkitkan kreativitas, namun tidak semua aktivitas pendididikannya banyak membangkitkan krativitas anak didiknya. Pengelolaan otak kanan dan kiri masih belum dimaksimalkan. Pada hakikatnya, otak kiri mempunyai kemampuan analitis dan otak kanan kemampuan berpikir sintesis. Otak kanan memiliki kemampuan berpikir yang menyatukan bagian-bagian untuk membentuk konsep keseluruhan yang utuh secara paralel tanpa terikat oleh langkah-langkah terstruktur atas dasar ruang dan waktu. Pemanfaatan otak kanan sangat efektif untuk mengajarkan imajinasi yang menembus ruang dan waktu sehingga menjadi manusia kreatif, bukan manusia robot. Kemampuan otak memperoleh banyak informasi maka semakin banyak tantangan .
Setiap individu memiliki kreativitas dengan karakter masing-masing, namun hasil dari kreativitasnya jika tidak dikelola dengan baik, maka akan terjadi kerugian-kerugian. Dorongan kreativitas dapat dimunculkan dan dapat diyakinkan bahwa hasil kreativitasnya dapat memberikan kehidupan yang sejarahtera. Diperlukan jaringan pengeloaan hasil-hasil kreativitas itu. Dalam penemuan yang lebih spesifik maka perlindungan hak atas kekayaan intelektual (HAKI) menjadi sangat penting, namun ada beberapa kelemahan dalam pengembangan dan perlindungan desain seni kerajinan. Seni kerajinan memiliki fluktuasi tinggi, pada kurun waktu tertentu, bahkan mungkin dalam hitungan bulan dapat tercipta ratusan desain baru yang memiliki karakter trend kekinian. Ini yang membuat seni kerajinan memiliki akselerasi desain yang baik dan memiliki kelemahan perlindungan. Paradok inilah yang menjadi penyebab muramnya kreativitas industry seni kerajinan untamanya masalah desain baru. Satu sisi penghargaan terhadap para creator sangat minim, disisi lain pemenuhan desain baru bagi industry kerajinan sangat dibutuhkan. Pada bulan Juni 2011, penulis mencoba menawarkan dibentuknya sebuah institusi khusus yang menangani lalulintas kreativitas kepada pemda Daerah Instimewa Yogyakarta. Dengan institusi khusus yang beranggotakan “triple helix” atau academism, basines, and government (ABG), membentuk lalulintas kreativitas. Secara persuasive institusi ini akan mengadvokasi terjadinya kesenjangan antara creator dan industry.
Beberapa pendidkan yang secara intensif menyelenggarakan pendidikan dengan mengasah otak kanan berupa kreativitas mencipta, seperti Sekolah Menengah Kejuruan: Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR), Sekolah Menengah Kesenian Indonesia (SMKI), Sekolah Menengah Industry Kerajinan (SMIK), SMK Boga, Busana, dan lain sebagainya. Pada pendidikan tinggi dianataranya Institut Seni Indonesia (ISI), Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) dan akademi-akademi lainnya. Kreativitas dalam dunia pendidikan dapat mudah ditengarai dari hasil studi mereka, sehingga dari pendidikan untuk mendata orang yang kreatif cukup mudah. Demikian pula dari sanggar-sanggar akan mudah ditemukan orang yang kreatif pada sanggar atau kelompok kreatif itu. Dalam masyarakat umum, memang agak sulit untk memngukur kemampuan kreativitas mereka. Cara paling mudah adalah melakukan upaya identifikasi dengan cara kompetisi atau lomba kreativitas yang dapat menjaring semua unsure baik dunia pendidikan, sanggar, kelompok kreatif, individu di masyarakat.
2. Industri Seni Kerajinan Indonesia
Seni kerajinan di Indonesia merupakan salah satu industry yang banyak tumbuh dan berkembang di masyarakat. Jenis Industri ini banyak menggali potensi local, baik dari sisi bahan baku dan proses pengerjaannya. Kegiatan usaha berupa industry kecil rumah tangga (home industry) di pedesaan dalam sentra-sentra home industry di berbagai wilayah Indonesia. Umumnya, dalam penciptaan produk juga menggali budaya local, artefak, dan ketrampilan tradisional. Kegiatan usaha ini memberi added value terhadap pembangunan ekonomi masyarakat. Pemaknaan tentang pembangunan ekonomi yang pokok adalah pertumbuhan ekonomi yang berlangsung secara berkesinambungan sehingga menghasilkan transformasi structural dalam perekonomian. Pertumbannya dapat meningkatkan pendapatan masyarakat pengusaha/pengrajin dan Negara . Paradigma pertumbuhannya tergantung pada permintaan pasar yang ada baik pasar lokal maupun ekspor.
Selanjutnya industry ini disebut micro industry atau industry kecil dan menengah (IKM). IKM mengalami pasang dan surut sesuai dengan arus perubahan di masyarakat konsumen, umumnya mereka bermodal kecil dan ditangani dalam sebuah manajemen keluarga. Beberapa dapat mencapai pertumbuhan, namun tidak sedikit yang stagnant tanpa pertumbuhan yang berarti. Hal ini dapat dimengerti, umunya industry tradisional itu bertempat di pedesaan yang pelakunya berpendidikan remdah, dalam perkembangannya mengalami kendala-kendala, seperti pengetahuan teknologi informasi, komonikasi, market dan lain sebagainya. Demikan pula dalam inovasi produk masih terkendala dengan kemampuan mencipta diantara mereka, sebab mereka hanya mengerjakan apa yang dikerjakan oleh pendahulunya secara turun temurun. Pada hal dalam perkembangannya produk yang berbasis pada ketrampilan tangan atau handmade ini banyak disukai konsumen manca Negara. Banyak bermunculan industry menegah yang memanfaatkan keunikan industry kecil ini. Saat krisis ekonomi 1998 industri seni kerajinan mampu bertahan dengan baik, sebab bahan pokok dan tenaga kerja semua diperoleh dari dalam negeri, apalagi perbedaan mata uang, dimana nilai rupiah turun terhadap USD, sehingga ekspor kerajinan kala itu meningkat tajam. Sampai akhirnya tahun 2008, saat krisi global melanda dibeberapa belahan dunia membuat kondisi eksport menurun, industry seni kerajinan yang telah sekian lama dininabobokan dengan manisnya pasar ekspor, sekarang harus berjuang lebih keras untuk mempertahankan pasar tersebut. Ditambah nilai mata uang Indonesia terus meningkat sehingga para buyer merasa semakin mahal harga seni kerajinan dari Indonesia. Hanya produk-produk yang memiliki daya kreativitas saja yang dapat diterima dipasar global.
Kantong-kantong sebagai sentra industry seni kerajinan di Indonesia talah menjadi salah satu basis ekonomi kerakyatan. Di Yogyakarta misalnya, kantong industry kerajinan menyebar hampir diseluruh wilayah ini. Kasongan sebagai sentra industry seni kerajinan keramik, produknya telah banyak di ekspor ke manca Negara terutama Australia, Belanda, Perancis, Italia, Jerman, Korea, Jepang, dan beberapa Negara di Karibian. Wilayah Kasongan mampu mengembangkan variasi keramik yang unik sesuai trend yang berkembang di dunia yang berkembang di dunia. Bahkan Kasongan telah menjadi meteor yang menarik bagi pasar seni kerajinan di Indonesia ditandai banyak artshop yang dikelola oleh pengusaha/pengrajin diluar Kasongan dengan produk non-keramik. Di Desa Krebet Pajangan Bantul dengan sentra industry kayu batik yang juga banyak diminati produknya oleh konsumen Perancis, Itali, dan Belanda. Batik Imogiri, wayang kulit Pucong dan Gentheng Bantul. Gamplong dengan industry tenunnya yang banyak diminati pasar dalam dan luar negeri. Topeng hias Putat Gunungkidul, dan sentra-sentara baru yang muncul sebagai turunanannya. Ditambah lagi munculnya beberapa industry seni kerajinan yang dikelola oleh para expatriates, mereka memiliki banyak mitra binaan diseluruh wilayah Yogyakarta dan sekitanya. Keadaan seperti ini juga berkembang diseluruh sentra seni kerajinan di Indoensia. Propinsi Bali adalah yang paling besar industry seni kerajinannya, sebab sangat dekat dengan pasar dengan maraknya industry pariwisata di Bali. Produk seni kerajinan yang dihasilkan adalah cinderamat, kerajinan kayu, batu, logam, keramik, dan lain sebagainya. Banyak berkembang perusahaan trading seni kerajinan yang berkantor di Bali.
3. Peluang Eksport Seni Kerajinan Indonesia
Masih banyak peluang ekspor dapat diraih seni kerajinan pada perdagangan global, menurut data Word Trade Organization dari nilai keseluruhan 6,155 trilliun USD kebutuhan dunia, Indonesia pada tahun 2001 hanya baru bersaing pada nilai 56,3 Milliar USD. Data BPEN untuk seni kerajinan nilai ekspor 465,1 juta USD. Ekspor nonmigas sementer 1 2011 mencapai US$ 79,1 milliar USD, meningkat 33,2 persen dibanding priode yang sama tahun 2010. kinerja ekspor di semester pertama ini memperkuat optimisme tercapainya ekspor secara total sebesar US$ 200 milliar USD tahun 2011 . Paling banyak didominasi seni kerajinan kayu dan rotan, aneka kerajinan dan kerajinan logam. Memang beberapa Negara Eropa, Australia, Korea, Jepang, dan lainnya masih menjadi tujuan utama konsumen seni kerajinan. John Naisbitt pernah mempridiksi bahwa suatu saat Negara-negara barat lebih banyak memerlukan Negara timur dari pada timur memerlukan barat , namun peluang Indonesia dalam meraih pasar itu tentu bersaing ketat dengan Negara-negara sejenis lainnya seperti Cina, Vietnam, Thailand, dan Malaysia. Dengan kekayaan alam yang spesifik, ketrampilan tradisi, dan ketrampilan tangan para pengrajinnya telah menjadi andalan ekspor seni kerajinan Indonesia.
Dalam dasa warsa mendatang ekspor seni kerajinan masih menjadi salah satu komodite yang menarik. Oleh karena itu, diperlukan promosi dan melakukan market research. Sebagai contoh, orang Eropa lebih suka dengan syle, pattern and design, mereka memiliki budaya sendiri yang tentu harus kita diikuti sesuai dengan trend mereka. Orang Eropa sebenarnya masih berpola pada konsep tradisional ala mereka, berbeda orang Amerika yang lebih moderat dapat menerima pembauran dalam style, pattern, and design itu . Trend desain menjadi bagian yang sangat penting dalam market research guna membuat produk baru yang dapat diterima pasar. Hasil produk seni kerajinan memiliki perubahan begitu cepat secepat perubahan mode dunia. Sebagai kebutuhan pelengkap unterior, seni kerajinan bergerak mengikuti life style masa tententu. Untuk menangkap pasar yang demikian, maka diperlukan kreativitas-kreativitas yang terwadahi dalam research and development (R&D). Bagi para pengrajin yang telah memiliki manajemen yang baik umumnya mereka memiliki bagian R&D, namun bagi pengrajin kecil yang banyak tersebar di seluruh Indonesia sangat jarang yang memiliki devisi ini. Oleh karena itu, diperlukan lalulintas kreativitas untuk menjaring manusia- manusia kreatif yang akan menciptakan produk baru dan dapat menyelesaikan persoalan desain sesuai pasar dalam bersaingan global.
Untuk memenangkan persaingan itu dipayakan antara produksi dan pasar dapat seimbang, maka diperlukan system produksi yang baik dan promosi. Ada beberapa cara promosi, yakni melalui pameran, internet, konsinyasi, dan lainnya. Pameran nasional dan internasional adalah pola yang paling sering diikuti para pengusaha/pengrajin Indonesia. Ada beberapa event penting sebagai ajang ekspor seni kerajinan potensial antara lain, Trade Ekspo Indonesia (TEI), International Furniture & Craft Fair Indonesia (IFFINA), The Jakarta International Handicraft Trade Fair (NACRAFT), Pameran Resources of Indonesian Craft (CRAFINA) dan Indonesia Craft (ICRA) 2010. Pameran itu memamerkan berbagai produk kerajinan dari berbagai bahan seperti keramik, kayu, perak, dan lainnya. Masih banyak lagi, pameran yang diadakan di dalam negeri berskala internasional.
Agenda pameran di luar negeri banyak diselenggarakan seperti Ambiente Germany, Milan Fair, American Gift Show, dan lain-lain. Ajang promosi melalui pameran umumnya menjadi andalan para pengusaha/pengrajin. Apalagi banyak bantuan dari kemitraan dengan perusahan terutama Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dengan Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL). Peraturan Menteri Negara BUMN No.: Per-05/MBU/2007 tanggal 27 April 2007 tentang Program Kemitraan BUMN dengan Usaha Kecil dan Program Bina Lingkungan . Pameran atas bantuan PKBL sebagai salah satu wujud pengembangan IKM dengan pemberian pinjaman modal dan program pameran. Hal ini sebagai Corporate Social Reasonability (CSR) dari perusahaan BUMN tersebut.
4. Lalulintas Kreativitas Seni Kerajinan
Pada hari kamis 23 Juli 2011, penulis diundang dalam acara pembahasan penelitian tentang perumusan kebijakan perekonomian daerah melalui Biro Perekonomian dan SDA Setda Provinsi DIY, tentang analisa pola pembinaan dan pengembangan industry kreatif di Provinsi DIY. Dasar instruksi presiden RI no. 6 tahun 2009 tentang pengembangan ekonomi kreatif. Industri kreatif di beberapa Negara maju dapat memberikan kontribusi perekonomian bangsanya. United Kingdom misalnya, sumbangan industry kreatif terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai 7,9% dengan pertumbuhan 9%, New Zeland sumbangan industry kreatif terhadap PDB -nya adalah 3,1 %. Pada tahun 2006 Indonesia rata-rata kontribusi industry kreatif Rp. 104,638 trilyun atau 6,3 persen terhadap PDB Indonesia dan mampu menyerap tenaga kerja 5,4 juta orang. Ada 14 sub sector industry kreatif yang ditetapkan oleh pemerintah sebagai fokuls pengembangan ekonomi kreatif sampai tahun 2025, yakni periklanan, arsitektur, pasar seni & barang antik, kerajinan, desain, desain fesyen, video film & fotografi, permainan interaktif, music, seni pertunjukan, penerbitan&percetakan, layanan computer & piranti lunak, televise & radio, dan reset & pengembangan . Pada pemaparan hasil research itu, pola pembinaan mengacu pada industry sebagai produsen saja, belum menyentuh para creator-nya. Desainer sebagai creator seni kerajinan di Indonesia belum dianggap penting, sehingga inovasi kreatifitas mencipta produk seni kerajinan telah menjadi persoalan antara desainer dan industry produsen. Desainer merasa dirugikan atas ulah para produsen yang mereproduksi hasil karyanya. Pada kesempatan itu pula penulis memberi masukan agar dibentuk sebuah institusi khusus menangani persoalan hasil kreativitas ini, dengan membentuk Dewan Lalulintas Kreatifitas (DLK). DLK beranggotakan dari unsure akademisi, pengusaha, dan pemerintah (triple helix).
Sebagai pembanding bahwa Negara Vietnam dalam beberapa pameran internasional home accessories yang penulis amati, selalu menampilakn karya para desainernya. Seperti hasil para desainer Negara itu yang dipamerkan dalam sebuah pameran perdagangan dunia sebesar Abiente Frankfurt Jerman pada bulan Februari 2007. Desainer benar-benar diberi ruang ekspresi, untuk menampilkan karya yang kreatif dan inovatif. Setiap desainer diberi ruang 5x10 merter untuk mendisplay produk ciptaannya. Layaknya pameran tunggal, masing-masing desainer men-display dengan baik pada tiap booth yang mereka tempati, tata lampunya pun baik, juga dilengkapi dengan curriculum vitae, foto diri seniman, dan katalog. Penulis mencoba mencari tahu ternyata peran pemerintah Vietnam cukup besar dalam mengolaborasikan antara desainer yang kreatif dengan pihak pengerajin. Desainer menciptakan desain baru beserta prototype-nya dan pihak pengusaha/pengrajin berperan untuk follow up tiap produk yang mendapat respons buyer ketika bertransaksi dan memesan. Antara desainer dan pihak pengusaha/pengrajin sama-sama mendapatkan keuntungan: desainer memperoleh pembagian keuntungan dalam bentuk royalty dan pihak pengusaha/pengrajin mendapatkan keuntungan dengan adanya order yang berarti ada pekerjaan dalam usaha mereka. Desainer pun dapat mengekspresikan ide-idenya dalam membuat karya, juga menumbuhkan kepercayaan dari para desainer bahwa pekerjaan sebagai craft designer merupakan pekerjaan yang menguntungkan. Pihak pemerintah juga mendapatkan keuntungan tersendiri, terutama dari pajak penerimaan negara.
Gambar: Proses kerjasama antara desainer dan pengrajin (Timbul Raharjo, 2011)
Desainer pun akhirnya memiliki kepekaan yang baik dalam membaca pasar dari gejala-gejala yang dilihatnya.Di samping itu dapat pula mengombinasikan antara seni tradisi dengan seni modern sehingga membantu para pengrajin membuat produk yang memenuhi kebutuhan home accessories rumah modern saat ini . Dalam menindaklanjuti pekerjaan produksi, pihak pengusaha/pengrajin perlu memperhatikan agar memiliki teknologi yang baik dalam membuat produk seni kerajinan sehingga menjadi produk massal guna memenuhi permintaan para buyer untuk diperdagangkan ke manca negara.
Oleh karena itu, antara desainer dan pengusaha seni kerajinan jika digabungkan akan memiliki kekuatan yang dahsyat. Kekuatan inilah yang menjadi andalan bagi produk kerajinan dari Indonesia untuk memenangkan pertarungan dalam perdagangan kerajinan di pasar global. Seperti apa yang dilakukan oleh para desainer dari Vietnam. Mereka dapat bersatu dengan pengrajin. Hal itulah yang membuat Vietnam sejak tahun 2005 menjadi meteor baru untuk produk kerajinan. Menurut Mr. Enrico, produk negara Vietnam memiliki keunikan tersendiri dan juga memiliki harga yang kompetitif . Beberapa saat lamanya, dalam lima tahun, Vietnam menjadi idola para buyer yang juga sering berkunjung ke Indonesia. Pelajaran tentang negara Vietnam menurut penulis menjadi satu model pembinaan bagi para desainer dan pengrajin untuk dapat berkolaborasi dalam suatu kerjasama yang saling menguntungkan. Keuntungan dari pihak desainer maupun dari pihak pengrajin adalah pada aspek pengembangan usaha yang bisa menjadi lebih baik. Desainer pun dapat berekspresi dan memberi arah pada pertumbuhan dinamika kerajinan terutama pada konteks penciptaan produk baru.
C. Penutup
Memang, selama ini antara dunia seni kerajinan dan kerajinan secara formal jarang sekali dikelola secara baik agar memiliki hubungan yang saling menguntungkan. Perlindungan atas Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) dirasa masih belum mampu mengatasi persoalan ini. Banyak desainer yang enggan berhubungan dengan para pengusaha kerajinan yang dikhawatirkan akan siap menyaplok kreativitasnya. Desainer merasa dirugikan. Beberapa desain yang diciptakan kemudian direproduksi oleh pengusaha itu tanpa memberikan imbalan yang layak terhadap para desainer. Hal inilah yang menjadi jurang pemisah antara desainer dan pengusaha. Memang, salah satu penyebabnya adalah pola pikir yang sangat berbeda. Desainer lebih berkonsentrasi pada kemampuan kesenimanannya untuk menciptakan produk baru yang sama sekali tidak mempedulikan pasar. Sementara, pengusaha orientasinya adalah keuntungan sehingga desain yang tercipta selalu dikaitkan dengan wacana pasar. Bagi pengusaha, produk yang bagus adalah produk yang laku dijual sementara bagi desainer produk yang bagus adalah memenuhi kriteria basic design dan kesesuaian dengan idealisme.
Peran dari berbagai lembaga swasta maupun pemerintah seperti pengrajin, desainer, perguruan tinggi, pemerintah, maupu pihak swasta lainnya sangatlah diperlukan dalam lalulintas kreativitas. Menurut penulis, bentuk pola kerjasama semacam itu sangat mungkin dilakukan di Indonesia. Hanya saja, sebagian dari pemangku otoritas belum begitu sadar soal pentingnya para kreator seni kerajinan untuk diberi peluang menampilkan hasil kreativitas dan inovasi seni kerajinan terbaru mereka. Peran DLK seperti yang penulis sarankan sebagai institusi yang betugas untuk member pelayanan terhadap terjadinya tindak kecurangan terhadap perlakukan desain baru, DLK akan memberikan advokasi secara persuasive, dengan cara damai dan di cari jalan terbaik.
D. Kepustakaan
Ahmad Erani Yustika, Perekonomian Indonesia: Satu Dekade Pascakrisis Ekonomi, Badan Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya, (BPFE-UNIBRA), Malang 2007.
Ambar Tegus Sulistiyani, Kemitraan dan Model-model Pemberdayaan, Penerbit Gaya Media, Yogyakarta, 2004.
Amir MS, Eksport Impor: Teori dan Penerapannya, Penerbit PPM, Jakarta, 2005.
“Analisa Pola Pembinaan dan Pengembangan Industri Kreatif di Provinsi DIY”, Biro Administrasi dan Perokonomian dan Sumber Daya Alam Setda Provinsi DIY, 2011.
Design Meet Artisan” Craft Revival Trust, Artesanfas de Columbia S.A., Unesco, 2005.
Chernow, Fred B., (Alih Bahasa: Rina Buntaran), The Sharper Mind, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2002.
Djamin, Zulkarnain, Dampak Globalisasi Terhadap Ekonomi dan Perdagangan Luar Negeri Indonesia, Penerbit Universitas Indonesia (UI-Press), 1994.
Enrico Vacetti, importir dari Karu, Milano, Italia. Wawancara pada tanggal 20 November 2008 di Kasongan Yogyakarta.
http://pkbl.bumn.go.id
http://www.kemendag.go.id
Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Keempat, Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2008.
Naisbitt, John (terj.Danan Priatmoko dan Wandi S Brata),Megatrends Asia: Delapan Megatrend Asia yang Mengubah Dunia, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1995.
Panter, Barry (ed.), Creativity & Madness: Psychological of Art and Artists, Aimed Press, American Institutte of Medical Education, Burbank, 199.
Sugeng Bahagijo dan Darmawan Triwibowao, “Globalisasi, Defisit pengetahuan, dan Indonesia”, Komisi Negara, Jentera: Jurnal Hukum, Edisi 12-tahun III, April-Juni 2006.
“The Highlight: Dari Medium Ke Transmedia”, Katalog: Pameran Besar seni Rupa, Fakultas Seni Rupa, Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Jogja Nasional Musium 20-30 Desember 2008.
“Transaksi Pameran Produk Ekspor 2007 Capai 140,36 Juta Dolar”, Harian Prlita, 27 Oktober 2007.
Biodata
Timbul Raharjo lahir di Bantul Yogyakarta 08 Nopember 1969, sejak 1993 menjadi staf pengajar Jurusan Kriya Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Tahun 2008, menyelesaikan program S-3 pada Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Disamping kegiatan harian mengajar, juga menjadi pembicara pada kegiatan yang terkait dengan seni kriya dan kerajinan. Juga aktif mengikuti pameran-pameran seni rupa baik dalam maupun luar negeri. Tahun 2007 menjadi salah satu penerima anugerah penghargaan UPKARTI dari Presiden Republik Indonesia.
Jumat, 25 November 2011
SENI RUPA KONTEMPORER
Kata Wassily Kandinsky, ketika menyebut depose untuk kecantikan batin adalah semangat keinginan dan kebutuhan spiritual merupakan aspek sentral dalam seni. Meskipun untuk memuja seni abstrak, namun maknanya memberi pemahaman mendalam atas gaya seni sampai saat ini. Refleksi bentuk dan warna pada wujud karya seni, menghasilkan sebuah pemahaman. Mata merupakan alat perekam utama yang baik, hangat, tenang, dan bahkan dingin. Sensasi optic itu bersifat sementara ketika transfer artistic menggetarkan reaksi memori yang diamini diseluruh tubuh. Maka, itu hanyalah sebuah superficial dari efek karakter karya seni, terkadang tidak meninggalkan kesan abadi, namun sensasi-sensasi terpatri dalam jiwanya. Nyatalah sensasi itu muncul dari karya seniman yang kreatif berkarakter, bercap, maupun berjulukan. Termasuk menelaahan terhadap perubahan zaman yang makin suntuk dengan berbagai persoalan atas perubahan modernisasi, tak pelak menjadi bahan kreatifitas itu, seperti pada perkembangan seni kontemporer yang banyak berbicara tentang kekinian. Adalah sebuah persepsi budaya menyeluruh terhadap pola pikir budaya yang pro terhadap kecenderungan keberagaman yang mutlak mendorong pluralism, muncul berbagai aliran seni yang merespon terhadap seni modern menumbuhkan seni kontenporer yang bahkan lebih modern.
Praktik seni kontemporer kemudian termaknakan sebagai dihilangkannya berbagai kecenderungan artistic yang ditandai dengan makin abu-abunya batas antar disiplin seni. Oleh karenanya, intervensi disiplin ilmu sains dan social dicetuskan sebagai pengetahuan popular atau mamanfaatkan teknologi mutakhir itu. Bahkan presentasi seni kontemporer lepas dari sekat ruang dan waktu. Universalitas dalam seni kontemporer menunjukan ragam sentuhan seni, bahkan melebihi gaya-gaya modern seperti pop art dan seni konseptual. Penggalian konsepsi berkarya dengan karakter nyleneh sebagai upaya strategi propaganda, yakni seperti dorongan oleh isu-isu social, penyakit masyarakat, minoritas, homoseksualitas, aid, teroris, feminimesme, perang, korupsi, politik busuk, global warming, dan lain sebagainya. Eksplorasinya berkecenderungan mengkombinasi berbagai equipment dan material, seperti memanfaatkan teknologi madern, seni media atau seni digital sebagai penyemangat eksplanasinya. Bahkan penciptaan karya lukis, patung, dan kriya banyak dijumpai berinstalasi dalam penyajiannya. Hal ini sebagai upaya penguasaan ruang saji, efek dramatisasi, adaptasi materi, dan inovasi dari sebuah projek seni.
Praktik seni kontemporer kemudian termaknakan sebagai dihilangkannya berbagai kecenderungan artistic yang ditandai dengan makin abu-abunya batas antar disiplin seni. Oleh karenanya, intervensi disiplin ilmu sains dan social dicetuskan sebagai pengetahuan popular atau mamanfaatkan teknologi mutakhir itu. Bahkan presentasi seni kontemporer lepas dari sekat ruang dan waktu. Universalitas dalam seni kontemporer menunjukan ragam sentuhan seni, bahkan melebihi gaya-gaya modern seperti pop art dan seni konseptual. Penggalian konsepsi berkarya dengan karakter nyleneh sebagai upaya strategi propaganda, yakni seperti dorongan oleh isu-isu social, penyakit masyarakat, minoritas, homoseksualitas, aid, teroris, feminimesme, perang, korupsi, politik busuk, global warming, dan lain sebagainya. Eksplorasinya berkecenderungan mengkombinasi berbagai equipment dan material, seperti memanfaatkan teknologi madern, seni media atau seni digital sebagai penyemangat eksplanasinya. Bahkan penciptaan karya lukis, patung, dan kriya banyak dijumpai berinstalasi dalam penyajiannya. Hal ini sebagai upaya penguasaan ruang saji, efek dramatisasi, adaptasi materi, dan inovasi dari sebuah projek seni.
CONTEMPORARY ART
Wassily Kandinsky said, when called to depose inner beauty is the passion and desire spiritual needs is a central aspect in art. Although for the worship of abstract art, but it means giving in-depth understanding of the art style to this day. Reflections on the shape and color in the form of artwork, generate an understanding. Eyes are the primary recording device is good, warm, calm, and even cold. Optical sensation is temporary when the transfer reaction thrilling artistic memory that echoed throughout the body. Thus, it is only a superficial character of the effect of works of art, sometimes does not leave a lasting impression, but the sensations imprinted in his soul. It is obvious that the sensation arises from the work of creative artists in character, stamped, or nicknamed. Including an understanding of the changing times which increasingly borne by the various problems of modernization changes, no doubt the subject of creativity that, as in the development of contemporary art that a lot of talk about the present. Is a comprehensive cultural perceptions of the cultural mindset of the pro-diversity trend that is absolutely encourage pluralism, emerged various schools of art that respond to modern art art kontenporer foster an even more modern.
Contemporary art practice and then referred to as the removal of various artistic tendencies characterized by increasingly gray boundaries between artistic disciplines. Therefore, intervention and social science disciplines was initiated as a popular knowledge or using the latest technology. Even the presentation of contemporary art out of bulkhead space and time. Universality in a variety of contemporary art shows a touch of art, even more than modern styles such as pop art and conceptual art. Excavation work conception with different characters as a means of propaganda strategy, which is like a push by social issues, society's ills, minorities, homosexuality, aid, terrorists, feminimesme, war, corruption, bad politics, global warming, and so forth. Exploration tended to combine a variety of equipment and materials, such as utilizing madern technology, digital media art or art as an encouragement explanations. Even the creation of works of painting, sculpture, and crafts are often found installed in its presentation. This is an effort to control the space-food, the effects of dramatization, adaptation of materials, and innovation of an art project.
Contemporary art practice and then referred to as the removal of various artistic tendencies characterized by increasingly gray boundaries between artistic disciplines. Therefore, intervention and social science disciplines was initiated as a popular knowledge or using the latest technology. Even the presentation of contemporary art out of bulkhead space and time. Universality in a variety of contemporary art shows a touch of art, even more than modern styles such as pop art and conceptual art. Excavation work conception with different characters as a means of propaganda strategy, which is like a push by social issues, society's ills, minorities, homosexuality, aid, terrorists, feminimesme, war, corruption, bad politics, global warming, and so forth. Exploration tended to combine a variety of equipment and materials, such as utilizing madern technology, digital media art or art as an encouragement explanations. Even the creation of works of painting, sculpture, and crafts are often found installed in its presentation. This is an effort to control the space-food, the effects of dramatization, adaptation of materials, and innovation of an art project.
Jumat, 12 Maret 2010
Seni Kriya dan Seni Kerajinan dalam Industri Ekonomi Kreatif Oleh Dr. Timbul Raharjo, M. Hum.
A.Pendahuluan
Pada kesempatan yang baik ini penulis menekankan pada persoalan seni kriya yang dikaitkan dengan seni kerajinan, sebab terdapat kerancuan atas keduanya, apalagi jika kita berbicara yang lebih lebar yakni seni rupa, sebab seni kriya dan seni kerajinan merupakan bagian dari ranting pohon seni rupa. Pemahaman tentang seni kriya maupun seni rupa dalam dunia kreatifitas mungkin berbeda namun subtansinya sama. Ruang lingkup seni kriya dan seni kerajinan ini sebenarnya telah menjadi harapan nasional terkait dengan eksplorasi kreatifitas berbasis pada melimpahnya sumber daya alam dan sumber daya manusia bangsa Indonesia, secara prinsip dapat menjawab persoalan seni rupa juga. Dalam hal ini untuk memberikan kejelasan tugas dan fungsi dari seni kriya dan seni kerajinan perlu serba sedikit penulis sampaikan sebagai dasar pemahamannya. Oleh kerena penulis adalah pelaku dalam bidang penciptaan seni kriya dan usaha seni kerajinan, maka penulis benyak menyampaikan pengalaman-pengalaman yang bersifat praktik.
Beberapa hari yang lalu seorang bule marah-marah dengan seorang pengrajin, pasalnya si pengrajin telah memproduksi barang sampelnya dan dipajang di depan rumah si pengrajinan yang difungsikan juga sebagai showroom. Si bule marah karena barang sampelnya takut terjiplak oleh pengrajin lain atau terbeli bule lain yang dikawatirkan merusak pasar si bule itu. Si pengrajin berdalih contoh terlalu lama tidak diambil dan tidak di-order, dari pada tidak laku mending dijual saja, kata si pengrajin. Pengrajin juga tahu bahwa desain milik si bule adalah hasil dari ia memfoto di suatu pameran, ia menganggap itu bukan original desain milik si bule. Sementara itu ada seorang yang datang dengan muka kusut, berpakaian lusuh, dan berambut gimbal sepertinya beberapa hari tidak mandi ia mengaku sebagai kriyawan, tampak juga ikut nimbrung dan kesal dengan si pengrajin dan si bule, pasalnya karya yang mereka persoalkan adalah karya ciptaan si kriyawan itu. Situasi menjadi rumit sebab si kriyawan juga tidak punya bukti jika karya itu rancangan dia. Mereka bertengkar mempersoalkan legal formalnya sebuah karya yang mereka perebutkan sebagai hak siapa. Mata rantainya kemudian dapat dilihat siapa yang rekoso(susah) dan siapa yang mulyo (enak) Kriyawan yang menghasilkan barang adalah sebagai kreator karya seni kriya yang mungkin tetap miskin, si pengrajin sebagai pereproduksi saja bisa jadi kaya, dan si bule salah satu pemegang pasar yang bisa kaya-raya. Kriyawan merasa kreatifitasnya tidak ada yang menghargai bahkan merasa dicuri, pengrajin senang karena mendapat order, dan si bule gembira sebab bisnisnya akan lestari manakala produk yang ditawarkan new design dapat diterima pasar dengan baik.
Pemahaman peran dan fungsi dari masing-masing elemen yang berkecimpung dalam dinamika seni kriya menemukan jalur jalan masing-masing sesuai dengan porsinya. Oleh karena itu nilai-nilai dalam seni kriya dapat diuraikan sebagai dasar pemahaman itu. Tentu persoalan yang rumit antara kriyawan, pengrajin, dan konsumen tidak akan terjadi jika ada kesadaran menempatkan diri dengan baik. Nilai-nilai seni kriya kemudian dapat dijabarkan dalam persoalan ketiga hal tersebut, apalagi seni kriya telah menjadi salah satu preoritas nasional dalam menumbuhkan sifat kreatif pada generasi muda melalui jalur edukasi hampir di seluruh wilayah Indonesia. Dorongan kreatifitas dalam mencipta seni kriya, dorongan untuk memberdayakan alam dan manusia dalam sebuah kegiatan usaha, dan tentu dorongan untuk membentuk jaringan pasar terhadap hasil kreatifitas itu agar berdaya guna diterima oleh para konsumen. Hal medorong inilah menjadi tugas kita bersama.
B.Seni Kriya
Sejalan dengan perkembangan zaman dan tuntutan masyarakat, khususnya perkembangan seni rupa, batasan tentang seni kriya mengalami perubahan dan perkembangan. Bahkan batasan tersebut sering tumpang-tindih dengan bidang seni rupa murni dan disain. Penulis mencoba untuk memberi definisi secara umum tentang batasan seni kriya, yaitu salah satu bentuk produk seni rupa, fungsional atau non fungsional, yang mengutamakan pada nilai-nilai dekoratif dan kerja tangan dengan craftmanship tinggi, pada umumnya menggali nilai-nilai tradisi yang bersifat unik. Definisi ini tampaknya memberi longgar pada jenis produk yang dituju bisa lebih luwes, karena semua produk sejenis itu bisa terangkum dalam definisi ini, dari souvenir perkawinan sampai pada jenis patung yang berukuran besar. Berdasarkan definisi tersebut, maka kajian seni kriya dapat diperhitungkan lebih luas, tidak hanya diklasifikasikan dari aspek fungsinya saja, tetapi juga aspek lainnya. Tampaknya kekumplitan jangkauan seni kriya dapat menjadi lebih luwes dan menyeluruh, keunikan yang muncul dari gerak ornamentasi dan bentuk memberikan keunikan tersendiri terutama pada karakter setiap karya yang dihasilkan. Aspek estetika dengan tampilan tigadimensional maupun dua dimensional membawa kedalaman, efek, bentuk yang lebih visual dalam sebuah unsure relief ukiran, goresan ornamentasi memberikan kompleksitas teknologi dan material yang ternyata tidak terbatas. Memang kecenderungan saat ini adalah media bukan persoalan yang signifikan namun idea menjadi panglima dalam menciptakan sebuah karya seni kriya. Idea yang kreatif inovatif dengan mengangkat isu-isu yang sedang berkembang seni kriya mengikuti perkembangan zaman.
Seni kriya merupakan salah satu cabang seni rupa yang memiliki akar kuat, yakni nilai tradisi yang bermutu tinggi atau bernilai adhilung. Sebab pada masa lampau, para kriyawan keraton menghasilkan karya seni dengan ketekunan dan konsep filosofi tinggi memberikan legitimasi pada produk seni kriya tempo dulu. Konsep itu termasuk pola pikir metafisis yang mengandung muatan nilai-nilai spiritual, religius, serta magis. Kesadaran kolektif terhadap lingkungan alam, solidaritas yang tinggi dan didukung oleh tatanan budaya tradisional yang ternyata telah menghasilkan seni kriya yang berkualitas adhiluhung mencerminkan jiwa zaman. Seluruh kehidupan batin manusia yang terjadi dari perasaan, pikiran, angan-angan pada masa dari sebuah budaya berlangsung. Jiwa zaman ini memberikan letupan-letupan semangat berkarya pada masing-masing jiwa pendukungnya. Oleh karena itu ke-adhiluhungan-nya adalah sebuah karya yang kemudian diukur dari siapa pendukung dan siapa penikmatnya. Sebab pada zaman kerajaan membedakan strata masyarakat ningrat dan rakyat biasa, sehingga keduanya memiliki test (selera) yang berbeda dan secara formal maupun non formal rakyat ditabukan untuk memiliki atau memakai produk yang mirip dengan apa yag ada di keraton. Nah inilah yang kemudian membedakan sumber wilayah munculnya seni kriya yakni karya yang dihasilkan dari jeronbetèng (dalam keraton), jabanbetèng (luar keraton) dan bahkan pesisiran (pantai). Tentu adhiluhung selalu dikaitkan dengan apapun karya-karya yang berada di keraton, sebab memang karya-karya kriya yang berada di dalam keraton memiliki legitimasi tersendiri sehingga sangat di sakralkan dan diagungkan, maka banyak orang menganggap adhiluhung karena dari keraton. Lain halnya dengan karya yang dibuat oleh jaban keraton dianggap sebagai karya rakyat jelata yang bersifat profan dan tanpa memiliki makna yang luhur atau adiluhung itu. Maksud adhiluhung pada masa sekarang telah berbeda dengan adanya Negara Kesatuan Republik Indonesia, bukan kerajaan lagi, maka pemerintah Indonesia melindungi bentuk-bentuk kebudayaan tradisi yang telah berakar kuat dan menjadi trademark daerah tertentu atau wilayah tertentu, yang memiliki ciri khas tersendiri sebagai bagian dari seni tradisi, misalnya seni ukir Jepara, seni batik Yogya-Solo, motif Dayak, keris, dan lain sebagainya. Artefac yang ada memiliki nilai tersendiri dari sebuah bagian dari kreatifitas lokal pada komonitas pengrajin maupun karya yang secara mentradisi berada dalam sebuah lingkup kerajaan. Dengan demikian adhiluhing juga memiliki kekuatan sebagai karya yang telah didukung oleh masyarakatnya.
Adapun pembedaan siapa pengguna dari produk kriya itu tergantung pada sebuah komonitas pengguna. Pertama adalah karya seni kriya yang dibuat sebagai pengabdian terhadap dewa-raja yang secara tekun dikerjakan agar kemakmuran dan kebahagiaan hidupnya terlindungi dengan memberikan/membuat karya yang baik, maka sang Dewa akan merasa senang dan memberikan ketentraman dan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Kedua adalah pengguna dengan tingkat ekonomi lebih baik yang dapat mengapresiasi seni kriya itu menjadi bagian gaya hidup mereka akan trend seni, pastilah seni yang dihasilkan memiliki nilai yang tinggi, bahkan pada masa sekarang karya yang dikoleksi oleh orang “berduit” ini luar biasa nilainya dapat melampaui koleksi karya-karya yang dimiliki keraton. Ketiga pengguna pada strata menengah ke bawah, tentu mereka hanya mampu mengoleksi dan mengapresiasi yang menyesuaikan dengan tingkat ekonomi mereka, sehingga produknya pasti menyesuaikan dengan kemampuan kantongnya. Maka munculnya jenis seni rupa tradisi keraton pada masa lalu itu tentu lahir dari unsur strata kelas masyarakat yang di dasarkan pada kasta-kasta, kasta bendoro, priyayi, dan petani. Kasta bendoro lebih banyak berada di dalam keraton sehingga keraton memiliki tempat yang paling terhormat.
Karya seni kriya yang adhiluhung kemudian menjadi sangat sepesial bagi pihak keraton, sebab seni kriya jenis ini memiliki keunikan tersendiri atas sebuah karya yang diciptakan untuk persembahan kepada dewa-raja. Nilai pengabdian yang luar biasa yang dapat mempengaruhi seluruh hidup mati, kebahagiaan, kesengsaraan, kemakmuran, dan lain sebagainya. Ekspresi kepada dewanya inilah yang mampu menggetarkan hati si kriyawan untuk menciptakan karya terbaik. Ekspresi demikian tampaknya hadir dalam penciptaan seni kriya masa kini meskipun bukan berkarya untuk tuhannya, namun luapan jiwa untuk menghadirkan gubahan karya kriya menjadi pangikat semangat berkarya.
C. Seni Kerajinan
Kerajinan suatu hal yang rajin, kegiatan, kegetolan, barang yang dihasilkan melalui ketrampilan tangan. Umumnya barang kerajinan banyak dikaitkan dengan unsure seni, yang kemudian disebut seni kerajinan. Seni kerajinan adalah implementasi dari karya seni kriya yang telah diproduksi secara masal (mass product). Produk massal dilakukan oleh para pengrajin, terdapat kelompok-kelompok perajin sebagai home industry yang banyak berkembang di beberapa wilayah Indonesia. Hal ini sebagai bagian ekonomi kerakyatan. Oleh pemerintah digolongkan pada UKM (Usaha Kecil Menengah). Pada krisis moneter 1998 UKM ini dianggap sebagai usaha yang dapat bertahan disaat terpaan krisis ketika itu. Karena, UKM berbasis pada bahan dan ketrampilan lokal, tetapi memiliki jangkauan pasar ekspor. Bahan dan tenaga kerja yang relative murah, serta perubahan merosotnya nilai tukar rupiah terhadap uang asing terutama dolar America membuat produk manufaktur berbahan non import menjadi primadona dalam ekonomi rakyat yang mampu meraih kesuksesan ketika itu.
Ketrampilan tangan yang dimiliki oleh para pengrajin yang berkecimpung dalam bidang seni kerajinan menjadi bentuk usaha seni kerajinan, mereka membuat banyak mengandalkan ketrampilan tangan yang banyak dilakukan dalam bentuk usaha keluarga. Keahlian dan ketrampilan tangan umumnya didapat sejak lama, bahkan turun-temurun. Data BPS (Badan Pusat Statistik) sebagian besar usaha tidak berbadan hukum, serta umumnya berpendidikan dasar pada tahun 2003 berjumlah 9.774.940 orang atau sekitar 65 persen. Usaha keluarga ini kemudian mampu berkembang dengan baik manakala factor produksi dan pasar berjalan seiring seimbang. Munculnya sentra seni kerajinan karena adanya market yang selalu meminta tersedianya barang-barang seni kerajinan. Dengan demikian seni kerajinan akan tumbuh subur apabila terjadi interaksi antara seni kerajinan dan pasar yang berjalan seiring seimbang. Jika salah satu terjadi kemacetan maka sebuah sentra atau usaha itu akan berhenti. Tampaknya ini adalah hukum ekonomi yang harus dilalui. Oleh karena itu munculnya sentra pasti dibarengi dengan marketnya.
Seni kerajinan berkembang dengan baik pada beberapa wilayah di Indonesia, yang terwujud dalam tumbuhnya sentra-sentra seni kerajinan. Seperti sentra seni kerajinan Keramik Kasongan, sentra seni kerajinan tenun ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) di Gamplong Sleman, sentra seni kerajinan bunga kering di Jodog Bantul, sentra kerajinan mebel Jepara, sentra kerajinan rotan di Jati Wangi Plumbon Cirebon, Trangsang Klaten, dan lain sebagainya. Wilayah sentra menjadi bentuk kegiatan UKM yang menggali dari potensi bahan dan ketrampilan lokal yang mampu menembus pasar luar negeri. Seperti yang diungkapkan oleh Soeharto Prawirokusumo, bahwa UKM mampu berkembang menjadi usaha yang tangguh dan mandiri dapat memperkuat struktur ekonomi nasional, merupakan tantangan besar yang harus diperjuangkan. Tantangan itu dipertimbangkan dengan adanya beberapa masalah yang berkembang dalam tubuh UKM dalam sentra seni kerajinan. Seperti pendanaan, manajemen, desain, dan pasar.
Memang persoalan itu sangat klasik bagi mereka, namun jika hal ini tidak diperhatikan, maka seni kerajinan yang ada mengalami penurunan-penurunan terutama saat krisis global 2008 ini. Perkembangan pasar ekspor seni kerajinan pada krisis global mengalami penurunan yang tajam, berbeda dengan krisis tahun 1998 lalu. Seni kerajinan pada tahun 1998 mengalami peningkatan yang luar biasa, sebab produk seni ini dikonsumsi oleh pasar yang sehat, sementara yang sekarat adalah kondisi ekonomi dalam negeri. Namun sekarang yang sekarat adalah pasar seni kerajinannya. Saat ini masyarakat dunia barat dalam hal ini America dan Negara-negara Eropa mengalami shock krisis ekonomi, sehingga mereka takut menginvestasikan uangnya pada kebutuhan-kebutuhan yang sifatnya skunder. Mereka lebih baik menahan uang mereka dan bersikap pasif, sehingga semua sector ekonomi di barat berhenti sejenak. Hal demikian tentu saja berpengaruh amat signifikan terhadap kondisi kehidupan seni kerajinan di Indonesia. Terutama perajin yang banyak mengekspor ke Amerika dan Eropa dipastikan kondisinya sangat menurun sebagaimana yang dikatakan Ambar Polah bahwa kondisi tahun 2008 turun sampai 50 persen jika dibandingkan tahun 2007.
Meski begitu, tetap banyak juga muncul perusahaan seni kerajinan yang dikelola secara profesional. Mereka hadir dengan penampilan yang baik dalam melakukan usaha seni kerajinan itu. Perusahaan itu tidak saja dilakukan oleh masyarakat bangsa Indonesia, namun banyak juga Perusahaan Modal Asing (PMA) yang memberi nuansa kompetisi dalam usaha seni kerajinan. Usaha-usaha itu mengalami pertumbuhan yang baik, misalnya pengusaha asing mendirikan usaha di wilayah tertentu. Bahkan sebagian mendirikan usaha melalui orang Indonesia baik sebagai partner, istri, maupun suami. Segala bentuk perijinan pun dilakukan orang Indonesia namun sebagai penggerak utama adalah orang asing itu sendiri. Ia juga memegang kendali.
Biasanya, dalam melakukan usahanya, pengusaha asing memilih secara diam-diam karena sistem perijinan yang bertele-tele dan faktor orang-orang pajak yang sering melakukan pungli dengan cara menakuti akan mendeportasi mereka. Cara tersebut tentu saja membuat pengusaha asing itu enggan menempuh usaha secara benar. Seperti pernyataan Mudrajad Kuncoro bahwa terjadi kerumitan pada aspek perijinan dan garangnya perpajakan, maka tidak sedikit pengusaha asing yang mengecilkan diri (down sizing) menjadi usaha kecil yang tidak terlalu formal. Studi Kuncoro menunjukkan adanya penyalahgunaan lembaga birokrasi, penyuapan, dan banyaknya pungli serta manipulasi data dari para pengusaha atas desakan petugas pajak. Hal itulah yang salah satunya menjadikan kegiatan usaha yang dirintis takut menjadi besar.
Namun demikian, keberadaan pengusaha ekspatriat itu menjadi partner perajin yang menjadi supplier-nya dalam memasarkan produk ke manca negara. Sebagai contoh, di wilayah Kabupaten Bantul Yogyakarta, terkenal dengan produk seni kerajinan yang banyak diperjualbelikan sebagai komoditi ekspor seperti keramik, mebel, anyam, bahan alam, dan lain sebagainya. Wilayah ini memiliki penduduk yang hampir 20 persen melakukan kegiatan membuat seni kerajinan. Hal ini menarik para investor asing yang datang dan ingin mengembangkan usaha di wilayah ini. Oleh karena itu desain-desain baru seni kerajinan selalu muncul dari Bantul dan wilayah ini cukup memiliki reputasi internasional yang baik.
Perkembangan seni kerajinan saat ini telah sampai pada kompetisi antar bangsa. Negara Cina sebagai raksasa ekspor dunia tampaknya telah banyak menguasai kebutuhan harian masyarakat dunia termasuk seni kerajinan. Demikian juga negara Vietnam, Thailand, Filipina, dan Malaysia juga telah menata sistem kerja seni kerajinannya untuk dapat bersaing dengan negara lain. Tentu telah menjadi pertimbangan tersendiri dalam perkembangan seni kerajinan, yakni tidak dapat lepas dari aspek pendekatan seni kriya. Pengembangan secara terus-menerus harus selalu dilakukan sebab persaingan dalam dunia bisnis seni kerajinan dirasa semakin ketat.
D. Seni Kriya dan Seni Kerajinan
Seni Kriya dan seni kerajinan merupakan dua wilayah yang memiliki perbedaan tipis. Seni kriya banyak menggali ekspresi pribadi yang berdasar pada sumber inspirasi dari seorang kriyawan akan ide dan gagasan yang original. Sementara seni kerajinan memiliki kekuatan kecenderungan pada produk yang dilakukan oleh banyak orang sebagai kegiatan yang bersifat home industry. Mereka berkelompok pada sebuah produksi baik secara terpisah antar rumah produksi maupun dalam suatu kelompok studio. Keduanya memiliki kekhasan yang sama, hanya saja seni kriya tidak diproduksi secara masal, ia adalah produk yang tiada duanya. Yang pertama pekerjanya disebut kriyawan, artis, seniman, maupun juga desainer (penulis lebih suka menyebut kriyawan), yang kedua disebut pengrajin yang secara rajin mereka membuat, mengulang, produk itu secara masal yang dipasarkan pada konsumen dan bersipat padat karya.
Pada saat berkesempatan berkunjung di pameran internasional Abiente di Frankfurt Jerman 2007 lalu, penulis dikejutkan dengan kenyataan pameran yang agak berbeda penampilannya yakni pada stand milik negara Vietnam. Mereka menyajikan bentuk exhibition yang dikemas apik, berkolaborasi antara kriyawan dan pengusaha seni kerajinan. Padahal pameran tersebut adalah sebuah ajang perdagangan home accessories yang hanya menyajikan produk yang ditawarkan kepada buyer untuk kegiatan ekspor dengan pasar Eropa. Namun, tampaknya Vietnam memiliki kiat yang patut dicontoh untuk menunjukan jati diri para kriyawannya yang memiliki talenta berkreasi dalam menampilkan produk baru. Ada sekitar lima belas kriyawan yang memamerkan hasil karya kriyanya. Layaknya pameran tunggal, masing-masing kriyawan men-display dengan baik pada tiap boot yang mereka tempati, tata lampunya pun baik, juga dilengkap dengan curriculum vitae, foto diri seniman, dan katalog. Penulis mencoba mencari tahu ternyata peran pemerintah Vietnam cukup besar dalam mengolaborasikan antara kriyawan yang kreatif dengan korporasi. Kriyawan menciptakan desain baru dengan prototype-nya dan pihak korporasi berperan sebagai follow up tiap produk yang mendapat respons buyer ketika bertransaksi dan memesan.
Pihak korporasi sebagai penyandang dana tentu saja disubsidi pemerintah Vietnam dalam membiayai dan menciptakan desain baru serta sekaligus mewujudkannya. Antara kriyawan dan pihak korporasi sama-sama mendapatkan keuntungan: kriyawan memperoleh pembagian keuntungan dalam bentuk royalty dan pihak korporasi mendapatkan keuntungan dengan adanya order yang berarti ada pekerjaan dalam usaha mereka. Kriyawan pun dapat mengekspresikan ide-idenya dalam membuat karya, juga menumbuhkan kepercayaan dari para kriyawan bahwa pekerjaan sebagai craft designer merupakan pekerjaan yang menguntungkan. Pihak pemerintah pun juga mendapatkan keuntungan tersendiri, terutama pajak penerimaan negara.
Nilai orisinalitas pada karya seni kriya adalah hasil kreativitas seorang kriyawan dalam menciptakan karya baru dengan menyesuaikan trend pasar yang sedang berkembang. Inovasi baru itu kemudian diproduksi secara massal sebagai barang seni kerajinan. Dengan bentuk kerjasama semacam itu, maka kriyawan dapat juga mempelajari berbagai bentuk produk karya seni kriya baru dari negara lain yang sejenis melalui info dari pihak korporasi, buyer, dan survei ketika ada pameran bersama. Produk buatan dari luar negeri sebagai kompetitor dapat dijadikan bagian sumber inspirasi pembuatan karya baru yang dipakai sebagai dasar penciptaan target pameran tahun berikutnya. Kriyawan pun akhirnya memiliki kepekaan yang baik dalam membaca pasar dari gejala-gejala yang dilihatnya. Di samping itu dapat pula mengombinasikan antara seni tradisi dengan seni modern sehingga membantu para pengrajin seni kerajinan untuk membuat produk yang memenuhi kebutuhan home accessories rumah modern saat ini. Dalam menindaklanjuti pekerjaan produksi, ternyata aspek korporasi memiliki teknologi yang baik dalam membuat produk seni kriya menjadi produk massal guna memenuhi permintaan para buyer untuk diperdagangkan ke negara manca Negara..
Bagaimana dengan di Indonesia? Peran dari berbagai lembaga swasta maupun pemerintah seperti perajin, kriyawan, pemerintah melalui Deperindagkop (Departemen Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi), dan lain sebagainya sangatlah diperlukan. Menurut penulis, bentuk pola kerjasama semacam di negara Vietnam itu sangat mungkin dilakukan di Indonesia, hanya saja sebagian dari pemangku otoritas belum begitu sadar soal pentingnya para kreator seni kriya untuk diberi peluang menampilkan karya kriya dari hasil kreativitas mereka sebagaimana yang telah dilakukan negara Vietnam tersebut. Sungguh suatu kolaborasi yang baik, bagaimana dengan kita? Mampukah seni kriya menjadi komando dalam mengeksplorasi seni kriya baru yang dapat memberikan arah perkembangan bagi seni kerajinan Indonesia secara luas?
Produk seni kerajinan dapat mengalami perubahan yang sangat cepat. Terkadang produk baru atau desain baru yang muncul belum tentu dapat dijual atau bahkan telah dianggap usang, maka produk baru tersebut harus melalui test market terlebih dahulu. Produk baru itu belum tentu laku di pasaran, meskipun laku mungkin hanya beberapa saja atau malah juga booming luar biasa. Produk semacam itu masih memerlukan langkah yang panjang untuk memperoleh kemungkinan diproduksi secara kontinyu. Memang, kenyataannya para kreator seni kriya memiliki daya kreativitas tinggi, namun sayangnya selama ini belum dapat bekerjasama dengan para perajin. Persoalan yang pelik adalah tidak adanya penghargaan yang layak terhadap para kriyawan atas jasanya dalam menciptakan produk baru. Kesadaran terhadap pentingnya produk baru dalam mendongkrak perkembangan perusahaan juga seringkali terlupakan.
Memang, selama ini antara dunia seni kriya dan seni kerajinan secara formal jarang sekali dikelola secara baik agar memiliki hubungan yang saling menguntungkan. Banyak kriyawan yang enggan berhubungan dengan para pengusaha seni kerajinan yang dianggap sebagai korporasi karena dikhawatirkan akan siap menyaplok kreativitasnya. Kriyawan merasa dirugikan. Beberapa desain yang diciptakan kemudian direproduksi oleh pengusaha itu tanpa memberikan imbalan yang layak terhadap para kriyawan. Hal inilah yang menjadi jurang pemisah antara kriyawan dan pengusaha. Memang, salah satu penyebabnya adalah pola pikir yang sangat berbeda. Kriyawan lebih berkonsentrasi pada kemampuan kesenimanannya untuk menciptakan produk baru yang sama sekali tidak mempedulikan pasar. Sementara, pengusaha orientasinya adalah keuntungan sehingga desain yang tercipta selalu dikaitkan dengan wacana pasar. Bagi pengusaha, produk yang bagus adalah produk yang laku dijual sementara bagi kriyawan produk yang bagus adalah memenuhi kriteria basic design dan kesesuaian dengan suara batin. Oleh karena itu antara kriyawan dan seni kerajinan jika digabungkan akan memiliki kekuatan yang dahsyat. Kekuatan inilah yang menjadi andalan bagi produk seni kerajinan dari Indonesia untuk memenangkan pertarungan dalam perdagangan seni kerajinan di pasar lobal. Seperti apa yang dilakukan oleh para kriyawan dari Vietnam. Mereka dapat bersatu dengan perajin. Hal itulah yang membuat Vietnam pada tahun 2005 menjadi meteor baru untuk produk seni kerajinan. Menurut Mr. Enrico, produk negara Vietnam memiliki keunikan tersendiri dan juga memiliki harga yang kompetitif. Beberapa saat lamanya, dalam lima tahun, Vietnam menjadi idola para buyer yang juga sering berkunjung ke Indonesia.
Pelajaran tentang negara Vietnam menurut penulis menjadi satu model pembinaan bagi para kriyawan dan pengrajin untuk dapat berkolaborasi dalam suatu kerjasama yang saling menguntungkan. Keuntungan dari pihak kriyawan maupun dari pihak pengrajin adalah aspek pengembangan usaha yang bisa menjadi lebih baik. Kriyawan pun dapat berekspresi dan memberi arah pada pertumbuhan seni kerajinan terutama pada konteks penciptaan produk baru.
E.Nilai Ekonomi Seni Kriya
Umumnya masyarakat memerlukan kehadiran seni kriya di dalam kehidupan mereka, terutama sebagai sarana hidup untuk mengangkat harkat dan martabatnya. Seni kriya pernah menjadi perangkat simbol status seseorang, seni kriya bisa menjadi produk industri yang memiliki nilai ekonomi, dan seni kriya juga berfungsi sebagai pemenuh kebutuhan material maupun spiritual. Meningkatnya sarana hidup, membuka peluang berkembangnya seni kriya guna menjawab berbagai kepentinygan hidup, hal itu mempunyai pengaruh kuat terhadap eksistensi dan perkembangannya. Seni kriya yang sangat lekat dengan kebutuhan hidup itu memiliki peluang dan berpotensi besar untuk dikembangkan menjadi unit usaha produksi yang bersifat industrial, sekaligus menjadi komuditas yang handal di bidang perdagangan. Hal ini terbukti banyak cabang seni kriya yang setelah melalui pembinaan serius berhasil memenuhi tuntutan pasar dan dapat meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat pendukungnya, bahkan mendatangkan devisa negara.
Betapa besarnya peran seni kriya dalam meningkatkan perekonomian masyarakat menjadikan seni kriya menjadi salah satu bidang yang banyak digarap oleh kriyawan untuk memenuhi kebutuhan desain kerajinan pada era global. Memang dalam hal ini pengelolaan tentang penciptaan desain baru masih terasa sangat kurang, kriyawan belum memiliki sensitifitas terhadap perntingnya kriya baru sebagai bagian lahan hidupnya. Dengan demikian garapan seni kriya baru akan memiliki standar ekonomi yang berbeda dengan seni kerajinan. Nilai ekonomis seni kriya menjadi sangat tinggi seperti karya seni murni. Nilai sebagai karya yang tiada duanya baik sebagai karya yang siap dipakai sebagai koleksi, maupun karya yang memang dipakai sebagai proyotype dalam dunia reproduksi seni kerajinan. Maka kedudukan seni kriya salah satunya menopang pertumbuhan usaha-usaha seni kerajinan.
Kemudian peran seni kriya ini menjadi ganda satu pihak sebagai ekspresi pribadi yang berupaya untuk merangsang pemahaman masyarakat akan produk budaya yang berupa seni, di sisi lain sebagai peran untuk mendorong kemersialisme, kegairahan ekonomi dan maraknya perdagangan antar bangsa. Seiring dengan kemajuan perkembangan seni pada umumnya, tuntan karya seni kriya untuk memunculkan kriya baru dengan bentuk baru dan karakter baru terus diupayakan oleh para kriyawan yang datang dari lulusan lembaga pendidikan maupun masyarakat umum.
Nilai ekonomis seni kriya ditentukan oleh tujuan utama seni kriya itu ditetapkan, seni kriya terlahir dari interaksi konsep, inspirasi, ide atau gagasan produk karya seni bertujuan apa yang akan diciptakan. Pertimbangan fungsional dan non fungsional menjadi penting manakala seni kriya ini akan menentukan nasibnya menjadi produk seni yang mana. Interaksi konsep disitu terjadi, kriyawan mencoba memformulasikan sumber, ide atau gagasan ke dalam sebuah konstruksi pikir yang utuh untuk tercipta bentuk yang berfungsi maupun tidak berfungsi. Berkecamuknya proses itu akan berlarut manakala telah mempertimbangkan pada interaksi perwujudan. Ide yang begitu hebat dalam proses perwujudannya tentu menemui kendala-kendala diluar rencana awal. Oleh karena itu prototype baik sebagai contoh maupun karya yang telah jadi, menjadi penentu apakah karya memiliki nilai seni yang baik atau tidak
F. Nilai Ekonomi Seni Kerajinan
Di Indonesia seni kerajinan dikerjakan pada rumah-rumah produksi (home industry) yang berskala mikro, maupun yang berkelompok sebagai sentra industri seni kerajinan. Mereka memproduksi secara manual dengan alat yang sederhana dan menonjolkan kerja dengan ketrampilan yang turun-temurun, memiliki keunikan dan karakteristik bahan maupun proses pengerjaan. Seni kerajinan ini pada perkebangannya banyak disukai oleh para konsumen dari manca negara. Oleh kerena itu seni kerajinan pada era global sangat tergantung pada situasi global pula. Umunya, pengrajin membuat seni kerajinan merupakan pesanan dari para pembeli dari manca negera, meskipun pasar dalam negeri juga cukup baik. Pasar luar negeri seperti negara-negara uni eropa ternyata mampu menumbuhkan keberlangsungan seni kerajinan ini menjadi bagian dari minat mereka. Beberapa buyer dari luar negeri sangat berminat untuk membeli dan memasarkan produk seni kerajinan ini sebagai bagian dari impornya.
Semakin meluasnya pasar seni kerajinan, ternyata juga menjadikan kompetisi semakin bertambah ketat pula. Seni kerajinan harus berlomba menampilkan produk-produk yang inovatif, original dan up to date, sehingga dapat beriringan dengan perkembangan peradaban dan ilmu pengetahuan. Produk baru dengan tampilan baru ternyata dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap keberlangsungan sebuah usaha produksi seni kerajinan. Produk baru itu memberikan semangat baru pada diri kriyawan ataupun pengrajin untuk mempelajari dengan seksama akan sebuah trend produk interior pada saat itu. Masalahnya sekarang kreatifitas seorang pengrajin tampaknya kurang, maka dukungan dai para kriyawan menjadi hal yang sangat diperlukan. Sebab produk-produk baru yang ada justru dari gambar yang dibawa oleh para konsumen mereka. Dengan demikian bargaining pasition-nya sangat lemah. Pasti nilai ekonomis sebuah produk menjadi rendah manakala mereka menganggap desain itu datang dari mereka (konsumen).
Seni kerajinan kebetulan sangat diminati konsumen manca negara, meskipun pasar dalam negeri juga potensial. Pertimbangan yag unik dan menarik dan berkarakter menjadi pertimbangan para konseumen untuk megoleksi seni kerajinan itu. Memang struktur bagan di atas hanya menunjukan interaksi ekonomis antara seni kerajinan dan pasar, namun upaya itu tentu ada persoalan-persoalan lain dalan memenuhi proses negoisasi agar supaya deal atau sepakat. Pernik-pernik itu antara lain tampilan desain seni kerajinan yang benar-benar baru. Kemampuan mereprodusi produk itu dengan satandardisasi eksport dalam kualitas dan kuantitas. Pengetahuan tata laksana ekspor, kecakapan lain dalam mendukung suksesnya negoisasi.
G. Seni Kriya dalam Ekonomi Kreatif
Dalam sebuah kelompok kerja tentu sering mendapatkan kesulitan yang memerlukan penyelesaian, pada umumnya ada salah satu atau dua orang yang berusaha dan mencoba menyelesaikan masalah itu. Bagi sebagian orang, menjadi kreatif adalah melibatkan upaya untuk tidak malu dengan ide-idenya sendiri; bagi yang lain adalah menyadari bahwa menjadi kreatif dapat dilakukan dengan banyak cara yang berbeda. Orang-orang yang sadar dan cukup percaya diri, memiliki lebih sedikit penghalang dan dapat begitu saja membiarkan sifat kreatif untuk memunculkan sebuah lahan ekonomi. Dalam hal ini sebuah konteks usaha, maka diperlukan inovasi yang umumnya dianggap sebagai penerapan dari kreatifitas. Inovasi “adalah instrumen khusus kewirausahaan.” Kesempatan inovatif terkait dengan industri atau sektor jasa khusus, yaitu: yang tidak diharapkan; yang tidak awam; kebutuhan proses; dan perubahan struktural. Juga terkait dengan lingkungan manusia dan ekonomi: demografi; perubahan persepsi, suasana hati, dan arti; dan pengetahuan baru. Kreatifitas terkait erat dengan entrepreneur seperti pada pengusaha justru mereka memiliki lebih banyak peluang untuk menggunakan bakat kreatif mereka dibandingkan dengan pegawai yang digaji. Dalam rangka mengembangkan daya kreatifitas, dibutuhkan kesempatan untuk menilai perilaku kreatifitas sendiri agar dapat mulai mempraktekkan pemikiran yang kreatif itu. Kebanyakan orang dapat memikirkan beberapa pekerjaan yang membutuhkan kreatifitas, seperti : kriyawan, seniman, musisi, penari, perancang dan ilmuwan. Meskipun demikian, kebutuhan akan kreatifitas tidak terbatas pada pekerjaan-pekerjaan ini. Ide-ide kreatif dibutuhkan dimana terdapat masalah dengan solusi yang tidak diketahui. Seperti dalam dunia seni kriya, kriyawan menggunakan kreatifitas untuk memecahkan masalah produk baru, memproduksi, dan bagaimana cara mempromosikannya.
Seni kriya merupakan salah satu dalam ekonomi kreatif itu, yaitu ide adalah suatu komediti yang dapat dieksplorasi dengan tiada habisnya. Manusia dengan akal budinya disertai kreativitas yang ditempatkan dalam lingkungan yang kondusif akan mampu menghasilkan produk-produk kreatif bernilai ekonomi. Bidang-bidang yang mencangkup dalam koridor ekonomi kreatif terdapat di dalamnya seni kriya. Kriyawan merupakan salah satu mata rantai penting industri seni kerajinan. Hal ini dapat dilihat pada sentral-sentral seni kerajinan di Bali, Yogyakarta dan daerah lain sebagai kantong-kantong seni kerajinan. Hal ini telah menjadi bagian penting sebab mata rantai kunjungan wisata baik dari dalam dan manca negara telah ikut membuat wilayah-wilayah penghasil seni kerajinan itu menjadi berkembang. Untuk itu seni kriya sebagai awal munculnya seni kerajinan memegang peran yang utama terutama dalam menciptakan produk baru sesuai dengan target pasar yang akan dicapai. Dapat dilihat bahwa belanja seni ketrajinan seperti souvenir saja di Bali menjadi motivasi utama sebagai sasaran pembeli mencapai yakni 30-40% dari akibat interaksi langsung dari kunjungan wisatawan atau pembelian retail, sementara 60-70% adalah produk ekspor (wholesale) pada tahun 2009.
Produk-produk kriya telah menjadi elemen penunjang interior dan eksterior fasilitas kepariwisataan (hotel, rumah makan, taman kota, pusat Spa, kesehatan, dan sebagainya) di kota-kota di Indonesia maupun di luar negeri. Melihat potensi kekayaan seni kriya Indonesia yang begitu tinggi menjadi sangat penting untuk dikembangkan menjadi kontributor utama dalam era ekonomi kreatif. Karena dari semua ekonomi kreatif yang ada seni kriya tidak tergantung pada teknologi tinggi baik perangkat keras maupun perangkat lunak yang mahal harganya. Seni kriya sangat sesuai dengan kondisi sosial budaya Indonesia dan dapat mendorong penigkatan ekonomi kerakyatan. Industri kriya dapat dikembangkan secara padat karya sehingga dapat memberikan pekerjaan kepada masyarakat. Makin menyusutnya sumber daya alam diperlukan suatu kearifan dalam mengolah alam dan cara-cara lain untuk memutar roda perekonomian bangsa Indonesia. Salah satu cara yaitu menerapkan ekonomi kreatif sebagai sumber perekonomian. Pengembangan seni kriya dapat dijadikan suatu model ekonomi kreatif di Indonesia. Seni kriya dapat dilakukan dengan memanfaatkan materi dari alam maupun sentetis. Dengan eksplorasinya material dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin bahkan dari limbah sekalipun dapat dihasilkan produk kriya.
Tentu kreatifitas dalam seni kriya tidak saja bagaimana menciptakan karya yang hebat belaka, namun aspek lain sebagai pendukung tentu tidak bisa ditinggalkan. Aspek tersebut meliputi hal-hal yang berkaitan dengan langkah lebih lanjut, seperti perlakukan barang pada saat mendisplay, sumber daya manusia dalam menjaga kesetabilan produk, dan bagaimana mengupayakan agar barang dapat diapresiasi oleh konsumen. Kriyawan seringkali kurang memperhatikan display produk untuk menarik konsumen (produk kebanyakan ditata seadanya). Seringkali ditemukan, bahwa kemasan produk kriya untuk ritail masih rendah, belum memperhatikan unsur kemudahan, keamanan, estetika, yang bisa meningkatkan nilai jual produk. Interaksi dengan industri sekala besar/ekspor dan permintaan pasar menjadikan bentuk dan ragam hias produk lokal banyak dipengaruhi oleh unsur luar, sehingga kehilangan kekhasannya. Sebelum berbicara pasar, harus dilihat terlebih dahulu sejauh mana daya saing produk seni kriya Indonesia di pasar domestik maupun internasional. Ada beberapa masalah menyangkut daya saing produk kriya Indonesia antara lain: masalah disain, masalah Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dan masalah pemasaran.
H. Penutup
Seni Kriya telah menjadi bagian penting dalam mengembangkan perekonomian rakyat yang sarat dengan lokalitas baik bahan mamupun sumber daya manusianya. Pengembangan kreatifitas pada generasi muda menjadi penting agar kekayaan alam dan budaya bangsa Indonesia yang melimpah dapat dieksplorasi, dikembangkan, dan dipasarkan. Apalagi munculnya sistem perdagangan internasional yang kian ketat dalam persaingan. Perdagangan bebas ASEAN misalnya, sudah diputuskan berlaku 1 Januari 2010. Cina dipastikan bergabung, lewat apa yang disebut dengan Asean Cina Free Trade Agreement atau ACFTA. Masuknya Cina dalam perdagangan bebas Asean ini meresahkan kalangan produsen dalam negeri terutama tekstil dalam negeri, karena bisa dipastikan semua produk Cina bebas masuk ke pasar Asean, termasuk Indonesia. Para produsen pesimis produk mereka akan mampu bersaing dengan produk Cina yang harganya jauh lebih murah.
Nah bagaimana dengan langkah seni kriya sebagai salah satu pendukung ekonomi kreatif? Kreatifitas memegang peran yang penting agar agar mencapai kemenangan dalam persaingan global itu.
Demikian ada kesalahan mohon maaf…nuwun.
I. Kepustakaan
“Design Meet Artisan” Craft Revival Trust, Artesanfas de Columbia S.A., Unesco, 2005.
Adler Haymans Manurung, Wirausaha Bisnis Usaha Kecil Menegah, Penerbit Buku Kompas, Jakarta, 2006.
Enrico Vacetti, importir dari Karu, Milano, Italia. Wawancara pada tanggal 20 November 2008 di Kasongan Yogyakarta.
Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi kedua, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Balai Pustaka, Jakarta, 1996.
Mudrajad Kuncoro, Ekonomi Industri Indonesia Menuju Negara Industri Baru 2030?, Penerbit Andi Yogyakarta, Yogyakarta, 2007.
Soeharto Prawirokusumo, Ekonomi Rakyat (Kinsep, Kebijakan, dan Strategi), Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 2001.
SP. Gustami 1991, Seni Kriya Indonesia Dilema Pembinaan dan Pengembangannya, Jurnal Seni, Edisi 1/03 Oktober, BP. ISI. Yogyakarta.
Tika Nurjaya (ed.), Usaha Kecil Indonesia Tinjauan Tahun 2002 dan Prospek Tahun 2003, Indonesia Small Business Research. P. XX.
Wawancara dengan Ambar Polah pada tanggal 29 November 2008 di kantor Asmindo Yogyakarta jam 11.00 WIB.
Tentang Penulis:
Dr. Timbul Raharjo, M. Hum.
Lahir di Kasongan Bantul Yogyakarta, 8 November 1969. Lulusan Program Doktor di Universitas Gadjah Mada tahun 2008. Sejak tahun 1993 mengajar di Institut Seni Indonesia Yogyakarta Jurusan Seni Kriya, khususnya Seni Keramik. Tahun 2007 mendapat anugerah Upakarti dari Presiden Republik Indonesia. Menjadi perajin keramik sejak tahun 1996. Produk keramiknya diekspor ke beberapa negara Eropa, Australia, Canada, Korea. Dan lain sebagainya.
Pada kesempatan yang baik ini penulis menekankan pada persoalan seni kriya yang dikaitkan dengan seni kerajinan, sebab terdapat kerancuan atas keduanya, apalagi jika kita berbicara yang lebih lebar yakni seni rupa, sebab seni kriya dan seni kerajinan merupakan bagian dari ranting pohon seni rupa. Pemahaman tentang seni kriya maupun seni rupa dalam dunia kreatifitas mungkin berbeda namun subtansinya sama. Ruang lingkup seni kriya dan seni kerajinan ini sebenarnya telah menjadi harapan nasional terkait dengan eksplorasi kreatifitas berbasis pada melimpahnya sumber daya alam dan sumber daya manusia bangsa Indonesia, secara prinsip dapat menjawab persoalan seni rupa juga. Dalam hal ini untuk memberikan kejelasan tugas dan fungsi dari seni kriya dan seni kerajinan perlu serba sedikit penulis sampaikan sebagai dasar pemahamannya. Oleh kerena penulis adalah pelaku dalam bidang penciptaan seni kriya dan usaha seni kerajinan, maka penulis benyak menyampaikan pengalaman-pengalaman yang bersifat praktik.
Beberapa hari yang lalu seorang bule marah-marah dengan seorang pengrajin, pasalnya si pengrajin telah memproduksi barang sampelnya dan dipajang di depan rumah si pengrajinan yang difungsikan juga sebagai showroom. Si bule marah karena barang sampelnya takut terjiplak oleh pengrajin lain atau terbeli bule lain yang dikawatirkan merusak pasar si bule itu. Si pengrajin berdalih contoh terlalu lama tidak diambil dan tidak di-order, dari pada tidak laku mending dijual saja, kata si pengrajin. Pengrajin juga tahu bahwa desain milik si bule adalah hasil dari ia memfoto di suatu pameran, ia menganggap itu bukan original desain milik si bule. Sementara itu ada seorang yang datang dengan muka kusut, berpakaian lusuh, dan berambut gimbal sepertinya beberapa hari tidak mandi ia mengaku sebagai kriyawan, tampak juga ikut nimbrung dan kesal dengan si pengrajin dan si bule, pasalnya karya yang mereka persoalkan adalah karya ciptaan si kriyawan itu. Situasi menjadi rumit sebab si kriyawan juga tidak punya bukti jika karya itu rancangan dia. Mereka bertengkar mempersoalkan legal formalnya sebuah karya yang mereka perebutkan sebagai hak siapa. Mata rantainya kemudian dapat dilihat siapa yang rekoso(susah) dan siapa yang mulyo (enak) Kriyawan yang menghasilkan barang adalah sebagai kreator karya seni kriya yang mungkin tetap miskin, si pengrajin sebagai pereproduksi saja bisa jadi kaya, dan si bule salah satu pemegang pasar yang bisa kaya-raya. Kriyawan merasa kreatifitasnya tidak ada yang menghargai bahkan merasa dicuri, pengrajin senang karena mendapat order, dan si bule gembira sebab bisnisnya akan lestari manakala produk yang ditawarkan new design dapat diterima pasar dengan baik.
Pemahaman peran dan fungsi dari masing-masing elemen yang berkecimpung dalam dinamika seni kriya menemukan jalur jalan masing-masing sesuai dengan porsinya. Oleh karena itu nilai-nilai dalam seni kriya dapat diuraikan sebagai dasar pemahaman itu. Tentu persoalan yang rumit antara kriyawan, pengrajin, dan konsumen tidak akan terjadi jika ada kesadaran menempatkan diri dengan baik. Nilai-nilai seni kriya kemudian dapat dijabarkan dalam persoalan ketiga hal tersebut, apalagi seni kriya telah menjadi salah satu preoritas nasional dalam menumbuhkan sifat kreatif pada generasi muda melalui jalur edukasi hampir di seluruh wilayah Indonesia. Dorongan kreatifitas dalam mencipta seni kriya, dorongan untuk memberdayakan alam dan manusia dalam sebuah kegiatan usaha, dan tentu dorongan untuk membentuk jaringan pasar terhadap hasil kreatifitas itu agar berdaya guna diterima oleh para konsumen. Hal medorong inilah menjadi tugas kita bersama.
B.Seni Kriya
Sejalan dengan perkembangan zaman dan tuntutan masyarakat, khususnya perkembangan seni rupa, batasan tentang seni kriya mengalami perubahan dan perkembangan. Bahkan batasan tersebut sering tumpang-tindih dengan bidang seni rupa murni dan disain. Penulis mencoba untuk memberi definisi secara umum tentang batasan seni kriya, yaitu salah satu bentuk produk seni rupa, fungsional atau non fungsional, yang mengutamakan pada nilai-nilai dekoratif dan kerja tangan dengan craftmanship tinggi, pada umumnya menggali nilai-nilai tradisi yang bersifat unik. Definisi ini tampaknya memberi longgar pada jenis produk yang dituju bisa lebih luwes, karena semua produk sejenis itu bisa terangkum dalam definisi ini, dari souvenir perkawinan sampai pada jenis patung yang berukuran besar. Berdasarkan definisi tersebut, maka kajian seni kriya dapat diperhitungkan lebih luas, tidak hanya diklasifikasikan dari aspek fungsinya saja, tetapi juga aspek lainnya. Tampaknya kekumplitan jangkauan seni kriya dapat menjadi lebih luwes dan menyeluruh, keunikan yang muncul dari gerak ornamentasi dan bentuk memberikan keunikan tersendiri terutama pada karakter setiap karya yang dihasilkan. Aspek estetika dengan tampilan tigadimensional maupun dua dimensional membawa kedalaman, efek, bentuk yang lebih visual dalam sebuah unsure relief ukiran, goresan ornamentasi memberikan kompleksitas teknologi dan material yang ternyata tidak terbatas. Memang kecenderungan saat ini adalah media bukan persoalan yang signifikan namun idea menjadi panglima dalam menciptakan sebuah karya seni kriya. Idea yang kreatif inovatif dengan mengangkat isu-isu yang sedang berkembang seni kriya mengikuti perkembangan zaman.
Seni kriya merupakan salah satu cabang seni rupa yang memiliki akar kuat, yakni nilai tradisi yang bermutu tinggi atau bernilai adhilung. Sebab pada masa lampau, para kriyawan keraton menghasilkan karya seni dengan ketekunan dan konsep filosofi tinggi memberikan legitimasi pada produk seni kriya tempo dulu. Konsep itu termasuk pola pikir metafisis yang mengandung muatan nilai-nilai spiritual, religius, serta magis. Kesadaran kolektif terhadap lingkungan alam, solidaritas yang tinggi dan didukung oleh tatanan budaya tradisional yang ternyata telah menghasilkan seni kriya yang berkualitas adhiluhung mencerminkan jiwa zaman. Seluruh kehidupan batin manusia yang terjadi dari perasaan, pikiran, angan-angan pada masa dari sebuah budaya berlangsung. Jiwa zaman ini memberikan letupan-letupan semangat berkarya pada masing-masing jiwa pendukungnya. Oleh karena itu ke-adhiluhungan-nya adalah sebuah karya yang kemudian diukur dari siapa pendukung dan siapa penikmatnya. Sebab pada zaman kerajaan membedakan strata masyarakat ningrat dan rakyat biasa, sehingga keduanya memiliki test (selera) yang berbeda dan secara formal maupun non formal rakyat ditabukan untuk memiliki atau memakai produk yang mirip dengan apa yag ada di keraton. Nah inilah yang kemudian membedakan sumber wilayah munculnya seni kriya yakni karya yang dihasilkan dari jeronbetèng (dalam keraton), jabanbetèng (luar keraton) dan bahkan pesisiran (pantai). Tentu adhiluhung selalu dikaitkan dengan apapun karya-karya yang berada di keraton, sebab memang karya-karya kriya yang berada di dalam keraton memiliki legitimasi tersendiri sehingga sangat di sakralkan dan diagungkan, maka banyak orang menganggap adhiluhung karena dari keraton. Lain halnya dengan karya yang dibuat oleh jaban keraton dianggap sebagai karya rakyat jelata yang bersifat profan dan tanpa memiliki makna yang luhur atau adiluhung itu. Maksud adhiluhung pada masa sekarang telah berbeda dengan adanya Negara Kesatuan Republik Indonesia, bukan kerajaan lagi, maka pemerintah Indonesia melindungi bentuk-bentuk kebudayaan tradisi yang telah berakar kuat dan menjadi trademark daerah tertentu atau wilayah tertentu, yang memiliki ciri khas tersendiri sebagai bagian dari seni tradisi, misalnya seni ukir Jepara, seni batik Yogya-Solo, motif Dayak, keris, dan lain sebagainya. Artefac yang ada memiliki nilai tersendiri dari sebuah bagian dari kreatifitas lokal pada komonitas pengrajin maupun karya yang secara mentradisi berada dalam sebuah lingkup kerajaan. Dengan demikian adhiluhing juga memiliki kekuatan sebagai karya yang telah didukung oleh masyarakatnya.
Adapun pembedaan siapa pengguna dari produk kriya itu tergantung pada sebuah komonitas pengguna. Pertama adalah karya seni kriya yang dibuat sebagai pengabdian terhadap dewa-raja yang secara tekun dikerjakan agar kemakmuran dan kebahagiaan hidupnya terlindungi dengan memberikan/membuat karya yang baik, maka sang Dewa akan merasa senang dan memberikan ketentraman dan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Kedua adalah pengguna dengan tingkat ekonomi lebih baik yang dapat mengapresiasi seni kriya itu menjadi bagian gaya hidup mereka akan trend seni, pastilah seni yang dihasilkan memiliki nilai yang tinggi, bahkan pada masa sekarang karya yang dikoleksi oleh orang “berduit” ini luar biasa nilainya dapat melampaui koleksi karya-karya yang dimiliki keraton. Ketiga pengguna pada strata menengah ke bawah, tentu mereka hanya mampu mengoleksi dan mengapresiasi yang menyesuaikan dengan tingkat ekonomi mereka, sehingga produknya pasti menyesuaikan dengan kemampuan kantongnya. Maka munculnya jenis seni rupa tradisi keraton pada masa lalu itu tentu lahir dari unsur strata kelas masyarakat yang di dasarkan pada kasta-kasta, kasta bendoro, priyayi, dan petani. Kasta bendoro lebih banyak berada di dalam keraton sehingga keraton memiliki tempat yang paling terhormat.
Karya seni kriya yang adhiluhung kemudian menjadi sangat sepesial bagi pihak keraton, sebab seni kriya jenis ini memiliki keunikan tersendiri atas sebuah karya yang diciptakan untuk persembahan kepada dewa-raja. Nilai pengabdian yang luar biasa yang dapat mempengaruhi seluruh hidup mati, kebahagiaan, kesengsaraan, kemakmuran, dan lain sebagainya. Ekspresi kepada dewanya inilah yang mampu menggetarkan hati si kriyawan untuk menciptakan karya terbaik. Ekspresi demikian tampaknya hadir dalam penciptaan seni kriya masa kini meskipun bukan berkarya untuk tuhannya, namun luapan jiwa untuk menghadirkan gubahan karya kriya menjadi pangikat semangat berkarya.
C. Seni Kerajinan
Kerajinan suatu hal yang rajin, kegiatan, kegetolan, barang yang dihasilkan melalui ketrampilan tangan. Umumnya barang kerajinan banyak dikaitkan dengan unsure seni, yang kemudian disebut seni kerajinan. Seni kerajinan adalah implementasi dari karya seni kriya yang telah diproduksi secara masal (mass product). Produk massal dilakukan oleh para pengrajin, terdapat kelompok-kelompok perajin sebagai home industry yang banyak berkembang di beberapa wilayah Indonesia. Hal ini sebagai bagian ekonomi kerakyatan. Oleh pemerintah digolongkan pada UKM (Usaha Kecil Menengah). Pada krisis moneter 1998 UKM ini dianggap sebagai usaha yang dapat bertahan disaat terpaan krisis ketika itu. Karena, UKM berbasis pada bahan dan ketrampilan lokal, tetapi memiliki jangkauan pasar ekspor. Bahan dan tenaga kerja yang relative murah, serta perubahan merosotnya nilai tukar rupiah terhadap uang asing terutama dolar America membuat produk manufaktur berbahan non import menjadi primadona dalam ekonomi rakyat yang mampu meraih kesuksesan ketika itu.
Ketrampilan tangan yang dimiliki oleh para pengrajin yang berkecimpung dalam bidang seni kerajinan menjadi bentuk usaha seni kerajinan, mereka membuat banyak mengandalkan ketrampilan tangan yang banyak dilakukan dalam bentuk usaha keluarga. Keahlian dan ketrampilan tangan umumnya didapat sejak lama, bahkan turun-temurun. Data BPS (Badan Pusat Statistik) sebagian besar usaha tidak berbadan hukum, serta umumnya berpendidikan dasar pada tahun 2003 berjumlah 9.774.940 orang atau sekitar 65 persen. Usaha keluarga ini kemudian mampu berkembang dengan baik manakala factor produksi dan pasar berjalan seiring seimbang. Munculnya sentra seni kerajinan karena adanya market yang selalu meminta tersedianya barang-barang seni kerajinan. Dengan demikian seni kerajinan akan tumbuh subur apabila terjadi interaksi antara seni kerajinan dan pasar yang berjalan seiring seimbang. Jika salah satu terjadi kemacetan maka sebuah sentra atau usaha itu akan berhenti. Tampaknya ini adalah hukum ekonomi yang harus dilalui. Oleh karena itu munculnya sentra pasti dibarengi dengan marketnya.
Seni kerajinan berkembang dengan baik pada beberapa wilayah di Indonesia, yang terwujud dalam tumbuhnya sentra-sentra seni kerajinan. Seperti sentra seni kerajinan Keramik Kasongan, sentra seni kerajinan tenun ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) di Gamplong Sleman, sentra seni kerajinan bunga kering di Jodog Bantul, sentra kerajinan mebel Jepara, sentra kerajinan rotan di Jati Wangi Plumbon Cirebon, Trangsang Klaten, dan lain sebagainya. Wilayah sentra menjadi bentuk kegiatan UKM yang menggali dari potensi bahan dan ketrampilan lokal yang mampu menembus pasar luar negeri. Seperti yang diungkapkan oleh Soeharto Prawirokusumo, bahwa UKM mampu berkembang menjadi usaha yang tangguh dan mandiri dapat memperkuat struktur ekonomi nasional, merupakan tantangan besar yang harus diperjuangkan. Tantangan itu dipertimbangkan dengan adanya beberapa masalah yang berkembang dalam tubuh UKM dalam sentra seni kerajinan. Seperti pendanaan, manajemen, desain, dan pasar.
Memang persoalan itu sangat klasik bagi mereka, namun jika hal ini tidak diperhatikan, maka seni kerajinan yang ada mengalami penurunan-penurunan terutama saat krisis global 2008 ini. Perkembangan pasar ekspor seni kerajinan pada krisis global mengalami penurunan yang tajam, berbeda dengan krisis tahun 1998 lalu. Seni kerajinan pada tahun 1998 mengalami peningkatan yang luar biasa, sebab produk seni ini dikonsumsi oleh pasar yang sehat, sementara yang sekarat adalah kondisi ekonomi dalam negeri. Namun sekarang yang sekarat adalah pasar seni kerajinannya. Saat ini masyarakat dunia barat dalam hal ini America dan Negara-negara Eropa mengalami shock krisis ekonomi, sehingga mereka takut menginvestasikan uangnya pada kebutuhan-kebutuhan yang sifatnya skunder. Mereka lebih baik menahan uang mereka dan bersikap pasif, sehingga semua sector ekonomi di barat berhenti sejenak. Hal demikian tentu saja berpengaruh amat signifikan terhadap kondisi kehidupan seni kerajinan di Indonesia. Terutama perajin yang banyak mengekspor ke Amerika dan Eropa dipastikan kondisinya sangat menurun sebagaimana yang dikatakan Ambar Polah bahwa kondisi tahun 2008 turun sampai 50 persen jika dibandingkan tahun 2007.
Meski begitu, tetap banyak juga muncul perusahaan seni kerajinan yang dikelola secara profesional. Mereka hadir dengan penampilan yang baik dalam melakukan usaha seni kerajinan itu. Perusahaan itu tidak saja dilakukan oleh masyarakat bangsa Indonesia, namun banyak juga Perusahaan Modal Asing (PMA) yang memberi nuansa kompetisi dalam usaha seni kerajinan. Usaha-usaha itu mengalami pertumbuhan yang baik, misalnya pengusaha asing mendirikan usaha di wilayah tertentu. Bahkan sebagian mendirikan usaha melalui orang Indonesia baik sebagai partner, istri, maupun suami. Segala bentuk perijinan pun dilakukan orang Indonesia namun sebagai penggerak utama adalah orang asing itu sendiri. Ia juga memegang kendali.
Biasanya, dalam melakukan usahanya, pengusaha asing memilih secara diam-diam karena sistem perijinan yang bertele-tele dan faktor orang-orang pajak yang sering melakukan pungli dengan cara menakuti akan mendeportasi mereka. Cara tersebut tentu saja membuat pengusaha asing itu enggan menempuh usaha secara benar. Seperti pernyataan Mudrajad Kuncoro bahwa terjadi kerumitan pada aspek perijinan dan garangnya perpajakan, maka tidak sedikit pengusaha asing yang mengecilkan diri (down sizing) menjadi usaha kecil yang tidak terlalu formal. Studi Kuncoro menunjukkan adanya penyalahgunaan lembaga birokrasi, penyuapan, dan banyaknya pungli serta manipulasi data dari para pengusaha atas desakan petugas pajak. Hal itulah yang salah satunya menjadikan kegiatan usaha yang dirintis takut menjadi besar.
Namun demikian, keberadaan pengusaha ekspatriat itu menjadi partner perajin yang menjadi supplier-nya dalam memasarkan produk ke manca negara. Sebagai contoh, di wilayah Kabupaten Bantul Yogyakarta, terkenal dengan produk seni kerajinan yang banyak diperjualbelikan sebagai komoditi ekspor seperti keramik, mebel, anyam, bahan alam, dan lain sebagainya. Wilayah ini memiliki penduduk yang hampir 20 persen melakukan kegiatan membuat seni kerajinan. Hal ini menarik para investor asing yang datang dan ingin mengembangkan usaha di wilayah ini. Oleh karena itu desain-desain baru seni kerajinan selalu muncul dari Bantul dan wilayah ini cukup memiliki reputasi internasional yang baik.
Perkembangan seni kerajinan saat ini telah sampai pada kompetisi antar bangsa. Negara Cina sebagai raksasa ekspor dunia tampaknya telah banyak menguasai kebutuhan harian masyarakat dunia termasuk seni kerajinan. Demikian juga negara Vietnam, Thailand, Filipina, dan Malaysia juga telah menata sistem kerja seni kerajinannya untuk dapat bersaing dengan negara lain. Tentu telah menjadi pertimbangan tersendiri dalam perkembangan seni kerajinan, yakni tidak dapat lepas dari aspek pendekatan seni kriya. Pengembangan secara terus-menerus harus selalu dilakukan sebab persaingan dalam dunia bisnis seni kerajinan dirasa semakin ketat.
D. Seni Kriya dan Seni Kerajinan
Seni Kriya dan seni kerajinan merupakan dua wilayah yang memiliki perbedaan tipis. Seni kriya banyak menggali ekspresi pribadi yang berdasar pada sumber inspirasi dari seorang kriyawan akan ide dan gagasan yang original. Sementara seni kerajinan memiliki kekuatan kecenderungan pada produk yang dilakukan oleh banyak orang sebagai kegiatan yang bersifat home industry. Mereka berkelompok pada sebuah produksi baik secara terpisah antar rumah produksi maupun dalam suatu kelompok studio. Keduanya memiliki kekhasan yang sama, hanya saja seni kriya tidak diproduksi secara masal, ia adalah produk yang tiada duanya. Yang pertama pekerjanya disebut kriyawan, artis, seniman, maupun juga desainer (penulis lebih suka menyebut kriyawan), yang kedua disebut pengrajin yang secara rajin mereka membuat, mengulang, produk itu secara masal yang dipasarkan pada konsumen dan bersipat padat karya.
Pada saat berkesempatan berkunjung di pameran internasional Abiente di Frankfurt Jerman 2007 lalu, penulis dikejutkan dengan kenyataan pameran yang agak berbeda penampilannya yakni pada stand milik negara Vietnam. Mereka menyajikan bentuk exhibition yang dikemas apik, berkolaborasi antara kriyawan dan pengusaha seni kerajinan. Padahal pameran tersebut adalah sebuah ajang perdagangan home accessories yang hanya menyajikan produk yang ditawarkan kepada buyer untuk kegiatan ekspor dengan pasar Eropa. Namun, tampaknya Vietnam memiliki kiat yang patut dicontoh untuk menunjukan jati diri para kriyawannya yang memiliki talenta berkreasi dalam menampilkan produk baru. Ada sekitar lima belas kriyawan yang memamerkan hasil karya kriyanya. Layaknya pameran tunggal, masing-masing kriyawan men-display dengan baik pada tiap boot yang mereka tempati, tata lampunya pun baik, juga dilengkap dengan curriculum vitae, foto diri seniman, dan katalog. Penulis mencoba mencari tahu ternyata peran pemerintah Vietnam cukup besar dalam mengolaborasikan antara kriyawan yang kreatif dengan korporasi. Kriyawan menciptakan desain baru dengan prototype-nya dan pihak korporasi berperan sebagai follow up tiap produk yang mendapat respons buyer ketika bertransaksi dan memesan.
Pihak korporasi sebagai penyandang dana tentu saja disubsidi pemerintah Vietnam dalam membiayai dan menciptakan desain baru serta sekaligus mewujudkannya. Antara kriyawan dan pihak korporasi sama-sama mendapatkan keuntungan: kriyawan memperoleh pembagian keuntungan dalam bentuk royalty dan pihak korporasi mendapatkan keuntungan dengan adanya order yang berarti ada pekerjaan dalam usaha mereka. Kriyawan pun dapat mengekspresikan ide-idenya dalam membuat karya, juga menumbuhkan kepercayaan dari para kriyawan bahwa pekerjaan sebagai craft designer merupakan pekerjaan yang menguntungkan. Pihak pemerintah pun juga mendapatkan keuntungan tersendiri, terutama pajak penerimaan negara.
Nilai orisinalitas pada karya seni kriya adalah hasil kreativitas seorang kriyawan dalam menciptakan karya baru dengan menyesuaikan trend pasar yang sedang berkembang. Inovasi baru itu kemudian diproduksi secara massal sebagai barang seni kerajinan. Dengan bentuk kerjasama semacam itu, maka kriyawan dapat juga mempelajari berbagai bentuk produk karya seni kriya baru dari negara lain yang sejenis melalui info dari pihak korporasi, buyer, dan survei ketika ada pameran bersama. Produk buatan dari luar negeri sebagai kompetitor dapat dijadikan bagian sumber inspirasi pembuatan karya baru yang dipakai sebagai dasar penciptaan target pameran tahun berikutnya. Kriyawan pun akhirnya memiliki kepekaan yang baik dalam membaca pasar dari gejala-gejala yang dilihatnya. Di samping itu dapat pula mengombinasikan antara seni tradisi dengan seni modern sehingga membantu para pengrajin seni kerajinan untuk membuat produk yang memenuhi kebutuhan home accessories rumah modern saat ini. Dalam menindaklanjuti pekerjaan produksi, ternyata aspek korporasi memiliki teknologi yang baik dalam membuat produk seni kriya menjadi produk massal guna memenuhi permintaan para buyer untuk diperdagangkan ke negara manca Negara..
Bagaimana dengan di Indonesia? Peran dari berbagai lembaga swasta maupun pemerintah seperti perajin, kriyawan, pemerintah melalui Deperindagkop (Departemen Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi), dan lain sebagainya sangatlah diperlukan. Menurut penulis, bentuk pola kerjasama semacam di negara Vietnam itu sangat mungkin dilakukan di Indonesia, hanya saja sebagian dari pemangku otoritas belum begitu sadar soal pentingnya para kreator seni kriya untuk diberi peluang menampilkan karya kriya dari hasil kreativitas mereka sebagaimana yang telah dilakukan negara Vietnam tersebut. Sungguh suatu kolaborasi yang baik, bagaimana dengan kita? Mampukah seni kriya menjadi komando dalam mengeksplorasi seni kriya baru yang dapat memberikan arah perkembangan bagi seni kerajinan Indonesia secara luas?
Produk seni kerajinan dapat mengalami perubahan yang sangat cepat. Terkadang produk baru atau desain baru yang muncul belum tentu dapat dijual atau bahkan telah dianggap usang, maka produk baru tersebut harus melalui test market terlebih dahulu. Produk baru itu belum tentu laku di pasaran, meskipun laku mungkin hanya beberapa saja atau malah juga booming luar biasa. Produk semacam itu masih memerlukan langkah yang panjang untuk memperoleh kemungkinan diproduksi secara kontinyu. Memang, kenyataannya para kreator seni kriya memiliki daya kreativitas tinggi, namun sayangnya selama ini belum dapat bekerjasama dengan para perajin. Persoalan yang pelik adalah tidak adanya penghargaan yang layak terhadap para kriyawan atas jasanya dalam menciptakan produk baru. Kesadaran terhadap pentingnya produk baru dalam mendongkrak perkembangan perusahaan juga seringkali terlupakan.
Memang, selama ini antara dunia seni kriya dan seni kerajinan secara formal jarang sekali dikelola secara baik agar memiliki hubungan yang saling menguntungkan. Banyak kriyawan yang enggan berhubungan dengan para pengusaha seni kerajinan yang dianggap sebagai korporasi karena dikhawatirkan akan siap menyaplok kreativitasnya. Kriyawan merasa dirugikan. Beberapa desain yang diciptakan kemudian direproduksi oleh pengusaha itu tanpa memberikan imbalan yang layak terhadap para kriyawan. Hal inilah yang menjadi jurang pemisah antara kriyawan dan pengusaha. Memang, salah satu penyebabnya adalah pola pikir yang sangat berbeda. Kriyawan lebih berkonsentrasi pada kemampuan kesenimanannya untuk menciptakan produk baru yang sama sekali tidak mempedulikan pasar. Sementara, pengusaha orientasinya adalah keuntungan sehingga desain yang tercipta selalu dikaitkan dengan wacana pasar. Bagi pengusaha, produk yang bagus adalah produk yang laku dijual sementara bagi kriyawan produk yang bagus adalah memenuhi kriteria basic design dan kesesuaian dengan suara batin. Oleh karena itu antara kriyawan dan seni kerajinan jika digabungkan akan memiliki kekuatan yang dahsyat. Kekuatan inilah yang menjadi andalan bagi produk seni kerajinan dari Indonesia untuk memenangkan pertarungan dalam perdagangan seni kerajinan di pasar lobal. Seperti apa yang dilakukan oleh para kriyawan dari Vietnam. Mereka dapat bersatu dengan perajin. Hal itulah yang membuat Vietnam pada tahun 2005 menjadi meteor baru untuk produk seni kerajinan. Menurut Mr. Enrico, produk negara Vietnam memiliki keunikan tersendiri dan juga memiliki harga yang kompetitif. Beberapa saat lamanya, dalam lima tahun, Vietnam menjadi idola para buyer yang juga sering berkunjung ke Indonesia.
Pelajaran tentang negara Vietnam menurut penulis menjadi satu model pembinaan bagi para kriyawan dan pengrajin untuk dapat berkolaborasi dalam suatu kerjasama yang saling menguntungkan. Keuntungan dari pihak kriyawan maupun dari pihak pengrajin adalah aspek pengembangan usaha yang bisa menjadi lebih baik. Kriyawan pun dapat berekspresi dan memberi arah pada pertumbuhan seni kerajinan terutama pada konteks penciptaan produk baru.
E.Nilai Ekonomi Seni Kriya
Umumnya masyarakat memerlukan kehadiran seni kriya di dalam kehidupan mereka, terutama sebagai sarana hidup untuk mengangkat harkat dan martabatnya. Seni kriya pernah menjadi perangkat simbol status seseorang, seni kriya bisa menjadi produk industri yang memiliki nilai ekonomi, dan seni kriya juga berfungsi sebagai pemenuh kebutuhan material maupun spiritual. Meningkatnya sarana hidup, membuka peluang berkembangnya seni kriya guna menjawab berbagai kepentinygan hidup, hal itu mempunyai pengaruh kuat terhadap eksistensi dan perkembangannya. Seni kriya yang sangat lekat dengan kebutuhan hidup itu memiliki peluang dan berpotensi besar untuk dikembangkan menjadi unit usaha produksi yang bersifat industrial, sekaligus menjadi komuditas yang handal di bidang perdagangan. Hal ini terbukti banyak cabang seni kriya yang setelah melalui pembinaan serius berhasil memenuhi tuntutan pasar dan dapat meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat pendukungnya, bahkan mendatangkan devisa negara.
Betapa besarnya peran seni kriya dalam meningkatkan perekonomian masyarakat menjadikan seni kriya menjadi salah satu bidang yang banyak digarap oleh kriyawan untuk memenuhi kebutuhan desain kerajinan pada era global. Memang dalam hal ini pengelolaan tentang penciptaan desain baru masih terasa sangat kurang, kriyawan belum memiliki sensitifitas terhadap perntingnya kriya baru sebagai bagian lahan hidupnya. Dengan demikian garapan seni kriya baru akan memiliki standar ekonomi yang berbeda dengan seni kerajinan. Nilai ekonomis seni kriya menjadi sangat tinggi seperti karya seni murni. Nilai sebagai karya yang tiada duanya baik sebagai karya yang siap dipakai sebagai koleksi, maupun karya yang memang dipakai sebagai proyotype dalam dunia reproduksi seni kerajinan. Maka kedudukan seni kriya salah satunya menopang pertumbuhan usaha-usaha seni kerajinan.
Kemudian peran seni kriya ini menjadi ganda satu pihak sebagai ekspresi pribadi yang berupaya untuk merangsang pemahaman masyarakat akan produk budaya yang berupa seni, di sisi lain sebagai peran untuk mendorong kemersialisme, kegairahan ekonomi dan maraknya perdagangan antar bangsa. Seiring dengan kemajuan perkembangan seni pada umumnya, tuntan karya seni kriya untuk memunculkan kriya baru dengan bentuk baru dan karakter baru terus diupayakan oleh para kriyawan yang datang dari lulusan lembaga pendidikan maupun masyarakat umum.
Nilai ekonomis seni kriya ditentukan oleh tujuan utama seni kriya itu ditetapkan, seni kriya terlahir dari interaksi konsep, inspirasi, ide atau gagasan produk karya seni bertujuan apa yang akan diciptakan. Pertimbangan fungsional dan non fungsional menjadi penting manakala seni kriya ini akan menentukan nasibnya menjadi produk seni yang mana. Interaksi konsep disitu terjadi, kriyawan mencoba memformulasikan sumber, ide atau gagasan ke dalam sebuah konstruksi pikir yang utuh untuk tercipta bentuk yang berfungsi maupun tidak berfungsi. Berkecamuknya proses itu akan berlarut manakala telah mempertimbangkan pada interaksi perwujudan. Ide yang begitu hebat dalam proses perwujudannya tentu menemui kendala-kendala diluar rencana awal. Oleh karena itu prototype baik sebagai contoh maupun karya yang telah jadi, menjadi penentu apakah karya memiliki nilai seni yang baik atau tidak
F. Nilai Ekonomi Seni Kerajinan
Di Indonesia seni kerajinan dikerjakan pada rumah-rumah produksi (home industry) yang berskala mikro, maupun yang berkelompok sebagai sentra industri seni kerajinan. Mereka memproduksi secara manual dengan alat yang sederhana dan menonjolkan kerja dengan ketrampilan yang turun-temurun, memiliki keunikan dan karakteristik bahan maupun proses pengerjaan. Seni kerajinan ini pada perkebangannya banyak disukai oleh para konsumen dari manca negara. Oleh kerena itu seni kerajinan pada era global sangat tergantung pada situasi global pula. Umunya, pengrajin membuat seni kerajinan merupakan pesanan dari para pembeli dari manca negera, meskipun pasar dalam negeri juga cukup baik. Pasar luar negeri seperti negara-negara uni eropa ternyata mampu menumbuhkan keberlangsungan seni kerajinan ini menjadi bagian dari minat mereka. Beberapa buyer dari luar negeri sangat berminat untuk membeli dan memasarkan produk seni kerajinan ini sebagai bagian dari impornya.
Semakin meluasnya pasar seni kerajinan, ternyata juga menjadikan kompetisi semakin bertambah ketat pula. Seni kerajinan harus berlomba menampilkan produk-produk yang inovatif, original dan up to date, sehingga dapat beriringan dengan perkembangan peradaban dan ilmu pengetahuan. Produk baru dengan tampilan baru ternyata dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap keberlangsungan sebuah usaha produksi seni kerajinan. Produk baru itu memberikan semangat baru pada diri kriyawan ataupun pengrajin untuk mempelajari dengan seksama akan sebuah trend produk interior pada saat itu. Masalahnya sekarang kreatifitas seorang pengrajin tampaknya kurang, maka dukungan dai para kriyawan menjadi hal yang sangat diperlukan. Sebab produk-produk baru yang ada justru dari gambar yang dibawa oleh para konsumen mereka. Dengan demikian bargaining pasition-nya sangat lemah. Pasti nilai ekonomis sebuah produk menjadi rendah manakala mereka menganggap desain itu datang dari mereka (konsumen).
Seni kerajinan kebetulan sangat diminati konsumen manca negara, meskipun pasar dalam negeri juga potensial. Pertimbangan yag unik dan menarik dan berkarakter menjadi pertimbangan para konseumen untuk megoleksi seni kerajinan itu. Memang struktur bagan di atas hanya menunjukan interaksi ekonomis antara seni kerajinan dan pasar, namun upaya itu tentu ada persoalan-persoalan lain dalan memenuhi proses negoisasi agar supaya deal atau sepakat. Pernik-pernik itu antara lain tampilan desain seni kerajinan yang benar-benar baru. Kemampuan mereprodusi produk itu dengan satandardisasi eksport dalam kualitas dan kuantitas. Pengetahuan tata laksana ekspor, kecakapan lain dalam mendukung suksesnya negoisasi.
G. Seni Kriya dalam Ekonomi Kreatif
Dalam sebuah kelompok kerja tentu sering mendapatkan kesulitan yang memerlukan penyelesaian, pada umumnya ada salah satu atau dua orang yang berusaha dan mencoba menyelesaikan masalah itu. Bagi sebagian orang, menjadi kreatif adalah melibatkan upaya untuk tidak malu dengan ide-idenya sendiri; bagi yang lain adalah menyadari bahwa menjadi kreatif dapat dilakukan dengan banyak cara yang berbeda. Orang-orang yang sadar dan cukup percaya diri, memiliki lebih sedikit penghalang dan dapat begitu saja membiarkan sifat kreatif untuk memunculkan sebuah lahan ekonomi. Dalam hal ini sebuah konteks usaha, maka diperlukan inovasi yang umumnya dianggap sebagai penerapan dari kreatifitas. Inovasi “adalah instrumen khusus kewirausahaan.” Kesempatan inovatif terkait dengan industri atau sektor jasa khusus, yaitu: yang tidak diharapkan; yang tidak awam; kebutuhan proses; dan perubahan struktural. Juga terkait dengan lingkungan manusia dan ekonomi: demografi; perubahan persepsi, suasana hati, dan arti; dan pengetahuan baru. Kreatifitas terkait erat dengan entrepreneur seperti pada pengusaha justru mereka memiliki lebih banyak peluang untuk menggunakan bakat kreatif mereka dibandingkan dengan pegawai yang digaji. Dalam rangka mengembangkan daya kreatifitas, dibutuhkan kesempatan untuk menilai perilaku kreatifitas sendiri agar dapat mulai mempraktekkan pemikiran yang kreatif itu. Kebanyakan orang dapat memikirkan beberapa pekerjaan yang membutuhkan kreatifitas, seperti : kriyawan, seniman, musisi, penari, perancang dan ilmuwan. Meskipun demikian, kebutuhan akan kreatifitas tidak terbatas pada pekerjaan-pekerjaan ini. Ide-ide kreatif dibutuhkan dimana terdapat masalah dengan solusi yang tidak diketahui. Seperti dalam dunia seni kriya, kriyawan menggunakan kreatifitas untuk memecahkan masalah produk baru, memproduksi, dan bagaimana cara mempromosikannya.
Seni kriya merupakan salah satu dalam ekonomi kreatif itu, yaitu ide adalah suatu komediti yang dapat dieksplorasi dengan tiada habisnya. Manusia dengan akal budinya disertai kreativitas yang ditempatkan dalam lingkungan yang kondusif akan mampu menghasilkan produk-produk kreatif bernilai ekonomi. Bidang-bidang yang mencangkup dalam koridor ekonomi kreatif terdapat di dalamnya seni kriya. Kriyawan merupakan salah satu mata rantai penting industri seni kerajinan. Hal ini dapat dilihat pada sentral-sentral seni kerajinan di Bali, Yogyakarta dan daerah lain sebagai kantong-kantong seni kerajinan. Hal ini telah menjadi bagian penting sebab mata rantai kunjungan wisata baik dari dalam dan manca negara telah ikut membuat wilayah-wilayah penghasil seni kerajinan itu menjadi berkembang. Untuk itu seni kriya sebagai awal munculnya seni kerajinan memegang peran yang utama terutama dalam menciptakan produk baru sesuai dengan target pasar yang akan dicapai. Dapat dilihat bahwa belanja seni ketrajinan seperti souvenir saja di Bali menjadi motivasi utama sebagai sasaran pembeli mencapai yakni 30-40% dari akibat interaksi langsung dari kunjungan wisatawan atau pembelian retail, sementara 60-70% adalah produk ekspor (wholesale) pada tahun 2009.
Produk-produk kriya telah menjadi elemen penunjang interior dan eksterior fasilitas kepariwisataan (hotel, rumah makan, taman kota, pusat Spa, kesehatan, dan sebagainya) di kota-kota di Indonesia maupun di luar negeri. Melihat potensi kekayaan seni kriya Indonesia yang begitu tinggi menjadi sangat penting untuk dikembangkan menjadi kontributor utama dalam era ekonomi kreatif. Karena dari semua ekonomi kreatif yang ada seni kriya tidak tergantung pada teknologi tinggi baik perangkat keras maupun perangkat lunak yang mahal harganya. Seni kriya sangat sesuai dengan kondisi sosial budaya Indonesia dan dapat mendorong penigkatan ekonomi kerakyatan. Industri kriya dapat dikembangkan secara padat karya sehingga dapat memberikan pekerjaan kepada masyarakat. Makin menyusutnya sumber daya alam diperlukan suatu kearifan dalam mengolah alam dan cara-cara lain untuk memutar roda perekonomian bangsa Indonesia. Salah satu cara yaitu menerapkan ekonomi kreatif sebagai sumber perekonomian. Pengembangan seni kriya dapat dijadikan suatu model ekonomi kreatif di Indonesia. Seni kriya dapat dilakukan dengan memanfaatkan materi dari alam maupun sentetis. Dengan eksplorasinya material dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin bahkan dari limbah sekalipun dapat dihasilkan produk kriya.
Tentu kreatifitas dalam seni kriya tidak saja bagaimana menciptakan karya yang hebat belaka, namun aspek lain sebagai pendukung tentu tidak bisa ditinggalkan. Aspek tersebut meliputi hal-hal yang berkaitan dengan langkah lebih lanjut, seperti perlakukan barang pada saat mendisplay, sumber daya manusia dalam menjaga kesetabilan produk, dan bagaimana mengupayakan agar barang dapat diapresiasi oleh konsumen. Kriyawan seringkali kurang memperhatikan display produk untuk menarik konsumen (produk kebanyakan ditata seadanya). Seringkali ditemukan, bahwa kemasan produk kriya untuk ritail masih rendah, belum memperhatikan unsur kemudahan, keamanan, estetika, yang bisa meningkatkan nilai jual produk. Interaksi dengan industri sekala besar/ekspor dan permintaan pasar menjadikan bentuk dan ragam hias produk lokal banyak dipengaruhi oleh unsur luar, sehingga kehilangan kekhasannya. Sebelum berbicara pasar, harus dilihat terlebih dahulu sejauh mana daya saing produk seni kriya Indonesia di pasar domestik maupun internasional. Ada beberapa masalah menyangkut daya saing produk kriya Indonesia antara lain: masalah disain, masalah Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dan masalah pemasaran.
H. Penutup
Seni Kriya telah menjadi bagian penting dalam mengembangkan perekonomian rakyat yang sarat dengan lokalitas baik bahan mamupun sumber daya manusianya. Pengembangan kreatifitas pada generasi muda menjadi penting agar kekayaan alam dan budaya bangsa Indonesia yang melimpah dapat dieksplorasi, dikembangkan, dan dipasarkan. Apalagi munculnya sistem perdagangan internasional yang kian ketat dalam persaingan. Perdagangan bebas ASEAN misalnya, sudah diputuskan berlaku 1 Januari 2010. Cina dipastikan bergabung, lewat apa yang disebut dengan Asean Cina Free Trade Agreement atau ACFTA. Masuknya Cina dalam perdagangan bebas Asean ini meresahkan kalangan produsen dalam negeri terutama tekstil dalam negeri, karena bisa dipastikan semua produk Cina bebas masuk ke pasar Asean, termasuk Indonesia. Para produsen pesimis produk mereka akan mampu bersaing dengan produk Cina yang harganya jauh lebih murah.
Nah bagaimana dengan langkah seni kriya sebagai salah satu pendukung ekonomi kreatif? Kreatifitas memegang peran yang penting agar agar mencapai kemenangan dalam persaingan global itu.
Demikian ada kesalahan mohon maaf…nuwun.
I. Kepustakaan
“Design Meet Artisan” Craft Revival Trust, Artesanfas de Columbia S.A., Unesco, 2005.
Adler Haymans Manurung, Wirausaha Bisnis Usaha Kecil Menegah, Penerbit Buku Kompas, Jakarta, 2006.
Enrico Vacetti, importir dari Karu, Milano, Italia. Wawancara pada tanggal 20 November 2008 di Kasongan Yogyakarta.
Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi kedua, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Balai Pustaka, Jakarta, 1996.
Mudrajad Kuncoro, Ekonomi Industri Indonesia Menuju Negara Industri Baru 2030?, Penerbit Andi Yogyakarta, Yogyakarta, 2007.
Soeharto Prawirokusumo, Ekonomi Rakyat (Kinsep, Kebijakan, dan Strategi), Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 2001.
SP. Gustami 1991, Seni Kriya Indonesia Dilema Pembinaan dan Pengembangannya, Jurnal Seni, Edisi 1/03 Oktober, BP. ISI. Yogyakarta.
Tika Nurjaya (ed.), Usaha Kecil Indonesia Tinjauan Tahun 2002 dan Prospek Tahun 2003, Indonesia Small Business Research. P. XX.
Wawancara dengan Ambar Polah pada tanggal 29 November 2008 di kantor Asmindo Yogyakarta jam 11.00 WIB.
Tentang Penulis:
Dr. Timbul Raharjo, M. Hum.
Lahir di Kasongan Bantul Yogyakarta, 8 November 1969. Lulusan Program Doktor di Universitas Gadjah Mada tahun 2008. Sejak tahun 1993 mengajar di Institut Seni Indonesia Yogyakarta Jurusan Seni Kriya, khususnya Seni Keramik. Tahun 2007 mendapat anugerah Upakarti dari Presiden Republik Indonesia. Menjadi perajin keramik sejak tahun 1996. Produk keramiknya diekspor ke beberapa negara Eropa, Australia, Canada, Korea. Dan lain sebagainya.
Kamis, 27 Agustus 2009
Pemasaran Seni Karajinan di Bantul: Kasus Seni Kerajinan Keramik Kasongan PASAR SENI KERAJINAN KERAMIK KASONGAN SEDANG GUSAR DR. TIMBUL RAHARJO,
Pemasaran Seni Karajinan di Bantul: Kasus Seni Kerajinan Keramik Kasongan
PASAR SENI KERAJINAN KERAMIK KASONGAN SEDANG GUSAR
DR. TIMBUL RAHARJO, M. HUM.
A. Awal
Sekitar pukul dua siang minggu lalu, mbah Sarjiman karyawan penulis bagian packaging keluar gerbang sambil bersiul menenteng walesan pancing dan sebotol umpan ikan yang ternyata sejak pagi telah dipersiapkannya. Setelah presensi di depan satpam ia kemudian hendak belalu dengan sepeda motornya. Kebetulan penulis berpapasan dengannya dan menyapa “isih awan kok wis bali mbah?” (masih siang kok sudah pulang mbah?) dia menjawab “nggih la pun mbaten wonten gawean, niki ajeng mancing” (ya habis sudah tidak ada pekerjaan, mending mancing saja) ladalah ternyata disusul 40 orang anak buah mbah Sarjiman yang juga pulang awal. Pak Parno yang menjabat sebagai quality control bagian finishing juga sudah membawa sabit siap mencari damen buat ternak sapinya. Kemudian penulis bergegas menemui mbak Tris yang menjabat sebagai manager di perusahaan penulis, ia menjelaskan bahwa krisis financial global telah berdampak pada industri seni kerajinan termasuk usaha penulis. Kemudian penulis teringat cerita Pak Buang yang sekarang berprofesi menjadi pencari belut di sawah, bahwa di tempat kerjanya sudah tidak ada lagi order, sehingga terjadi pengurangan karyawan padahal ia harus menghidupi istri dan empat anaknya. Pada hal lagi Pak Buang dikenal sebagai seorang pembuat keramik yang handal. Namun ia tidak tahu kenapa tidak ada order, yang terpikir di benaknya hanya apakah para bule (buyer) itu takut ke Indonesia karena ada bom, atau mereka malas ke sini karena marah, sebab uang muka ordernya dipakai bosnya untuk kawin lagi atau apa? Mereka tahunya kok sekarang sepi order. Mereka tidak pernah membayangkan bagaimana barang seni kerajinan sampai di negara si bule, bagaimana cara menjualnya, barang laku apa tidak, rusak tidak, ia tahunya bule itu senangnya membeli barang yang antic dan bodoh, sebab senang produk yang di sini kurang laku dan tidak meling-meling (berkilau).
Pemahaman global tentang situasi dan kondisi internasional masih belum banyak dimengerti diantara pengrajin. Masyarakat dunia sedang menghemat uangnya akibat krisis financial global. Kengerian situasi itupun kemudian dapat kita lihat pada flash back beberapa bulan lalu, yakni pasar seni kerajinan tahun 2009 menunjukan situasi yang rumit yang turun sampai 70 persen pada semester awal tahun ini. Dengan demikian jika kita berbicara pemasaran seni kerajianan tentu berkaitan dengan apek pasar luar negeri. Sebab dalam bisnis seni kerajinan hampir 90 persen berpasar ekspor.
Dengan situasi demikian, tentu pembicaraan pemasaran menjadi kurang menarik karena kondisi yang selama ini menjadi primadona ekspor Bantul saat ini sedang mengalami penurunan yang luar biasa. Namun demikian kemungkinan justru menjadi sebuah masalah yang menarik yang dapat didiskusikan di ruangan ini. Baiklah judul di atas adalah “Pasar Seni Kerajinan Keramik Sedang “Gusar” maksud penulis bahwa seni kerajinan saat ini sedang mengalami kondisi pasar yang kurang baik, yang sedang sakit adalah para importer yang kesulitan menjual produk seni kerajinan Indonesia di negaranya, mereka sedang mriang, mereka sedang krisis. Sementara produsen/pengrajin tidak. Dengan kata lain saat ini mudah membuat tapi susah bisa jual. Untuk tidak mengurangi existensi yang diharapkan dalam diskusi ini, penulis juga mencoba bercerita tentang kondisi pasar dalam rentang waktu sebelum krisis financial global. Hal ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang menyeluruh tentang kondisi pasar seni kerajinan dan bagaimana upaya-upaya pembinaanya.
B. Kondisi Pasar Sebelum Krisis, tapi Gempa
Setelah gempa bumi 27 Mei 2006 lalu kondisi fisik di wilayah Bantul mengalami kerusakan yang luar biasa. Mr. Enrico, seorang importer dari Italia yang sering membeli seni kerajinan Keramik dari Kasongan yang rata-rata 10 kontainer tiap bulannya, dua hari setelah gempa menanyakan pada penulis “ Mr. Timbul what can I do to help you, should I send money to you” dengan gagah berani penulis menjawab “give me more order to fix our condition” Mr Enrico kaget dan memang membuat order lagi. Beberapa minggu kemudian penulis pusing dengan banyaknya order yang masuk sementara kondisi perusahaan masih amburadul. Banyak karyawan yang stress karena kondisi rumah mereka roboh, mental mereka terganggu, mudah tersinggung, dan mudah marah. Sehingga kinerja mereka sangat menurun, mereka pucat dan kurus-kurus. Pada hal pasar seni kerajinan keramik masih terbuka lebar sementara produksi sedang K.O dan produktifitas menurun. Penulis kemudian berfikir bagaimana cara memperbaiki situasi yang demikian dengan cepat.
Mengingat pasar masih memerlukan produk seni kerajinan keramik, sementara produksi mengalami kendala teknis yang cukup berat. Kemudian penulis lakukan tindakan yakni pertama dicoba untuk membenahi mental para karyawan dengan mendatangkan konsultan mental (spikiater), penulis meminta untuk mengobati mental mereka untuk dapat konsentrasi bekerja, kedua membenahi infrastruktur produksi dan yang ketiga membenahi system produksi. Dalam jangka sepuluh bulan kemudian ternyata produktifitas meningkat, dapat memaksimalkan produksi sesuai ekspektasi penulis. Pasar menjadi lebih terinspirasi untuk memberikan peluang-peluang lain untuk memaksimalkan produksi. Bahkan pada tahun 2007 mengalami peningkatan yang luar biasa, pasar Eropa, Amerika, Kanada, Australia dan Korea sangat mendominasi pembelanjaan seni kerajinan Keramik Kasongan. Mereka tampak kesetanan untuk membelanjakan uangnya karena produk seni kerajinan keramik memiliki kualitas seni yang mampu menyihir konsumen manca negara untuk mengkoleksi dan menghiasi rumah hunian mereka. Mereka sangat menghargai barang kerajinan tangan sebagai salah satu produk yang memiliki nilai seni tinggi.
Dengan adanya gempa itu membuat gereget pemerintah untuk memberikan dukungan penyelamatan gempa cukup baik. Upaya-upaya dilakukan agar masyarakat Kasongan dapat bekerja kembali. Mengingat ketika itu kendala akibat gempa dapat ditangani masyarakat pengrajin dengan cepat, penulis pernah memprediksikan Kasongan akan pulih dua tahun lagi, namun ketika ditahun awal 2008 meletusnya gelembung surat berharga yang diawali dari Negara adidaya Amerika yang kemudian meruntuhkan sendi-sendi ekonomi dunia dan dunia ekspor Indonesia, maka pasti pemulihan kondisi akan mengalami kemunduran sampai tahun 2011 dengan catatan krisis global telah berakhir. Persoalan pasar sesaat setelah gempa tidak menjadi persoalan bahkan beberapa pengusaha seni kerajinan di wilayah Bantul mengalami peningkatan yang signifikan. Indikasinya terlihat dari beberapa event pameran seni kerajinan dan mebel seperti Trade Expo Indonesia 2007 banyak peserta dan buyer yang datang.
C. Pasar pada Era Krisis Global
Bagian terpenting dari kegiatan pasar seni kerajinan bergantung pada kondisi internasional. Gejolak masyarakat dunia akan menentukan baik dan tidak, sebab seni kerajinan Keramik Kasongan sebagian besar hanya melayani pasar luar negeri. Dengan kondisi krisis financial global yang sedang berlangsung saat ini memang tidak banyak yang bisa diperbuat. Beberapa buyer yang telah terbiasa belanja seni kerajinan Keramik Kasongan sedang mengatur kondisi perusahaan masing-masing. Mereka menunggu sampai kondisi membaik, orang sudah mulai nyaman jika kebutuhan primer telah tercukupi, sementara seni kerajinan adalah barang yang dibutuhkan sebagai bagian kebutuhan skunder. Wajar jika produk ini akan laku terjual ketika kebutuhan makan, sandang, dan perumahan telah terpenuhi.
Kondisi seni kerajinan memang menjadi serba sulit, banyak kegiatan home industry di wilayah Kasongan megalami pemutusan hubungan kerja, bahkan telah tutup. Usaha yang masih mengandalkan pada suplay ke perusahaan lebih besar mengalami kemacetan, Mungkin pemerintahpun belum begitu sadar akan terganggunya pemasaran oleh olah krisi global ini. Dengan demikian upaya-upaya yang dilakukan masih bersifat pembenahan dari sisi produksi, sementara pasar yang digarap belum dapat memberikan pemulihan pasar yang baik. Tentu dalam hal ini bukan bagaimana mencari pasar yang tidak terkena dampak krisis seperti Timur Tengah, Eropa Timur, maupun Negara-nera Karibian, namun juga realisasi pemasaran yang bernar-benar meringankan bagi UMKM. Beberapa dari teman pengrajin mencoba untuk memasarkan ke wilayah-wilayah potensial di dalam negeri, hanya saja kendala transportasi antar pulau yang masih menjadi kendala serius dalam proses perdagangan seni kerajinan.
Meskipun krisis saat ini yang kena adalah finansialnya, bukan sector riil, namun antara financial dan sector riil merupakan dua hal yang tak terpisahkan. Awalnya banyak orang memprediksikan sector riil tidak kena dampaknya, namun pada kenyataannya sector riil inilah yang ternyata mengalami kesulitan yang lebih besar. Pada umumnya mereka belum menerapkan system manajemen yang baik terutama dalam hal penataan research and development (R&D) dalam bagian unsahanya, begitu terkena dampak perubahan situasi pasti mereka jatuh terlebih dahulu. Kapankah krisi akan berakhir? Pernah penulis lontarkan kepada calon wapres Budiono dalam sebuah diskusi. Beliau menjelaskan pada sector keuangan sudah menunjukan titik terang adanya perubahan ke arah yang lebih baik, sementara pada sector reiil diharapkan akan segera menyusul. Kapan menyusulnya? Nah ini tergantung pada telah membaiknya kondisi ekonomi internasional dan kesadaran masyarakat dunia untuk segera melupakan krisis dan segera menggunakan atau membelanjakan uangnya, harapannya geliat bisnis seni kerajinan Keramik segera bangkit seperti semula.
Beberapa perusahaan trading yang besar di Eropa mengalami resesi. Dari beberapa yang penulis kenal telah menyatakan sementara berhenti membeli dulu sampai krisis berlalu, bahkan ada yang telah tutup. Sementara buyer retailer yang mereka langsung menjual produknya di showroom pribadinya masih menunjukan geliat yang cukup baik. Hanya saja keteraturan melayani mereka harus dijaga secara intensif mengingat buyer jenis ini ternyata memiliki daya tahan yang baik sebab mereka tidak direpotkan dengan proses pengaturan distribusi yang cukup panjang dalam pemasarannya. Pada sub bab berikut disampaikan beberapa cara pemasaran yang dilakukan pada seni kerajinan terutama seni kerajinan Keramik.
D. Kegiatan Pemasaran Seni Kerajinan
Sebagai pengrajin kecil pada usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), pada awalnya, pola kegiatan produksi masih bersifat tradisional dan hanya kenal dengan pasar regional sekitarnya. Mereka menjajakan produknya berkeliling dari desa ke desa, mensuplay para pengepul di pasar-pasar tradisional. Umumnya produk yang dihasilkan jauh dari unsur seni, sesuai dengan kebutuhan harian masyarakat sekitanya, seperti roduk seni kerajinan sebagai barang peralatan rumah tangga. Mereka adalah masyarakat yang rata-rata mengenyam pendidikan tingkat dasar, sehingga belum begitu baik untuk mengenal pasar modern yang lebih luas apalagi aplikasi dengan teknologi informasi. Namun bagi unit-unit usahan yang cukup besar dapat mengatur kegiatan pasar seefektif mungkin. Merka dapat memahami, menerapkan, dan melakukan jenis-jenis pola pemasaran yang cukup baik.
Pengrajin seni kerajinan Keramik tidak semua membuat terobosan pasar dari berbagai sisi, seperti mengikuti pameran di dalam maupun diluar negeri, atau membuat situs di internet. Namun juga mereka mengandalkan arshop-arshop yang mereka miliki di wilayah sepanjang jalan Kasongan. Tampaknya pasar seni kerajinan yang terpadu dalam sebuah lokasi membuat para buyer yang semula datang untuk membeli seni kerajinan Keramik pada beberapa buyer juga melirik produk non gerabah yang juga ikut dijajakan di wilayah sepanjang jalan Kasongan.
Sebagai desa wisata Kasongan telah mampu menjadi salah satu tujuan wisata yang baik. Ketertarikan dengan wilayah ini telah membuat Kasongan memiliki daya tarik tersendiri pada para buyer. Sebagai wilayah kedua yang didatangi oleh para buyer lepasan dari Bali, maka Kasongan sebagai pilihan utama bagi para wisatawan terutama yang suka berbinis dalam bidang seni kerajinan. Kasongan telah hadir sebagai representasi wilayah Bantul bahkan Yogyakarta sebagai pusat seni kerajinan yang dihasilkan dari wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Meskipun Malioboro telah hadir dan menampilkan produk seni kerajinan Yogyakarta para buyer yang telah mendalami bisnisnya tentu menghindari Malioboro untuk negosiasi bisnisnya. Inilah yang membuat daya tarik Kasongan semakin menjadi ketika produk hadir sebagai ujung tombak dalam meraih pasar di sepanjang kiri-kanan jalan Kasongan itu.
Perusahaaan yang memiliki kapasitas dapat melayani buyer dalam skala container tentu melakukan upaya pemasaran yang lebih luas. Salah satu produk pameran seni kerajinan yang bertarap internasional adalah Trade Ekspo Indonesia (TEI) pada bulan Oktober tiap tahunnya dan IFFINA pada bulan maret adalah dua pameran besar internasional di Indonesia yang sering diikuti oleh para pengusaha yang telah memiliki system managemen yang baik, atau perusahaan yang berorientisasi ekspor. Ada juga pmeran INACRAFT yang diselenggarakan bulan April yang lebih focus utuk pasar local, juga menjadi salah satu alternative pasar dalam negeri.
Namun demikian pemasaran pada tingkat ke dua adalah pemasaran yang memang khusus mensuplay para trading yang dibawa berpameran internasional itu. Mereka memposisikan diri sebagi penyuplay saja, mereka tidak mau melakukan pameran sebab akan terjadi benturan diantara pembeli dan produsen yang ikut serta dalam sebuah event pameran. Demikian pula kegiatan pameran luar negeri beberapa pengusaha yang telah berpameran internasional dalam negeri, tentu tidak mau berpameran di luar negeri dengan kondisi tujuan pasar yang sama dengan buyernya. Memang etika menjadi sangat penting, posisi pasar yang mana yang akan diambil.
Sebuah kegiatan bisnis tentu memiliki pola dan langkah yang tepat dalam melakukan kegiatan pemasaran. Kantong mana yang akan di jelajah sesuai dengan kapasitas masing masing. Sebuah sentra seni kerajinan seperti Kasongan para pengrajinnya memiliki tingkat managemen yang berbeda-beda, yang lebih kecil akan mensuplay pada perusahaan yang lebih besar, baik dalam sistem produksi maupun pemasaran. Keduanya menjadi sangat penting dan terjadinya sinergisme yang baik dalam suasana saling menguntungkan. Jika berat sebelah maka sebuah usaha akan mengalami penurunan.
E. Penutup
Pemasaran seni kerajinan terutama seni kerajinan Keramik mermiliki pola pemasaran yang menyesuaikan dengan kapasitas usaha seni kerajinan Keramik itu. Usaha-usaha pemasaran yang dilakukan adalah:
1. Menjajakan secara berkeliling, terutama barang peralatan rumah tangga
2. Acongan, terutama saat musim wisata di beberapa wilayah yang dikunjungi wisatawan seperti di Alun-alun Utara.
3. Memiliki Showroom di pinggir jalan Kasongan.
4. Mengikuti Pameran-pameran local dan Internasional
5. Membuta situs pemasaran melalui Internet.
6. Adanya guide yang membawa tamu ke showroom/studio dengan memberi imbalan “brengos” yang umumnya lima persen.
Hal itu beberapa hal yang dapat penulis disampaikan ada kurangnya mohon maaf.
F. Tentang Penulis
Nama Timbul Raharjo, bertempat tinggal di Kasongan Kab. Bantul Yogyakarta. Lahir di Kasongan 39 tahun yang lalu. Tahun 2008 menyelesaikan program Doktor di Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada. Tahun 2007 menerima anugerah UPAKARTI dari Presiden, dan menjadi pengusaha terbaik empat versi Dji Sam Sue. Mengajar di Jurusan Kriya ISI Yogyakarta, Memiliki studio Timboel Keramik di Kasongan.
PASAR SENI KERAJINAN KERAMIK KASONGAN SEDANG GUSAR
DR. TIMBUL RAHARJO, M. HUM.
A. Awal
Sekitar pukul dua siang minggu lalu, mbah Sarjiman karyawan penulis bagian packaging keluar gerbang sambil bersiul menenteng walesan pancing dan sebotol umpan ikan yang ternyata sejak pagi telah dipersiapkannya. Setelah presensi di depan satpam ia kemudian hendak belalu dengan sepeda motornya. Kebetulan penulis berpapasan dengannya dan menyapa “isih awan kok wis bali mbah?” (masih siang kok sudah pulang mbah?) dia menjawab “nggih la pun mbaten wonten gawean, niki ajeng mancing” (ya habis sudah tidak ada pekerjaan, mending mancing saja) ladalah ternyata disusul 40 orang anak buah mbah Sarjiman yang juga pulang awal. Pak Parno yang menjabat sebagai quality control bagian finishing juga sudah membawa sabit siap mencari damen buat ternak sapinya. Kemudian penulis bergegas menemui mbak Tris yang menjabat sebagai manager di perusahaan penulis, ia menjelaskan bahwa krisis financial global telah berdampak pada industri seni kerajinan termasuk usaha penulis. Kemudian penulis teringat cerita Pak Buang yang sekarang berprofesi menjadi pencari belut di sawah, bahwa di tempat kerjanya sudah tidak ada lagi order, sehingga terjadi pengurangan karyawan padahal ia harus menghidupi istri dan empat anaknya. Pada hal lagi Pak Buang dikenal sebagai seorang pembuat keramik yang handal. Namun ia tidak tahu kenapa tidak ada order, yang terpikir di benaknya hanya apakah para bule (buyer) itu takut ke Indonesia karena ada bom, atau mereka malas ke sini karena marah, sebab uang muka ordernya dipakai bosnya untuk kawin lagi atau apa? Mereka tahunya kok sekarang sepi order. Mereka tidak pernah membayangkan bagaimana barang seni kerajinan sampai di negara si bule, bagaimana cara menjualnya, barang laku apa tidak, rusak tidak, ia tahunya bule itu senangnya membeli barang yang antic dan bodoh, sebab senang produk yang di sini kurang laku dan tidak meling-meling (berkilau).
Pemahaman global tentang situasi dan kondisi internasional masih belum banyak dimengerti diantara pengrajin. Masyarakat dunia sedang menghemat uangnya akibat krisis financial global. Kengerian situasi itupun kemudian dapat kita lihat pada flash back beberapa bulan lalu, yakni pasar seni kerajinan tahun 2009 menunjukan situasi yang rumit yang turun sampai 70 persen pada semester awal tahun ini. Dengan demikian jika kita berbicara pemasaran seni kerajianan tentu berkaitan dengan apek pasar luar negeri. Sebab dalam bisnis seni kerajinan hampir 90 persen berpasar ekspor.
Dengan situasi demikian, tentu pembicaraan pemasaran menjadi kurang menarik karena kondisi yang selama ini menjadi primadona ekspor Bantul saat ini sedang mengalami penurunan yang luar biasa. Namun demikian kemungkinan justru menjadi sebuah masalah yang menarik yang dapat didiskusikan di ruangan ini. Baiklah judul di atas adalah “Pasar Seni Kerajinan Keramik Sedang “Gusar” maksud penulis bahwa seni kerajinan saat ini sedang mengalami kondisi pasar yang kurang baik, yang sedang sakit adalah para importer yang kesulitan menjual produk seni kerajinan Indonesia di negaranya, mereka sedang mriang, mereka sedang krisis. Sementara produsen/pengrajin tidak. Dengan kata lain saat ini mudah membuat tapi susah bisa jual. Untuk tidak mengurangi existensi yang diharapkan dalam diskusi ini, penulis juga mencoba bercerita tentang kondisi pasar dalam rentang waktu sebelum krisis financial global. Hal ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang menyeluruh tentang kondisi pasar seni kerajinan dan bagaimana upaya-upaya pembinaanya.
B. Kondisi Pasar Sebelum Krisis, tapi Gempa
Setelah gempa bumi 27 Mei 2006 lalu kondisi fisik di wilayah Bantul mengalami kerusakan yang luar biasa. Mr. Enrico, seorang importer dari Italia yang sering membeli seni kerajinan Keramik dari Kasongan yang rata-rata 10 kontainer tiap bulannya, dua hari setelah gempa menanyakan pada penulis “ Mr. Timbul what can I do to help you, should I send money to you” dengan gagah berani penulis menjawab “give me more order to fix our condition” Mr Enrico kaget dan memang membuat order lagi. Beberapa minggu kemudian penulis pusing dengan banyaknya order yang masuk sementara kondisi perusahaan masih amburadul. Banyak karyawan yang stress karena kondisi rumah mereka roboh, mental mereka terganggu, mudah tersinggung, dan mudah marah. Sehingga kinerja mereka sangat menurun, mereka pucat dan kurus-kurus. Pada hal pasar seni kerajinan keramik masih terbuka lebar sementara produksi sedang K.O dan produktifitas menurun. Penulis kemudian berfikir bagaimana cara memperbaiki situasi yang demikian dengan cepat.
Mengingat pasar masih memerlukan produk seni kerajinan keramik, sementara produksi mengalami kendala teknis yang cukup berat. Kemudian penulis lakukan tindakan yakni pertama dicoba untuk membenahi mental para karyawan dengan mendatangkan konsultan mental (spikiater), penulis meminta untuk mengobati mental mereka untuk dapat konsentrasi bekerja, kedua membenahi infrastruktur produksi dan yang ketiga membenahi system produksi. Dalam jangka sepuluh bulan kemudian ternyata produktifitas meningkat, dapat memaksimalkan produksi sesuai ekspektasi penulis. Pasar menjadi lebih terinspirasi untuk memberikan peluang-peluang lain untuk memaksimalkan produksi. Bahkan pada tahun 2007 mengalami peningkatan yang luar biasa, pasar Eropa, Amerika, Kanada, Australia dan Korea sangat mendominasi pembelanjaan seni kerajinan Keramik Kasongan. Mereka tampak kesetanan untuk membelanjakan uangnya karena produk seni kerajinan keramik memiliki kualitas seni yang mampu menyihir konsumen manca negara untuk mengkoleksi dan menghiasi rumah hunian mereka. Mereka sangat menghargai barang kerajinan tangan sebagai salah satu produk yang memiliki nilai seni tinggi.
Dengan adanya gempa itu membuat gereget pemerintah untuk memberikan dukungan penyelamatan gempa cukup baik. Upaya-upaya dilakukan agar masyarakat Kasongan dapat bekerja kembali. Mengingat ketika itu kendala akibat gempa dapat ditangani masyarakat pengrajin dengan cepat, penulis pernah memprediksikan Kasongan akan pulih dua tahun lagi, namun ketika ditahun awal 2008 meletusnya gelembung surat berharga yang diawali dari Negara adidaya Amerika yang kemudian meruntuhkan sendi-sendi ekonomi dunia dan dunia ekspor Indonesia, maka pasti pemulihan kondisi akan mengalami kemunduran sampai tahun 2011 dengan catatan krisis global telah berakhir. Persoalan pasar sesaat setelah gempa tidak menjadi persoalan bahkan beberapa pengusaha seni kerajinan di wilayah Bantul mengalami peningkatan yang signifikan. Indikasinya terlihat dari beberapa event pameran seni kerajinan dan mebel seperti Trade Expo Indonesia 2007 banyak peserta dan buyer yang datang.
C. Pasar pada Era Krisis Global
Bagian terpenting dari kegiatan pasar seni kerajinan bergantung pada kondisi internasional. Gejolak masyarakat dunia akan menentukan baik dan tidak, sebab seni kerajinan Keramik Kasongan sebagian besar hanya melayani pasar luar negeri. Dengan kondisi krisis financial global yang sedang berlangsung saat ini memang tidak banyak yang bisa diperbuat. Beberapa buyer yang telah terbiasa belanja seni kerajinan Keramik Kasongan sedang mengatur kondisi perusahaan masing-masing. Mereka menunggu sampai kondisi membaik, orang sudah mulai nyaman jika kebutuhan primer telah tercukupi, sementara seni kerajinan adalah barang yang dibutuhkan sebagai bagian kebutuhan skunder. Wajar jika produk ini akan laku terjual ketika kebutuhan makan, sandang, dan perumahan telah terpenuhi.
Kondisi seni kerajinan memang menjadi serba sulit, banyak kegiatan home industry di wilayah Kasongan megalami pemutusan hubungan kerja, bahkan telah tutup. Usaha yang masih mengandalkan pada suplay ke perusahaan lebih besar mengalami kemacetan, Mungkin pemerintahpun belum begitu sadar akan terganggunya pemasaran oleh olah krisi global ini. Dengan demikian upaya-upaya yang dilakukan masih bersifat pembenahan dari sisi produksi, sementara pasar yang digarap belum dapat memberikan pemulihan pasar yang baik. Tentu dalam hal ini bukan bagaimana mencari pasar yang tidak terkena dampak krisis seperti Timur Tengah, Eropa Timur, maupun Negara-nera Karibian, namun juga realisasi pemasaran yang bernar-benar meringankan bagi UMKM. Beberapa dari teman pengrajin mencoba untuk memasarkan ke wilayah-wilayah potensial di dalam negeri, hanya saja kendala transportasi antar pulau yang masih menjadi kendala serius dalam proses perdagangan seni kerajinan.
Meskipun krisis saat ini yang kena adalah finansialnya, bukan sector riil, namun antara financial dan sector riil merupakan dua hal yang tak terpisahkan. Awalnya banyak orang memprediksikan sector riil tidak kena dampaknya, namun pada kenyataannya sector riil inilah yang ternyata mengalami kesulitan yang lebih besar. Pada umumnya mereka belum menerapkan system manajemen yang baik terutama dalam hal penataan research and development (R&D) dalam bagian unsahanya, begitu terkena dampak perubahan situasi pasti mereka jatuh terlebih dahulu. Kapankah krisi akan berakhir? Pernah penulis lontarkan kepada calon wapres Budiono dalam sebuah diskusi. Beliau menjelaskan pada sector keuangan sudah menunjukan titik terang adanya perubahan ke arah yang lebih baik, sementara pada sector reiil diharapkan akan segera menyusul. Kapan menyusulnya? Nah ini tergantung pada telah membaiknya kondisi ekonomi internasional dan kesadaran masyarakat dunia untuk segera melupakan krisis dan segera menggunakan atau membelanjakan uangnya, harapannya geliat bisnis seni kerajinan Keramik segera bangkit seperti semula.
Beberapa perusahaan trading yang besar di Eropa mengalami resesi. Dari beberapa yang penulis kenal telah menyatakan sementara berhenti membeli dulu sampai krisis berlalu, bahkan ada yang telah tutup. Sementara buyer retailer yang mereka langsung menjual produknya di showroom pribadinya masih menunjukan geliat yang cukup baik. Hanya saja keteraturan melayani mereka harus dijaga secara intensif mengingat buyer jenis ini ternyata memiliki daya tahan yang baik sebab mereka tidak direpotkan dengan proses pengaturan distribusi yang cukup panjang dalam pemasarannya. Pada sub bab berikut disampaikan beberapa cara pemasaran yang dilakukan pada seni kerajinan terutama seni kerajinan Keramik.
D. Kegiatan Pemasaran Seni Kerajinan
Sebagai pengrajin kecil pada usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), pada awalnya, pola kegiatan produksi masih bersifat tradisional dan hanya kenal dengan pasar regional sekitarnya. Mereka menjajakan produknya berkeliling dari desa ke desa, mensuplay para pengepul di pasar-pasar tradisional. Umumnya produk yang dihasilkan jauh dari unsur seni, sesuai dengan kebutuhan harian masyarakat sekitanya, seperti roduk seni kerajinan sebagai barang peralatan rumah tangga. Mereka adalah masyarakat yang rata-rata mengenyam pendidikan tingkat dasar, sehingga belum begitu baik untuk mengenal pasar modern yang lebih luas apalagi aplikasi dengan teknologi informasi. Namun bagi unit-unit usahan yang cukup besar dapat mengatur kegiatan pasar seefektif mungkin. Merka dapat memahami, menerapkan, dan melakukan jenis-jenis pola pemasaran yang cukup baik.
Pengrajin seni kerajinan Keramik tidak semua membuat terobosan pasar dari berbagai sisi, seperti mengikuti pameran di dalam maupun diluar negeri, atau membuat situs di internet. Namun juga mereka mengandalkan arshop-arshop yang mereka miliki di wilayah sepanjang jalan Kasongan. Tampaknya pasar seni kerajinan yang terpadu dalam sebuah lokasi membuat para buyer yang semula datang untuk membeli seni kerajinan Keramik pada beberapa buyer juga melirik produk non gerabah yang juga ikut dijajakan di wilayah sepanjang jalan Kasongan.
Sebagai desa wisata Kasongan telah mampu menjadi salah satu tujuan wisata yang baik. Ketertarikan dengan wilayah ini telah membuat Kasongan memiliki daya tarik tersendiri pada para buyer. Sebagai wilayah kedua yang didatangi oleh para buyer lepasan dari Bali, maka Kasongan sebagai pilihan utama bagi para wisatawan terutama yang suka berbinis dalam bidang seni kerajinan. Kasongan telah hadir sebagai representasi wilayah Bantul bahkan Yogyakarta sebagai pusat seni kerajinan yang dihasilkan dari wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Meskipun Malioboro telah hadir dan menampilkan produk seni kerajinan Yogyakarta para buyer yang telah mendalami bisnisnya tentu menghindari Malioboro untuk negosiasi bisnisnya. Inilah yang membuat daya tarik Kasongan semakin menjadi ketika produk hadir sebagai ujung tombak dalam meraih pasar di sepanjang kiri-kanan jalan Kasongan itu.
Perusahaaan yang memiliki kapasitas dapat melayani buyer dalam skala container tentu melakukan upaya pemasaran yang lebih luas. Salah satu produk pameran seni kerajinan yang bertarap internasional adalah Trade Ekspo Indonesia (TEI) pada bulan Oktober tiap tahunnya dan IFFINA pada bulan maret adalah dua pameran besar internasional di Indonesia yang sering diikuti oleh para pengusaha yang telah memiliki system managemen yang baik, atau perusahaan yang berorientisasi ekspor. Ada juga pmeran INACRAFT yang diselenggarakan bulan April yang lebih focus utuk pasar local, juga menjadi salah satu alternative pasar dalam negeri.
Namun demikian pemasaran pada tingkat ke dua adalah pemasaran yang memang khusus mensuplay para trading yang dibawa berpameran internasional itu. Mereka memposisikan diri sebagi penyuplay saja, mereka tidak mau melakukan pameran sebab akan terjadi benturan diantara pembeli dan produsen yang ikut serta dalam sebuah event pameran. Demikian pula kegiatan pameran luar negeri beberapa pengusaha yang telah berpameran internasional dalam negeri, tentu tidak mau berpameran di luar negeri dengan kondisi tujuan pasar yang sama dengan buyernya. Memang etika menjadi sangat penting, posisi pasar yang mana yang akan diambil.
Sebuah kegiatan bisnis tentu memiliki pola dan langkah yang tepat dalam melakukan kegiatan pemasaran. Kantong mana yang akan di jelajah sesuai dengan kapasitas masing masing. Sebuah sentra seni kerajinan seperti Kasongan para pengrajinnya memiliki tingkat managemen yang berbeda-beda, yang lebih kecil akan mensuplay pada perusahaan yang lebih besar, baik dalam sistem produksi maupun pemasaran. Keduanya menjadi sangat penting dan terjadinya sinergisme yang baik dalam suasana saling menguntungkan. Jika berat sebelah maka sebuah usaha akan mengalami penurunan.
E. Penutup
Pemasaran seni kerajinan terutama seni kerajinan Keramik mermiliki pola pemasaran yang menyesuaikan dengan kapasitas usaha seni kerajinan Keramik itu. Usaha-usaha pemasaran yang dilakukan adalah:
1. Menjajakan secara berkeliling, terutama barang peralatan rumah tangga
2. Acongan, terutama saat musim wisata di beberapa wilayah yang dikunjungi wisatawan seperti di Alun-alun Utara.
3. Memiliki Showroom di pinggir jalan Kasongan.
4. Mengikuti Pameran-pameran local dan Internasional
5. Membuta situs pemasaran melalui Internet.
6. Adanya guide yang membawa tamu ke showroom/studio dengan memberi imbalan “brengos” yang umumnya lima persen.
Hal itu beberapa hal yang dapat penulis disampaikan ada kurangnya mohon maaf.
F. Tentang Penulis
Nama Timbul Raharjo, bertempat tinggal di Kasongan Kab. Bantul Yogyakarta. Lahir di Kasongan 39 tahun yang lalu. Tahun 2008 menyelesaikan program Doktor di Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada. Tahun 2007 menerima anugerah UPAKARTI dari Presiden, dan menjadi pengusaha terbaik empat versi Dji Sam Sue. Mengajar di Jurusan Kriya ISI Yogyakarta, Memiliki studio Timboel Keramik di Kasongan.
Kamis, 07 Mei 2009
Penciptaan Seni Kriya dalam Ranah Suvenir
A. Pendahuluan
Terima kasih kepada panitia penyelenggara sebab penulis diberi kesempatan pada hari ini untuk bertukar pikiran dengan para guru sekolah menengah pertama. Dalam kesempatan ini penulis sampaikan bahwa pola pengajaran pendidikan pada tingkat pertama selalu dimulai dengan bentuk-bentuk pembelajaran bersifat mendasar. Sebab pengetahuan seni tentu dikaitkan dengan selera orang per-orang yang deisebut dengan rasa seni atau art test. Ada orang yang dengan cepat dapat menyesuaikan dengan kreteria basig design dalam estetika, ada pula yang susah untuk segera menyesuaikan dengan rasa seni itu, namun bahkan ada yang pas dengan cita rasa seni itu, yakni dengan hasil kreatifitas yang luar biasa. Kepekaan meilihat, merasakan, mewujudkan dan mengapreasikan menjadi momentum yang baik dalam menelusuri kreatifitas. Oleh karena itu pembuatan suvenirpun dalam tataran tertentu juga harus memperhitungkan bagaimana sebuah suvenir hadir untuk menjawab tantangan konsumen yang meginginkannya. Jika dalam membuat suvenir diperhitungkan dengan baik, maka akan segera terakomodasi sebagai produk yang siap dikonsumsi masyarakat.
Dalam pembuatan suvenir memang belum ada aturan pembantasan secara khusus, sebab suvenir itu umumnya berukuran kecil. Sebagai barang yang diapakai sebagai kenang-kenangan , tanda mata, cenderamata, atau apalah yang sifatnya memeberikan bentuk pengingatan akan suatu peristiwa atau telah berkunjung pada suatu tempat dan lain sebagainya. Oleh karena itu umumnya suvenir berukuran kecil agar mudah dibawa oleh orang yang menginginkan atau diberi sebagai produk pengingat agar terkenang terus ketika suatu hari melihat produk itu. Kenangan itu akan hadir manakala telah datang rentang waktu atau masa sesudahnya dan berefek pada pelamunan akan peristiwa yang diwakili oleh suvenir itu. Sungguh merupakan kenangan yang menarik, yang menyedihkan, mengharukan atau bahkan menjengkelkan. Namun peristiwa adalah bentuk kenangan yang telah menjadi sejarah akan peristiwa lampau yang saat ini situasinya berbeda. Untuk itu kenangan pada umumya adalah kenangan yang manis agar menumbuhkan gairah kesenangan baru ketika menikmati suvenir itu.
Baiklah dalam kesempatan ini seni kriya diciptakan sebagai suvenir diharapakn sebagai bagian penting dalam proses pembelajaran. Dalam dunia pendidikan seni sampai saat ini belum diberikan porsi yang layak dalam kurikulum di Indonesia, sehingga porsi dan posisi pembelajaran seni senantiasa dirasa masih belum berpihak alias kurang, padahal seni merupakan pembentuk dasar kepekaan seseorang akan kehalusan, keunikan, dan estitika. Beberapa Negara maju telah memposisikan seni sebagai pra-empiris untuk membentuk rasa kehalusan jiwa, sehingga kepekaan akan esteika dapat diterapkan atau terbawa ke berbagai bidang kegiatan yang mereka geluti.
Sementara di Indonesia sebagai Negara berkembang kegiatan seni dalam hal ini seni kerajinan pada kenyataanya banyak mengandalkan pada ketrampilan tangan. Kegiatan ini dilakukan oleh masyarakat pengrajin yang tersebar di beberapa sentra seni kerajinan yang berkembang di Indonesia. Kandungan nilainya tambahnya adalah nilai seni dan keunikannya dari olah ketrampilan tangan. Orang asing sering menyebut dengan keunikan Asia, seni yang berciri khas dan bersumber inspirasi benda-benda budaya timur (ancient art). Karena bermula dari seni tradisi, maka terdapat anggapan persoalan kreatifitas hanya terbentuk dari daya peniruan atas seni tradisi tanpa ada perubahan. Jika hanya bentuk pengulangan yang terus menerus menjadi hambar nilai kreatifitasnya, bahkan dikawatirkan dianggap primitive. Tampaknya jenis seni apapun yang berhasil dengan daya kreatifitas dan inovasinya akan segera terapresiasi penggemarnya tanpa mempertimbangkan primitive, modern, atau tradisi.
Nah dengan demikian dalam pembuatan suvenir perlu adanya sebuah pengetahuan dalam bidang seni kriya agar pembuatan suvenir memiliki daya tarik tersendiri bagi calon pemakainya. Perhitungan dan pertimbangan dalam membuat suvenir perlu diberikan rambu-rambu yang baik agar suvenir yang diciptakan memiliki kreteria sebagai suvenir yang unik dan menarik. Kemenarikan itu akan terpancar pada sisi karakter yang terdiri dari daya kreatifitas, pemilihan bahan, bentuk, finishing, dan ide yang original. Didukung dengan pola produksi dan pola pasar, maka akan tercipta suvenir yang “bagus”. Arti bagus disini menurut penulis sangat relative, bisa bagus karena bentuknya yang unik bagi pada perasaan pembuatnya, bagus karena cepat laku, atau bagus karena menjuarai pada lomba suvenir. Bagus dan tidak tentunya tergantung pada kandungan esteis, makna, dan tentunya test seni. Jika suvenir telah dijadikan mata pencaharian, maka bagus itu adalah cepat laku, jika sebagai koleksi pribadi bagus karena ia suka, dan lain sebagainya. Namun dalam persoalan ini pembekalan pengetahuan bagi para guru tentu dimulai dari bagaimana membuat produk agar supaya bagus dalam arti kreteria telah terpenuhi yakni bagaimana menggugah daya kreatifitas anak didik agar dapat mau untuk membentuk seni dari hasil pengamatan yang ada disekitarnya dan dijadikan seuatu yang bermanfaat.
Nah bagaimana membuat seni kriya dalam ranah suvenir ini menjadi bagus, maka penulis mencoba untuk membuat beberapa masukan agar dapat dipakai sebagai pengetahuan dalam membentuk suvenir. Bukan saja membuat suvenir yang dilihat dari sisi basig design melalui bentuk saja, namun perhitungan tentang budaya, bahan, produksi, dan marketnya memegang peran sangat penting. Hal ini agar anak didik memiliki gambaran holistic apa fungsi dari suvenir secara utuh.
B. Pemilihan Bahan
Indonesia memiliki keunikan bahan baku yang dapat dieksplorasi menjadi produk yang memiliki nilai tambah melalui sentuhan kreatifitas. Bahan mentah atau row material di Indonesia banyak diekspor tanpa kita tahu kegunaan selanjutnya, seperti bijih besi, rotan, kapur, dan lain sebagainya. Tentu dibutuhkan manusia-manusia yang memiliki kemampuan untuk mengeksplorasi sebuah bahan yang melimpah dan tampak tidak berguna itu diubah menjadi sesuatu yang memiki nilai lebih, sehingga memiliki daya jual yang lebih baik dari pada row material yang ada. Salah satunya dibentuk menjadi barang seni kriya. Kepekaan terhadap bahan yang ada di alam sangat diperlukan, semisal sebuah daun kering yang kemudian ditekok, dilipat, dan dilem menjadi sebuah bunga yang menarik. Sepotong kayu bakar yang kemudian diberi sentuhan guratan, dan diberi tulisan dapat dibuat sebuah suvenir yang berfungsi sebagai gantungan kunci.
Kepekaan melihat dan mengamati bahan yang ada disekitar kriyawan menjadi hal yang perlu ditekankan bagi anak didik kita. Siswa diajari bagaimana melihat suatu bahan yang tampak tidak berguna itu menjadi sesuatu yang bermanfaat. Dengan cara demikian kreatifitas anak didik akan terus terasah untuk memanfaatkan bahan itu, dalam bahasa Jawa “reko-reko” dengan rekaannya pasti memunculkan sesuatu yang berbeda dari asal mula bahan sebelumnya. Dengan demikian bahan baku tidak harus dibeli dari toko, atau impor dari luar negeri. Eksplorasi bahan sendiri memiliki keuntungan yang luar biasa, sperti bahan tidak usah beli sehingga menekan cost produksi dan pasti jika dijual memiliki keuntungan lebih besar. Pertimbangan ini telah terbukti ketika krisis ekonomi tahun 1997 dimana sektor konglomerasi bangkrut karena semua atau sebagian besar bahannya import dari manca Negara. Oleh karena harga bahan impor dan saat itu ternyata harganya melambung tinggi, sehingga harga jualnya tidak sebanding dengan cost produksinya. Bahkan pasar yang dituju ternyata pasar local, yakni dalam negeri yang juga sedang krisis saat itu. Bahan yang didapat dari lokal saat krisis itu mampu bertahan sebagi contoh maraknya order kepada sentra seni kerajinan kayu Jepara, Keramik Kasongan, Sebatu Tegalalang Bali, mereka taun 1997 meraup keuntungan yang luar biasa karena salah satunya berbahan lokal.
Sekali lagi pemilihan bahan bagi para pembuat suvenir pemula penting sebagai penggugah kreatifitas. Mereka dapat membayangkan akan dibentuk seperti apa bahan itu, misalnya bahan berupa tanah liat maka dibuatlah seni kerajinan keramik, kayu dapat dibuat seni kriya suvenir dalam kerajinan kayu, bebatuan maka dapat dibentuk patung, jika berupa powder maka dapat dibentuk dengan menggunakan bahan katalisator seperti semen atau lem. Katalisator tersebut dapat menguatkan powder dan bersifat keras setelah pembentukan selesai. Jika bahan yang ditemui dedaunan maka dapat dibentuk bunga-bungaan atau bentuk lain yang memiliki keunikan tersendiri. Bahkan lumpur Lapindo yang jutaan kubik itu dapat dimanfaatkan untuk membuat seni kerajinan keramik, patung, atau suvenir apapun dengan cara dibakar, ditambah semen, resin dan lain sebahgainya. Nah kepekaan mengolah bahan ini menjadi penting untuk membuat sebuah produk suvenir yang memiki karakter bahan lokal.
C. Sumber Inspirasi
Sumber inspirasi adalah ilham yakni sebuah bentuk tertentu untuk memancing sebuah kreatifitas terhadap penentuan sebuah tindakan atau membuat sesuatu. Sebagai sebuah angan-angan yang muncul dari hati, bisikan hati, atau sesuatu yang menggerakan hati untuk mencipta, bahkan bisikan dari tuhan seperti para Nabi. OLeh karena itu sumber inspirasi adalah awal munculnya angan-angan untuk membentuk sebuah suvenir yang didapat dari pancingan sumber itu. Tindakan kreatifitas diawali dengan sumber yang didapat dari sebuah bentuk yang ada baik yang berupa artefak sejarah, simbol penting dari sebuah ciri wilayah dan lain sebagainya. Upaya penciptaan itu dilandasi dengan angan-angan bahwa sebuah suvenir memiliki daya pikat dan daya kenang yang kuat dari sebuah bentuk sumber inspirasi yang dipilih. Pemilihan sumber tentu diperhitungkan sebagai salah satu image dengan mengambil sumber inspirasi lambing kota, wilayah, cerita-cerita mitos, dan lain sebagainya. Ciri khas inilah yang membuat suvenir menjadi berharga.
Budaya sebagai sumber inspirasi dalam penciptaan suvenir penting terutama yang berhungan dengan bentuk suvenir berkaitan dengan pariwisata. Pemerintah daerah pada umumnya mengupayakan bentuk-bentuk suvenir yang khas daerahnya. Surabaya memiliki banyak artefak budaya yang dapat dieksplorasi sebagai sumber inspirasi pembentukan barang suvenir. Peninggalan yang sifatnya masa lampau seperti artefak Kerajaan Majapait, bahkan cerita Sura dan Baya yang melegenda sebagai mitos yang akrap ditelinga masyarakat Surabaya sebagai cerita awal munculnya kota Surabaya. Bentuk-bentuk itu dapat dieksplorasi dengan media bahan yang telah dipilih sebagai bahan pembuat suvenir. Kegiatan pariwisata di Surabaya sebagai bentuk upaya pemerintah daerah dalam menggalakan kunjungan wisata. Wisatawan menginginkan bentuk kenangan yang berkhas Surabaya. Dengan demikian diperlukan upaya-upaya eksplorasi bentuk-bentuk simbol umum yang dapat memberikan image pada wisatawan tentang Surabaya. Hal ini sesuai dengan program pemerintah tentang upaya percepatan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat.
Bentuk-bentuk lain tentu juga menjadi pertimbanagn manakala sebuah suvenir dipesan dengan desain dari pemesan seperti logo pertamina, logo sebuah merk dagang tertentu, dan lain sebagainya. Simbol itu kemudian digarap dengan daya kreatifitas seorang pembuat suvenir sehingga memenuhi kreteria yang diinginkan konsumen. Lain lagi ketika suvenir itu dibentuk bukan atas permintaan dari para pemesan yakni suvenir yang ciptakan dari kreasi sendiri yang berinpirasi dari angan-angan yang tidak begitu jelas tetapi karakter bahan lebih ditonjolkan. Jika suvenir itu diproduksi secara masal dalam suatu desa atau wilayah, maka jenis inipun lambat laun menjadi ciri khas daerah itu. Oleh karena itu simbol yang ada di sebuah wilayah dapat ditentukan dari seberapa besar nelai kepentingan dan impresi yang dimunculkan dan simbol, artefak maupun hasil dari angan-angan itu.
D. Fungsi Suvenir
Kombinasi pemilihan bahan dan pemilihan sumber inspirasi sangat penting dalam membekali anak didik dalam memahami pada suvenir yang dibuat dengan tujuan tertentu. Artefak dan simbol wilayah adalah penting sebagai dasar pembentukan suvenir yang dikonsumsi oleh para wisatawan, tamu Negara, atau tamu pribadi yang sengaja berkunjung. OLeh karena itu bentuk selalu berubah sesuai dengan kebutuhan. Tujuan dibuat suvenir pada umumnya di peruntukkan:
Suvenir pemenuh kebutuhan pariwisata
Suvenir untuk kebutuhan acara pernikahan
Suvenir untuk kebutuhan acara peresmian
Suvenir untuk acara promosi
Suvenir untuk acara kunjungan
Suvenir untuk acara pertemuan ilmiah
Suvenir untuk ulang tahun
Dan lain sebagainya.
Kebutuhan suvenir untuk pariwisata di beberapa wilayah tujuan kunjungan wisata telah hadir berbagai bentuk suvenir. Bahan dan bentuknya telah beraneka ragam, seperti berbahan kerang, kayu, logam, bahkan testile seperti kaos oblong dan lain sebagainya. Mereka menawarkan berbagai suvenir ini untuk dikonsumsi wisatawan yang berkunjung di sana. Suvenir yang sering menjadi primadona oleh para pengrajin adalah suvenir yang dipakai dalam upacara pernikahan. Suvenir ini memiliki pangsa yang luar biasa sebab pada bulan-bulan tertentu pada masyarakat Jawa misalnya banyak acara pernikahan yang memerlukan suvenir. Sentra-sentra industri suvenir pada bulan tertentu itu banyak diserbu oleh para pasangan muda yang akan menyelenggarakan pernikahan. Hanya sayangnya beberapa tahun ini produk-produk Cina mendominasi dipasar Indonesia dengan harga yang relative murah dan berteknologi tinggi seperti “ceklikan kuku”, sisir dan kaca, bola berlampu dan lain sebagainya, sehingga produk lokal mengalami penurunan omset produksi.
Untuk acara peresmian, promosi, pertemuan ilmiah, dan lain sebagainya tentu menggunakan bentuk yang sesuai dengan program kegiatan itu. Oleh karena itu bentuknya mengikuti apa yang sedang di upacarakan. Suvenir seperti ini juga jumlah dan macam bahannnya bervariasi, namun karena untuk pemenuhan modernisasi sebuah promosi, maka umumnya menggunakan material yang lebih modern seperti logam, resin bening dan lain sebagainya. Nilai luxurious dikedepankan sebagai image yang baik untuk mengangkat produk yang sedang dipromosikan.
E. Teknik Produksi
Teknik Produksi dalam membuat suvenir mengikuti produk seperti apa yang akan dibuat, bahan apa, dan finishing seperti apa. Oleh karena produk suvenir umumnya berukuran kecil, mudah dibawa, dan jumlahnya banyak, maka perlu peralatan yang tidak saja mengandalkan kehalusan ketrampilan tangan, namun agar ukuran dan stabilisasi bentuk tercapai maka upaya modernisasi dengan percepatan produksi, oleh karenaya upaya pembentukan dengan mesin dilakukan. Hasil akhir sentuhan tangan perlu dikedepankan terutama untuk produk suvenir yang memiliki keunikan terutama pada karakter pada ketrampilan tangan. Pengetahuan dan pemahaman produksi dalam pendidikan ditekankan pada system yang sederhana dan mudah, tidak sulit dan terjangkau. Bagi anak didik, bentuk-bentuk yang sederhana itu sebagai upaya untuk mamancing kreatifitas. Pada umumnya kreatifitas dalam persoalan produksi akan terbentuk ketika telah menemui berbagai persoalan pekerjaan yang mengharuskan pada penyelesaian tepat waktu, tepat kualitas, dan tepat management.
Perjalanan penciptaan diawali dari pemilihan bahan, sumber inspirasi, sketsa, detail gambar, perwujudan, finishing, dan pemasaran adalah hal-hal yang saling berkaitan. Pengetahuan ini sangat penting, sebab dalam produksi harus berimbang dengan bagaimana kesediaan bahan, dan kemampuan pasar menerima produk suvenir itu. Suvenir akan berhasil apabila terlah ada wujud sesuai dengan kaidah desain yang ada, apalagi jika telah laku dijual. Pengetahuan tentang urusan memproduksi dan berjualan, selanjutnya dapat membekali anak didik menjadi seorang entrepreneur dalam bidang pembuatan seni kriya, terkhusus pada bisnis pembuatan suvenir. Dengan demikian kreatifitas mereka terbangkitkan yang akan memberi efek eksplorasi pada tindakan lain yang lebih bermanfaat.
Kegiatan memancing kreatifitas adalah bagian dari kewirausahaan, produktifitas, dan upaya managerial yang baik akan membentuk sebuah usaha yang madiri. Kemandiriannya akan ditentukan oleh kesetabilan berproduksi dan bagaimana upaya memasarkan produk. Umumnya mereka menemui peningkatan yang luar biasa, namun kurangnya kegigihan dan pengaturan proses produksi maka mereka mulai bosan, kualitas turun, dan akhirnya bangkrut. Apalagi menggunakan system management yang ala kadarnya pastilah tidak akan bertahan lama. Oleh karena itu, ada dua usaha yang harus dipertahankan yakni upaya ke luar dan upaya ke dalam. Upaya ke luar adalah bagimana menjaga para pelanggan untuk terus menggunakan produknya. Dan upaya ke dalam bagaimana meningkatkan produktifitas yang berkaitan dengan supplier, tenaga kerja, dan “tetek bengek” persoalan yang ada dalam system produksi yang sering memusingkan kepala. Belum lagi jika ada pelanggan yang ngutang, atau karyawan yang ingin pinjam uang, dan lain sebagainya.
F. Sistem Regenerasi
Penulis sering dihadapkan pada persoalan regenerasi pada sentra seni kerajinan. Umumnya generasi baru tidak mau melanjutkan usaha orang tuanya, seperti yang terjadi pada industri kerajinan keramik di Godean Sleman Yogyakarta, anak-anak mereka lebih senang bekerja di perkotaan sebagai buruh pabrik tekstile, penjaga toko, buruh bangunan, dan lain sebagainya. Mereka lupa ketika ia sekolah dibiayai dengan seni kerajinan keramik yang dibuat oleh orang tuanya. Ada anggapan usaha orang tuanya “tidak keren”, ndeso, dan tidak modern. Dengan demikian tinggallah orang tua yang renta tetap membentuk seni keramik itu, sementara generasi mudanya pergi ke kota yang belum tentu memiliki prospek yang baik.
Dalam persolan ini, tentu pendidikan yang diupayakan terhadap anak didik agar mencintai pada hasil kreatifitasnya. Jika telah mencintai kreatifitasnya mereka akan mengupayakan kreatifitas yang lain dalam membentuk jatidirinya. Karakter, keberanian, mengungkapkan kreatifitasnya menjadi point yang penting dalam upaya menumbuhkan keberanian. Memang tidak semudah apa yang ditulis di sini, namun paling tidak upaya membentuk anak didik itu menjadi fokus utama untuk meberikan karakter entrepreneurship sebagai bekal hidup mereka. Nah.. dengan demikian upaya memberikan “pangalembono” terhadap anak didik terus diberikan yang kemudian diberi kritikan yang berupa masukan agar keberanian membuat terus dilakukan tanpa takut mendapat celaan dari guru pengajarnya.
G. Penutup
Sebuah kreatifitas untuk mencipta mencipta souvenir patut memperhitungkan kemungkinan munculnya ide yang original. Tentu kita tidak dapat berharap semua siswa harus menggeluti suvenir sebagai jalan hidupnya, namun pembuatan suvenir sebagai upaya memancing kreatifitas siswa untuk berbuat sesuatu yang bermanfaat dan bernilai seni. Pola pikir untuk membuat sebuah barang suvenir perlu pengetahuan bahwa sebuah suvenir memiliki latar belakang dan tujuan ke depan yang luas, yakni dimulai pemilihan bahan, sumber inspirasi, managerial, produksi, sampai pada bagaimana cara pemasaran, dan kreteria apa agar sebuah produk dapat disebut suvenir.
Bagi para guru dipersilahkan untuk mengupayakan pancingan kreatifitas terutama dalam membuat suvenir yang baik dan benar. Dalam kesempatan ini teman-teman guru sekalian akan membentuk sebuah produk berbahan gabus/stereophon, dengan pertimbangan gabus ringan, mudah didapat dan yang penting mudah dibentuk dan difinishing. Oleh karena itu pelaksanaan ini sebagai upaya untuk mengeksplorasi bentuk. Sementara sumber inspirasi dipersilahkan dapat mengakomodasi dari bentuk-bentuk artefak yang ada, symbol yang ada atau bahkan kreatifitas masing-masing. Produk yang dapat pula dilihat dari fungsinya seperti tempat pensil, asbak, tempat kunci dan lain sebagainya.
Demikian jika ada kekurangan penulis mohon maaf, terima kasih….
Terima kasih kepada panitia penyelenggara sebab penulis diberi kesempatan pada hari ini untuk bertukar pikiran dengan para guru sekolah menengah pertama. Dalam kesempatan ini penulis sampaikan bahwa pola pengajaran pendidikan pada tingkat pertama selalu dimulai dengan bentuk-bentuk pembelajaran bersifat mendasar. Sebab pengetahuan seni tentu dikaitkan dengan selera orang per-orang yang deisebut dengan rasa seni atau art test. Ada orang yang dengan cepat dapat menyesuaikan dengan kreteria basig design dalam estetika, ada pula yang susah untuk segera menyesuaikan dengan rasa seni itu, namun bahkan ada yang pas dengan cita rasa seni itu, yakni dengan hasil kreatifitas yang luar biasa. Kepekaan meilihat, merasakan, mewujudkan dan mengapreasikan menjadi momentum yang baik dalam menelusuri kreatifitas. Oleh karena itu pembuatan suvenirpun dalam tataran tertentu juga harus memperhitungkan bagaimana sebuah suvenir hadir untuk menjawab tantangan konsumen yang meginginkannya. Jika dalam membuat suvenir diperhitungkan dengan baik, maka akan segera terakomodasi sebagai produk yang siap dikonsumsi masyarakat.
Dalam pembuatan suvenir memang belum ada aturan pembantasan secara khusus, sebab suvenir itu umumnya berukuran kecil. Sebagai barang yang diapakai sebagai kenang-kenangan , tanda mata, cenderamata, atau apalah yang sifatnya memeberikan bentuk pengingatan akan suatu peristiwa atau telah berkunjung pada suatu tempat dan lain sebagainya. Oleh karena itu umumnya suvenir berukuran kecil agar mudah dibawa oleh orang yang menginginkan atau diberi sebagai produk pengingat agar terkenang terus ketika suatu hari melihat produk itu. Kenangan itu akan hadir manakala telah datang rentang waktu atau masa sesudahnya dan berefek pada pelamunan akan peristiwa yang diwakili oleh suvenir itu. Sungguh merupakan kenangan yang menarik, yang menyedihkan, mengharukan atau bahkan menjengkelkan. Namun peristiwa adalah bentuk kenangan yang telah menjadi sejarah akan peristiwa lampau yang saat ini situasinya berbeda. Untuk itu kenangan pada umumya adalah kenangan yang manis agar menumbuhkan gairah kesenangan baru ketika menikmati suvenir itu.
Baiklah dalam kesempatan ini seni kriya diciptakan sebagai suvenir diharapakn sebagai bagian penting dalam proses pembelajaran. Dalam dunia pendidikan seni sampai saat ini belum diberikan porsi yang layak dalam kurikulum di Indonesia, sehingga porsi dan posisi pembelajaran seni senantiasa dirasa masih belum berpihak alias kurang, padahal seni merupakan pembentuk dasar kepekaan seseorang akan kehalusan, keunikan, dan estitika. Beberapa Negara maju telah memposisikan seni sebagai pra-empiris untuk membentuk rasa kehalusan jiwa, sehingga kepekaan akan esteika dapat diterapkan atau terbawa ke berbagai bidang kegiatan yang mereka geluti.
Sementara di Indonesia sebagai Negara berkembang kegiatan seni dalam hal ini seni kerajinan pada kenyataanya banyak mengandalkan pada ketrampilan tangan. Kegiatan ini dilakukan oleh masyarakat pengrajin yang tersebar di beberapa sentra seni kerajinan yang berkembang di Indonesia. Kandungan nilainya tambahnya adalah nilai seni dan keunikannya dari olah ketrampilan tangan. Orang asing sering menyebut dengan keunikan Asia, seni yang berciri khas dan bersumber inspirasi benda-benda budaya timur (ancient art). Karena bermula dari seni tradisi, maka terdapat anggapan persoalan kreatifitas hanya terbentuk dari daya peniruan atas seni tradisi tanpa ada perubahan. Jika hanya bentuk pengulangan yang terus menerus menjadi hambar nilai kreatifitasnya, bahkan dikawatirkan dianggap primitive. Tampaknya jenis seni apapun yang berhasil dengan daya kreatifitas dan inovasinya akan segera terapresiasi penggemarnya tanpa mempertimbangkan primitive, modern, atau tradisi.
Nah dengan demikian dalam pembuatan suvenir perlu adanya sebuah pengetahuan dalam bidang seni kriya agar pembuatan suvenir memiliki daya tarik tersendiri bagi calon pemakainya. Perhitungan dan pertimbangan dalam membuat suvenir perlu diberikan rambu-rambu yang baik agar suvenir yang diciptakan memiliki kreteria sebagai suvenir yang unik dan menarik. Kemenarikan itu akan terpancar pada sisi karakter yang terdiri dari daya kreatifitas, pemilihan bahan, bentuk, finishing, dan ide yang original. Didukung dengan pola produksi dan pola pasar, maka akan tercipta suvenir yang “bagus”. Arti bagus disini menurut penulis sangat relative, bisa bagus karena bentuknya yang unik bagi pada perasaan pembuatnya, bagus karena cepat laku, atau bagus karena menjuarai pada lomba suvenir. Bagus dan tidak tentunya tergantung pada kandungan esteis, makna, dan tentunya test seni. Jika suvenir telah dijadikan mata pencaharian, maka bagus itu adalah cepat laku, jika sebagai koleksi pribadi bagus karena ia suka, dan lain sebagainya. Namun dalam persoalan ini pembekalan pengetahuan bagi para guru tentu dimulai dari bagaimana membuat produk agar supaya bagus dalam arti kreteria telah terpenuhi yakni bagaimana menggugah daya kreatifitas anak didik agar dapat mau untuk membentuk seni dari hasil pengamatan yang ada disekitarnya dan dijadikan seuatu yang bermanfaat.
Nah bagaimana membuat seni kriya dalam ranah suvenir ini menjadi bagus, maka penulis mencoba untuk membuat beberapa masukan agar dapat dipakai sebagai pengetahuan dalam membentuk suvenir. Bukan saja membuat suvenir yang dilihat dari sisi basig design melalui bentuk saja, namun perhitungan tentang budaya, bahan, produksi, dan marketnya memegang peran sangat penting. Hal ini agar anak didik memiliki gambaran holistic apa fungsi dari suvenir secara utuh.
B. Pemilihan Bahan
Indonesia memiliki keunikan bahan baku yang dapat dieksplorasi menjadi produk yang memiliki nilai tambah melalui sentuhan kreatifitas. Bahan mentah atau row material di Indonesia banyak diekspor tanpa kita tahu kegunaan selanjutnya, seperti bijih besi, rotan, kapur, dan lain sebagainya. Tentu dibutuhkan manusia-manusia yang memiliki kemampuan untuk mengeksplorasi sebuah bahan yang melimpah dan tampak tidak berguna itu diubah menjadi sesuatu yang memiki nilai lebih, sehingga memiliki daya jual yang lebih baik dari pada row material yang ada. Salah satunya dibentuk menjadi barang seni kriya. Kepekaan terhadap bahan yang ada di alam sangat diperlukan, semisal sebuah daun kering yang kemudian ditekok, dilipat, dan dilem menjadi sebuah bunga yang menarik. Sepotong kayu bakar yang kemudian diberi sentuhan guratan, dan diberi tulisan dapat dibuat sebuah suvenir yang berfungsi sebagai gantungan kunci.
Kepekaan melihat dan mengamati bahan yang ada disekitar kriyawan menjadi hal yang perlu ditekankan bagi anak didik kita. Siswa diajari bagaimana melihat suatu bahan yang tampak tidak berguna itu menjadi sesuatu yang bermanfaat. Dengan cara demikian kreatifitas anak didik akan terus terasah untuk memanfaatkan bahan itu, dalam bahasa Jawa “reko-reko” dengan rekaannya pasti memunculkan sesuatu yang berbeda dari asal mula bahan sebelumnya. Dengan demikian bahan baku tidak harus dibeli dari toko, atau impor dari luar negeri. Eksplorasi bahan sendiri memiliki keuntungan yang luar biasa, sperti bahan tidak usah beli sehingga menekan cost produksi dan pasti jika dijual memiliki keuntungan lebih besar. Pertimbangan ini telah terbukti ketika krisis ekonomi tahun 1997 dimana sektor konglomerasi bangkrut karena semua atau sebagian besar bahannya import dari manca Negara. Oleh karena harga bahan impor dan saat itu ternyata harganya melambung tinggi, sehingga harga jualnya tidak sebanding dengan cost produksinya. Bahkan pasar yang dituju ternyata pasar local, yakni dalam negeri yang juga sedang krisis saat itu. Bahan yang didapat dari lokal saat krisis itu mampu bertahan sebagi contoh maraknya order kepada sentra seni kerajinan kayu Jepara, Keramik Kasongan, Sebatu Tegalalang Bali, mereka taun 1997 meraup keuntungan yang luar biasa karena salah satunya berbahan lokal.
Sekali lagi pemilihan bahan bagi para pembuat suvenir pemula penting sebagai penggugah kreatifitas. Mereka dapat membayangkan akan dibentuk seperti apa bahan itu, misalnya bahan berupa tanah liat maka dibuatlah seni kerajinan keramik, kayu dapat dibuat seni kriya suvenir dalam kerajinan kayu, bebatuan maka dapat dibentuk patung, jika berupa powder maka dapat dibentuk dengan menggunakan bahan katalisator seperti semen atau lem. Katalisator tersebut dapat menguatkan powder dan bersifat keras setelah pembentukan selesai. Jika bahan yang ditemui dedaunan maka dapat dibentuk bunga-bungaan atau bentuk lain yang memiliki keunikan tersendiri. Bahkan lumpur Lapindo yang jutaan kubik itu dapat dimanfaatkan untuk membuat seni kerajinan keramik, patung, atau suvenir apapun dengan cara dibakar, ditambah semen, resin dan lain sebahgainya. Nah kepekaan mengolah bahan ini menjadi penting untuk membuat sebuah produk suvenir yang memiki karakter bahan lokal.
C. Sumber Inspirasi
Sumber inspirasi adalah ilham yakni sebuah bentuk tertentu untuk memancing sebuah kreatifitas terhadap penentuan sebuah tindakan atau membuat sesuatu. Sebagai sebuah angan-angan yang muncul dari hati, bisikan hati, atau sesuatu yang menggerakan hati untuk mencipta, bahkan bisikan dari tuhan seperti para Nabi. OLeh karena itu sumber inspirasi adalah awal munculnya angan-angan untuk membentuk sebuah suvenir yang didapat dari pancingan sumber itu. Tindakan kreatifitas diawali dengan sumber yang didapat dari sebuah bentuk yang ada baik yang berupa artefak sejarah, simbol penting dari sebuah ciri wilayah dan lain sebagainya. Upaya penciptaan itu dilandasi dengan angan-angan bahwa sebuah suvenir memiliki daya pikat dan daya kenang yang kuat dari sebuah bentuk sumber inspirasi yang dipilih. Pemilihan sumber tentu diperhitungkan sebagai salah satu image dengan mengambil sumber inspirasi lambing kota, wilayah, cerita-cerita mitos, dan lain sebagainya. Ciri khas inilah yang membuat suvenir menjadi berharga.
Budaya sebagai sumber inspirasi dalam penciptaan suvenir penting terutama yang berhungan dengan bentuk suvenir berkaitan dengan pariwisata. Pemerintah daerah pada umumnya mengupayakan bentuk-bentuk suvenir yang khas daerahnya. Surabaya memiliki banyak artefak budaya yang dapat dieksplorasi sebagai sumber inspirasi pembentukan barang suvenir. Peninggalan yang sifatnya masa lampau seperti artefak Kerajaan Majapait, bahkan cerita Sura dan Baya yang melegenda sebagai mitos yang akrap ditelinga masyarakat Surabaya sebagai cerita awal munculnya kota Surabaya. Bentuk-bentuk itu dapat dieksplorasi dengan media bahan yang telah dipilih sebagai bahan pembuat suvenir. Kegiatan pariwisata di Surabaya sebagai bentuk upaya pemerintah daerah dalam menggalakan kunjungan wisata. Wisatawan menginginkan bentuk kenangan yang berkhas Surabaya. Dengan demikian diperlukan upaya-upaya eksplorasi bentuk-bentuk simbol umum yang dapat memberikan image pada wisatawan tentang Surabaya. Hal ini sesuai dengan program pemerintah tentang upaya percepatan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat.
Bentuk-bentuk lain tentu juga menjadi pertimbanagn manakala sebuah suvenir dipesan dengan desain dari pemesan seperti logo pertamina, logo sebuah merk dagang tertentu, dan lain sebagainya. Simbol itu kemudian digarap dengan daya kreatifitas seorang pembuat suvenir sehingga memenuhi kreteria yang diinginkan konsumen. Lain lagi ketika suvenir itu dibentuk bukan atas permintaan dari para pemesan yakni suvenir yang ciptakan dari kreasi sendiri yang berinpirasi dari angan-angan yang tidak begitu jelas tetapi karakter bahan lebih ditonjolkan. Jika suvenir itu diproduksi secara masal dalam suatu desa atau wilayah, maka jenis inipun lambat laun menjadi ciri khas daerah itu. Oleh karena itu simbol yang ada di sebuah wilayah dapat ditentukan dari seberapa besar nelai kepentingan dan impresi yang dimunculkan dan simbol, artefak maupun hasil dari angan-angan itu.
D. Fungsi Suvenir
Kombinasi pemilihan bahan dan pemilihan sumber inspirasi sangat penting dalam membekali anak didik dalam memahami pada suvenir yang dibuat dengan tujuan tertentu. Artefak dan simbol wilayah adalah penting sebagai dasar pembentukan suvenir yang dikonsumsi oleh para wisatawan, tamu Negara, atau tamu pribadi yang sengaja berkunjung. OLeh karena itu bentuk selalu berubah sesuai dengan kebutuhan. Tujuan dibuat suvenir pada umumnya di peruntukkan:
Suvenir pemenuh kebutuhan pariwisata
Suvenir untuk kebutuhan acara pernikahan
Suvenir untuk kebutuhan acara peresmian
Suvenir untuk acara promosi
Suvenir untuk acara kunjungan
Suvenir untuk acara pertemuan ilmiah
Suvenir untuk ulang tahun
Dan lain sebagainya.
Kebutuhan suvenir untuk pariwisata di beberapa wilayah tujuan kunjungan wisata telah hadir berbagai bentuk suvenir. Bahan dan bentuknya telah beraneka ragam, seperti berbahan kerang, kayu, logam, bahkan testile seperti kaos oblong dan lain sebagainya. Mereka menawarkan berbagai suvenir ini untuk dikonsumsi wisatawan yang berkunjung di sana. Suvenir yang sering menjadi primadona oleh para pengrajin adalah suvenir yang dipakai dalam upacara pernikahan. Suvenir ini memiliki pangsa yang luar biasa sebab pada bulan-bulan tertentu pada masyarakat Jawa misalnya banyak acara pernikahan yang memerlukan suvenir. Sentra-sentra industri suvenir pada bulan tertentu itu banyak diserbu oleh para pasangan muda yang akan menyelenggarakan pernikahan. Hanya sayangnya beberapa tahun ini produk-produk Cina mendominasi dipasar Indonesia dengan harga yang relative murah dan berteknologi tinggi seperti “ceklikan kuku”, sisir dan kaca, bola berlampu dan lain sebagainya, sehingga produk lokal mengalami penurunan omset produksi.
Untuk acara peresmian, promosi, pertemuan ilmiah, dan lain sebagainya tentu menggunakan bentuk yang sesuai dengan program kegiatan itu. Oleh karena itu bentuknya mengikuti apa yang sedang di upacarakan. Suvenir seperti ini juga jumlah dan macam bahannnya bervariasi, namun karena untuk pemenuhan modernisasi sebuah promosi, maka umumnya menggunakan material yang lebih modern seperti logam, resin bening dan lain sebagainya. Nilai luxurious dikedepankan sebagai image yang baik untuk mengangkat produk yang sedang dipromosikan.
E. Teknik Produksi
Teknik Produksi dalam membuat suvenir mengikuti produk seperti apa yang akan dibuat, bahan apa, dan finishing seperti apa. Oleh karena produk suvenir umumnya berukuran kecil, mudah dibawa, dan jumlahnya banyak, maka perlu peralatan yang tidak saja mengandalkan kehalusan ketrampilan tangan, namun agar ukuran dan stabilisasi bentuk tercapai maka upaya modernisasi dengan percepatan produksi, oleh karenaya upaya pembentukan dengan mesin dilakukan. Hasil akhir sentuhan tangan perlu dikedepankan terutama untuk produk suvenir yang memiliki keunikan terutama pada karakter pada ketrampilan tangan. Pengetahuan dan pemahaman produksi dalam pendidikan ditekankan pada system yang sederhana dan mudah, tidak sulit dan terjangkau. Bagi anak didik, bentuk-bentuk yang sederhana itu sebagai upaya untuk mamancing kreatifitas. Pada umumnya kreatifitas dalam persoalan produksi akan terbentuk ketika telah menemui berbagai persoalan pekerjaan yang mengharuskan pada penyelesaian tepat waktu, tepat kualitas, dan tepat management.
Perjalanan penciptaan diawali dari pemilihan bahan, sumber inspirasi, sketsa, detail gambar, perwujudan, finishing, dan pemasaran adalah hal-hal yang saling berkaitan. Pengetahuan ini sangat penting, sebab dalam produksi harus berimbang dengan bagaimana kesediaan bahan, dan kemampuan pasar menerima produk suvenir itu. Suvenir akan berhasil apabila terlah ada wujud sesuai dengan kaidah desain yang ada, apalagi jika telah laku dijual. Pengetahuan tentang urusan memproduksi dan berjualan, selanjutnya dapat membekali anak didik menjadi seorang entrepreneur dalam bidang pembuatan seni kriya, terkhusus pada bisnis pembuatan suvenir. Dengan demikian kreatifitas mereka terbangkitkan yang akan memberi efek eksplorasi pada tindakan lain yang lebih bermanfaat.
Kegiatan memancing kreatifitas adalah bagian dari kewirausahaan, produktifitas, dan upaya managerial yang baik akan membentuk sebuah usaha yang madiri. Kemandiriannya akan ditentukan oleh kesetabilan berproduksi dan bagaimana upaya memasarkan produk. Umumnya mereka menemui peningkatan yang luar biasa, namun kurangnya kegigihan dan pengaturan proses produksi maka mereka mulai bosan, kualitas turun, dan akhirnya bangkrut. Apalagi menggunakan system management yang ala kadarnya pastilah tidak akan bertahan lama. Oleh karena itu, ada dua usaha yang harus dipertahankan yakni upaya ke luar dan upaya ke dalam. Upaya ke luar adalah bagimana menjaga para pelanggan untuk terus menggunakan produknya. Dan upaya ke dalam bagaimana meningkatkan produktifitas yang berkaitan dengan supplier, tenaga kerja, dan “tetek bengek” persoalan yang ada dalam system produksi yang sering memusingkan kepala. Belum lagi jika ada pelanggan yang ngutang, atau karyawan yang ingin pinjam uang, dan lain sebagainya.
F. Sistem Regenerasi
Penulis sering dihadapkan pada persoalan regenerasi pada sentra seni kerajinan. Umumnya generasi baru tidak mau melanjutkan usaha orang tuanya, seperti yang terjadi pada industri kerajinan keramik di Godean Sleman Yogyakarta, anak-anak mereka lebih senang bekerja di perkotaan sebagai buruh pabrik tekstile, penjaga toko, buruh bangunan, dan lain sebagainya. Mereka lupa ketika ia sekolah dibiayai dengan seni kerajinan keramik yang dibuat oleh orang tuanya. Ada anggapan usaha orang tuanya “tidak keren”, ndeso, dan tidak modern. Dengan demikian tinggallah orang tua yang renta tetap membentuk seni keramik itu, sementara generasi mudanya pergi ke kota yang belum tentu memiliki prospek yang baik.
Dalam persolan ini, tentu pendidikan yang diupayakan terhadap anak didik agar mencintai pada hasil kreatifitasnya. Jika telah mencintai kreatifitasnya mereka akan mengupayakan kreatifitas yang lain dalam membentuk jatidirinya. Karakter, keberanian, mengungkapkan kreatifitasnya menjadi point yang penting dalam upaya menumbuhkan keberanian. Memang tidak semudah apa yang ditulis di sini, namun paling tidak upaya membentuk anak didik itu menjadi fokus utama untuk meberikan karakter entrepreneurship sebagai bekal hidup mereka. Nah.. dengan demikian upaya memberikan “pangalembono” terhadap anak didik terus diberikan yang kemudian diberi kritikan yang berupa masukan agar keberanian membuat terus dilakukan tanpa takut mendapat celaan dari guru pengajarnya.
G. Penutup
Sebuah kreatifitas untuk mencipta mencipta souvenir patut memperhitungkan kemungkinan munculnya ide yang original. Tentu kita tidak dapat berharap semua siswa harus menggeluti suvenir sebagai jalan hidupnya, namun pembuatan suvenir sebagai upaya memancing kreatifitas siswa untuk berbuat sesuatu yang bermanfaat dan bernilai seni. Pola pikir untuk membuat sebuah barang suvenir perlu pengetahuan bahwa sebuah suvenir memiliki latar belakang dan tujuan ke depan yang luas, yakni dimulai pemilihan bahan, sumber inspirasi, managerial, produksi, sampai pada bagaimana cara pemasaran, dan kreteria apa agar sebuah produk dapat disebut suvenir.
Bagi para guru dipersilahkan untuk mengupayakan pancingan kreatifitas terutama dalam membuat suvenir yang baik dan benar. Dalam kesempatan ini teman-teman guru sekalian akan membentuk sebuah produk berbahan gabus/stereophon, dengan pertimbangan gabus ringan, mudah didapat dan yang penting mudah dibentuk dan difinishing. Oleh karena itu pelaksanaan ini sebagai upaya untuk mengeksplorasi bentuk. Sementara sumber inspirasi dipersilahkan dapat mengakomodasi dari bentuk-bentuk artefak yang ada, symbol yang ada atau bahkan kreatifitas masing-masing. Produk yang dapat pula dilihat dari fungsinya seperti tempat pensil, asbak, tempat kunci dan lain sebagainya.
Demikian jika ada kekurangan penulis mohon maaf, terima kasih….
Label:
SENI KERAJINAN,
Seni Kriya,
suveni
Langganan:
Postingan (Atom)
