Jumat, 12 Maret 2010

Seni Kriya dan Seni Kerajinan dalam Industri Ekonomi Kreatif Oleh Dr. Timbul Raharjo, M. Hum.

A.Pendahuluan
Pada kesempatan yang baik ini penulis menekankan pada persoalan seni kriya yang dikaitkan dengan seni kerajinan, sebab terdapat kerancuan atas keduanya, apalagi jika kita berbicara yang lebih lebar yakni seni rupa, sebab seni kriya dan seni kerajinan merupakan bagian dari ranting pohon seni rupa. Pemahaman tentang seni kriya maupun seni rupa dalam dunia kreatifitas mungkin berbeda namun subtansinya sama. Ruang lingkup seni kriya dan seni kerajinan ini sebenarnya telah menjadi harapan nasional terkait dengan eksplorasi kreatifitas berbasis pada melimpahnya sumber daya alam dan sumber daya manusia bangsa Indonesia, secara prinsip dapat menjawab persoalan seni rupa juga. Dalam hal ini untuk memberikan kejelasan tugas dan fungsi dari seni kriya dan seni kerajinan perlu serba sedikit penulis sampaikan sebagai dasar pemahamannya. Oleh kerena penulis adalah pelaku dalam bidang penciptaan seni kriya dan usaha seni kerajinan, maka penulis benyak menyampaikan pengalaman-pengalaman yang bersifat praktik.
Beberapa hari yang lalu seorang bule marah-marah dengan seorang pengrajin, pasalnya si pengrajin telah memproduksi barang sampelnya dan dipajang di depan rumah si pengrajinan yang difungsikan juga sebagai showroom. Si bule marah karena barang sampelnya takut terjiplak oleh pengrajin lain atau terbeli bule lain yang dikawatirkan merusak pasar si bule itu. Si pengrajin berdalih contoh terlalu lama tidak diambil dan tidak di-order, dari pada tidak laku mending dijual saja, kata si pengrajin. Pengrajin juga tahu bahwa desain milik si bule adalah hasil dari ia memfoto di suatu pameran, ia menganggap itu bukan original desain milik si bule. Sementara itu ada seorang yang datang dengan muka kusut, berpakaian lusuh, dan berambut gimbal sepertinya beberapa hari tidak mandi ia mengaku sebagai kriyawan, tampak juga ikut nimbrung dan kesal dengan si pengrajin dan si bule, pasalnya karya yang mereka persoalkan adalah karya ciptaan si kriyawan itu. Situasi menjadi rumit sebab si kriyawan juga tidak punya bukti jika karya itu rancangan dia. Mereka bertengkar mempersoalkan legal formalnya sebuah karya yang mereka perebutkan sebagai hak siapa. Mata rantainya kemudian dapat dilihat siapa yang rekoso(susah) dan siapa yang mulyo (enak) Kriyawan yang menghasilkan barang adalah sebagai kreator karya seni kriya yang mungkin tetap miskin, si pengrajin sebagai pereproduksi saja bisa jadi kaya, dan si bule salah satu pemegang pasar yang bisa kaya-raya. Kriyawan merasa kreatifitasnya tidak ada yang menghargai bahkan merasa dicuri, pengrajin senang karena mendapat order, dan si bule gembira sebab bisnisnya akan lestari manakala produk yang ditawarkan new design dapat diterima pasar dengan baik.
Pemahaman peran dan fungsi dari masing-masing elemen yang berkecimpung dalam dinamika seni kriya menemukan jalur jalan masing-masing sesuai dengan porsinya. Oleh karena itu nilai-nilai dalam seni kriya dapat diuraikan sebagai dasar pemahaman itu. Tentu persoalan yang rumit antara kriyawan, pengrajin, dan konsumen tidak akan terjadi jika ada kesadaran menempatkan diri dengan baik. Nilai-nilai seni kriya kemudian dapat dijabarkan dalam persoalan ketiga hal tersebut, apalagi seni kriya telah menjadi salah satu preoritas nasional dalam menumbuhkan sifat kreatif pada generasi muda melalui jalur edukasi hampir di seluruh wilayah Indonesia. Dorongan kreatifitas dalam mencipta seni kriya, dorongan untuk memberdayakan alam dan manusia dalam sebuah kegiatan usaha, dan tentu dorongan untuk membentuk jaringan pasar terhadap hasil kreatifitas itu agar berdaya guna diterima oleh para konsumen. Hal medorong inilah menjadi tugas kita bersama.

B.Seni Kriya
Sejalan dengan perkembangan zaman dan tuntutan masyarakat, khususnya perkembangan seni rupa, batasan tentang seni kriya mengalami perubahan dan perkembangan. Bahkan batasan tersebut sering tumpang-tindih dengan bidang seni rupa murni dan disain. Penulis mencoba untuk memberi definisi secara umum tentang batasan seni kriya, yaitu salah satu bentuk produk seni rupa, fungsional atau non fungsional, yang mengutamakan pada nilai-nilai dekoratif dan kerja tangan dengan craftmanship tinggi, pada umumnya menggali nilai-nilai tradisi yang bersifat unik. Definisi ini tampaknya memberi longgar pada jenis produk yang dituju bisa lebih luwes, karena semua produk sejenis itu bisa terangkum dalam definisi ini, dari souvenir perkawinan sampai pada jenis patung yang berukuran besar. Berdasarkan definisi tersebut, maka kajian seni kriya dapat diperhitungkan lebih luas, tidak hanya diklasifikasikan dari aspek fungsinya saja, tetapi juga aspek lainnya. Tampaknya kekumplitan jangkauan seni kriya dapat menjadi lebih luwes dan menyeluruh, keunikan yang muncul dari gerak ornamentasi dan bentuk memberikan keunikan tersendiri terutama pada karakter setiap karya yang dihasilkan. Aspek estetika dengan tampilan tigadimensional maupun dua dimensional membawa kedalaman, efek, bentuk yang lebih visual dalam sebuah unsure relief ukiran, goresan ornamentasi memberikan kompleksitas teknologi dan material yang ternyata tidak terbatas. Memang kecenderungan saat ini adalah media bukan persoalan yang signifikan namun idea menjadi panglima dalam menciptakan sebuah karya seni kriya. Idea yang kreatif inovatif dengan mengangkat isu-isu yang sedang berkembang seni kriya mengikuti perkembangan zaman.
Seni kriya merupakan salah satu cabang seni rupa yang memiliki akar kuat, yakni nilai tradisi yang bermutu tinggi atau bernilai adhilung. Sebab pada masa lampau, para kriyawan keraton menghasilkan karya seni dengan ketekunan dan konsep filosofi tinggi memberikan legitimasi pada produk seni kriya tempo dulu. Konsep itu termasuk pola pikir metafisis yang mengandung muatan nilai-nilai spiritual, religius, serta magis. Kesadaran kolektif terhadap lingkungan alam, solidaritas yang tinggi dan didukung oleh tatanan budaya tradisional yang ternyata telah menghasilkan seni kriya yang berkualitas adhiluhung mencerminkan jiwa zaman. Seluruh kehidupan batin manusia yang terjadi dari perasaan, pikiran, angan-angan pada masa dari sebuah budaya berlangsung. Jiwa zaman ini memberikan letupan-letupan semangat berkarya pada masing-masing jiwa pendukungnya. Oleh karena itu ke-adhiluhungan-nya adalah sebuah karya yang kemudian diukur dari siapa pendukung dan siapa penikmatnya. Sebab pada zaman kerajaan membedakan strata masyarakat ningrat dan rakyat biasa, sehingga keduanya memiliki test (selera) yang berbeda dan secara formal maupun non formal rakyat ditabukan untuk memiliki atau memakai produk yang mirip dengan apa yag ada di keraton. Nah inilah yang kemudian membedakan sumber wilayah munculnya seni kriya yakni karya yang dihasilkan dari jeronbetèng (dalam keraton), jabanbetèng (luar keraton) dan bahkan pesisiran (pantai). Tentu adhiluhung selalu dikaitkan dengan apapun karya-karya yang berada di keraton, sebab memang karya-karya kriya yang berada di dalam keraton memiliki legitimasi tersendiri sehingga sangat di sakralkan dan diagungkan, maka banyak orang menganggap adhiluhung karena dari keraton. Lain halnya dengan karya yang dibuat oleh jaban keraton dianggap sebagai karya rakyat jelata yang bersifat profan dan tanpa memiliki makna yang luhur atau adiluhung itu. Maksud adhiluhung pada masa sekarang telah berbeda dengan adanya Negara Kesatuan Republik Indonesia, bukan kerajaan lagi, maka pemerintah Indonesia melindungi bentuk-bentuk kebudayaan tradisi yang telah berakar kuat dan menjadi trademark daerah tertentu atau wilayah tertentu, yang memiliki ciri khas tersendiri sebagai bagian dari seni tradisi, misalnya seni ukir Jepara, seni batik Yogya-Solo, motif Dayak, keris, dan lain sebagainya. Artefac yang ada memiliki nilai tersendiri dari sebuah bagian dari kreatifitas lokal pada komonitas pengrajin maupun karya yang secara mentradisi berada dalam sebuah lingkup kerajaan. Dengan demikian adhiluhing juga memiliki kekuatan sebagai karya yang telah didukung oleh masyarakatnya.
Adapun pembedaan siapa pengguna dari produk kriya itu tergantung pada sebuah komonitas pengguna. Pertama adalah karya seni kriya yang dibuat sebagai pengabdian terhadap dewa-raja yang secara tekun dikerjakan agar kemakmuran dan kebahagiaan hidupnya terlindungi dengan memberikan/membuat karya yang baik, maka sang Dewa akan merasa senang dan memberikan ketentraman dan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Kedua adalah pengguna dengan tingkat ekonomi lebih baik yang dapat mengapresiasi seni kriya itu menjadi bagian gaya hidup mereka akan trend seni, pastilah seni yang dihasilkan memiliki nilai yang tinggi, bahkan pada masa sekarang karya yang dikoleksi oleh orang “berduit” ini luar biasa nilainya dapat melampaui koleksi karya-karya yang dimiliki keraton. Ketiga pengguna pada strata menengah ke bawah, tentu mereka hanya mampu mengoleksi dan mengapresiasi yang menyesuaikan dengan tingkat ekonomi mereka, sehingga produknya pasti menyesuaikan dengan kemampuan kantongnya. Maka munculnya jenis seni rupa tradisi keraton pada masa lalu itu tentu lahir dari unsur strata kelas masyarakat yang di dasarkan pada kasta-kasta, kasta bendoro, priyayi, dan petani. Kasta bendoro lebih banyak berada di dalam keraton sehingga keraton memiliki tempat yang paling terhormat.
Karya seni kriya yang adhiluhung kemudian menjadi sangat sepesial bagi pihak keraton, sebab seni kriya jenis ini memiliki keunikan tersendiri atas sebuah karya yang diciptakan untuk persembahan kepada dewa-raja. Nilai pengabdian yang luar biasa yang dapat mempengaruhi seluruh hidup mati, kebahagiaan, kesengsaraan, kemakmuran, dan lain sebagainya. Ekspresi kepada dewanya inilah yang mampu menggetarkan hati si kriyawan untuk menciptakan karya terbaik. Ekspresi demikian tampaknya hadir dalam penciptaan seni kriya masa kini meskipun bukan berkarya untuk tuhannya, namun luapan jiwa untuk menghadirkan gubahan karya kriya menjadi pangikat semangat berkarya.

C. Seni Kerajinan
Kerajinan suatu hal yang rajin, kegiatan, kegetolan, barang yang dihasilkan melalui ketrampilan tangan. Umumnya barang kerajinan banyak dikaitkan dengan unsure seni, yang kemudian disebut seni kerajinan. Seni kerajinan adalah implementasi dari karya seni kriya yang telah diproduksi secara masal (mass product). Produk massal dilakukan oleh para pengrajin, terdapat kelompok-kelompok perajin sebagai home industry yang banyak berkembang di beberapa wilayah Indonesia. Hal ini sebagai bagian ekonomi kerakyatan. Oleh pemerintah digolongkan pada UKM (Usaha Kecil Menengah). Pada krisis moneter 1998 UKM ini dianggap sebagai usaha yang dapat bertahan disaat terpaan krisis ketika itu. Karena, UKM berbasis pada bahan dan ketrampilan lokal, tetapi memiliki jangkauan pasar ekspor. Bahan dan tenaga kerja yang relative murah, serta perubahan merosotnya nilai tukar rupiah terhadap uang asing terutama dolar America membuat produk manufaktur berbahan non import menjadi primadona dalam ekonomi rakyat yang mampu meraih kesuksesan ketika itu.
Ketrampilan tangan yang dimiliki oleh para pengrajin yang berkecimpung dalam bidang seni kerajinan menjadi bentuk usaha seni kerajinan, mereka membuat banyak mengandalkan ketrampilan tangan yang banyak dilakukan dalam bentuk usaha keluarga. Keahlian dan ketrampilan tangan umumnya didapat sejak lama, bahkan turun-temurun. Data BPS (Badan Pusat Statistik) sebagian besar usaha tidak berbadan hukum, serta umumnya berpendidikan dasar pada tahun 2003 berjumlah 9.774.940 orang atau sekitar 65 persen. Usaha keluarga ini kemudian mampu berkembang dengan baik manakala factor produksi dan pasar berjalan seiring seimbang. Munculnya sentra seni kerajinan karena adanya market yang selalu meminta tersedianya barang-barang seni kerajinan. Dengan demikian seni kerajinan akan tumbuh subur apabila terjadi interaksi antara seni kerajinan dan pasar yang berjalan seiring seimbang. Jika salah satu terjadi kemacetan maka sebuah sentra atau usaha itu akan berhenti. Tampaknya ini adalah hukum ekonomi yang harus dilalui. Oleh karena itu munculnya sentra pasti dibarengi dengan marketnya.
Seni kerajinan berkembang dengan baik pada beberapa wilayah di Indonesia, yang terwujud dalam tumbuhnya sentra-sentra seni kerajinan. Seperti sentra seni kerajinan Keramik Kasongan, sentra seni kerajinan tenun ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin) di Gamplong Sleman, sentra seni kerajinan bunga kering di Jodog Bantul, sentra kerajinan mebel Jepara, sentra kerajinan rotan di Jati Wangi Plumbon Cirebon, Trangsang Klaten, dan lain sebagainya. Wilayah sentra menjadi bentuk kegiatan UKM yang menggali dari potensi bahan dan ketrampilan lokal yang mampu menembus pasar luar negeri. Seperti yang diungkapkan oleh Soeharto Prawirokusumo, bahwa UKM mampu berkembang menjadi usaha yang tangguh dan mandiri dapat memperkuat struktur ekonomi nasional, merupakan tantangan besar yang harus diperjuangkan. Tantangan itu dipertimbangkan dengan adanya beberapa masalah yang berkembang dalam tubuh UKM dalam sentra seni kerajinan. Seperti pendanaan, manajemen, desain, dan pasar.
Memang persoalan itu sangat klasik bagi mereka, namun jika hal ini tidak diperhatikan, maka seni kerajinan yang ada mengalami penurunan-penurunan terutama saat krisis global 2008 ini. Perkembangan pasar ekspor seni kerajinan pada krisis global mengalami penurunan yang tajam, berbeda dengan krisis tahun 1998 lalu. Seni kerajinan pada tahun 1998 mengalami peningkatan yang luar biasa, sebab produk seni ini dikonsumsi oleh pasar yang sehat, sementara yang sekarat adalah kondisi ekonomi dalam negeri. Namun sekarang yang sekarat adalah pasar seni kerajinannya. Saat ini masyarakat dunia barat dalam hal ini America dan Negara-negara Eropa mengalami shock krisis ekonomi, sehingga mereka takut menginvestasikan uangnya pada kebutuhan-kebutuhan yang sifatnya skunder. Mereka lebih baik menahan uang mereka dan bersikap pasif, sehingga semua sector ekonomi di barat berhenti sejenak. Hal demikian tentu saja berpengaruh amat signifikan terhadap kondisi kehidupan seni kerajinan di Indonesia. Terutama perajin yang banyak mengekspor ke Amerika dan Eropa dipastikan kondisinya sangat menurun sebagaimana yang dikatakan Ambar Polah bahwa kondisi tahun 2008 turun sampai 50 persen jika dibandingkan tahun 2007.
Meski begitu, tetap banyak juga muncul perusahaan seni kerajinan yang dikelola secara profesional. Mereka hadir dengan penampilan yang baik dalam melakukan usaha seni kerajinan itu. Perusahaan itu tidak saja dilakukan oleh masyarakat bangsa Indonesia, namun banyak juga Perusahaan Modal Asing (PMA) yang memberi nuansa kompetisi dalam usaha seni kerajinan. Usaha-usaha itu mengalami pertumbuhan yang baik, misalnya pengusaha asing mendirikan usaha di wilayah tertentu. Bahkan sebagian mendirikan usaha melalui orang Indonesia baik sebagai partner, istri, maupun suami. Segala bentuk perijinan pun dilakukan orang Indonesia namun sebagai penggerak utama adalah orang asing itu sendiri. Ia juga memegang kendali.
Biasanya, dalam melakukan usahanya, pengusaha asing memilih secara diam-diam karena sistem perijinan yang bertele-tele dan faktor orang-orang pajak yang sering melakukan pungli dengan cara menakuti akan mendeportasi mereka. Cara tersebut tentu saja membuat pengusaha asing itu enggan menempuh usaha secara benar. Seperti pernyataan Mudrajad Kuncoro bahwa terjadi kerumitan pada aspek perijinan dan garangnya perpajakan, maka tidak sedikit pengusaha asing yang mengecilkan diri (down sizing) menjadi usaha kecil yang tidak terlalu formal. Studi Kuncoro menunjukkan adanya penyalahgunaan lembaga birokrasi, penyuapan, dan banyaknya pungli serta manipulasi data dari para pengusaha atas desakan petugas pajak. Hal itulah yang salah satunya menjadikan kegiatan usaha yang dirintis takut menjadi besar.
Namun demikian, keberadaan pengusaha ekspatriat itu menjadi partner perajin yang menjadi supplier-nya dalam memasarkan produk ke manca negara. Sebagai contoh, di wilayah Kabupaten Bantul Yogyakarta, terkenal dengan produk seni kerajinan yang banyak diperjualbelikan sebagai komoditi ekspor seperti keramik, mebel, anyam, bahan alam, dan lain sebagainya. Wilayah ini memiliki penduduk yang hampir 20 persen melakukan kegiatan membuat seni kerajinan. Hal ini menarik para investor asing yang datang dan ingin mengembangkan usaha di wilayah ini. Oleh karena itu desain-desain baru seni kerajinan selalu muncul dari Bantul dan wilayah ini cukup memiliki reputasi internasional yang baik.
Perkembangan seni kerajinan saat ini telah sampai pada kompetisi antar bangsa. Negara Cina sebagai raksasa ekspor dunia tampaknya telah banyak menguasai kebutuhan harian masyarakat dunia termasuk seni kerajinan. Demikian juga negara Vietnam, Thailand, Filipina, dan Malaysia juga telah menata sistem kerja seni kerajinannya untuk dapat bersaing dengan negara lain. Tentu telah menjadi pertimbangan tersendiri dalam perkembangan seni kerajinan, yakni tidak dapat lepas dari aspek pendekatan seni kriya. Pengembangan secara terus-menerus harus selalu dilakukan sebab persaingan dalam dunia bisnis seni kerajinan dirasa semakin ketat.

D. Seni Kriya dan Seni Kerajinan
Seni Kriya dan seni kerajinan merupakan dua wilayah yang memiliki perbedaan tipis. Seni kriya banyak menggali ekspresi pribadi yang berdasar pada sumber inspirasi dari seorang kriyawan akan ide dan gagasan yang original. Sementara seni kerajinan memiliki kekuatan kecenderungan pada produk yang dilakukan oleh banyak orang sebagai kegiatan yang bersifat home industry. Mereka berkelompok pada sebuah produksi baik secara terpisah antar rumah produksi maupun dalam suatu kelompok studio. Keduanya memiliki kekhasan yang sama, hanya saja seni kriya tidak diproduksi secara masal, ia adalah produk yang tiada duanya. Yang pertama pekerjanya disebut kriyawan, artis, seniman, maupun juga desainer (penulis lebih suka menyebut kriyawan), yang kedua disebut pengrajin yang secara rajin mereka membuat, mengulang, produk itu secara masal yang dipasarkan pada konsumen dan bersipat padat karya.
Pada saat berkesempatan berkunjung di pameran internasional Abiente di Frankfurt Jerman 2007 lalu, penulis dikejutkan dengan kenyataan pameran yang agak berbeda penampilannya yakni pada stand milik negara Vietnam. Mereka menyajikan bentuk exhibition yang dikemas apik, berkolaborasi antara kriyawan dan pengusaha seni kerajinan. Padahal pameran tersebut adalah sebuah ajang perdagangan home accessories yang hanya menyajikan produk yang ditawarkan kepada buyer untuk kegiatan ekspor dengan pasar Eropa. Namun, tampaknya Vietnam memiliki kiat yang patut dicontoh untuk menunjukan jati diri para kriyawannya yang memiliki talenta berkreasi dalam menampilkan produk baru. Ada sekitar lima belas kriyawan yang memamerkan hasil karya kriyanya. Layaknya pameran tunggal, masing-masing kriyawan men-display dengan baik pada tiap boot yang mereka tempati, tata lampunya pun baik, juga dilengkap dengan curriculum vitae, foto diri seniman, dan katalog. Penulis mencoba mencari tahu ternyata peran pemerintah Vietnam cukup besar dalam mengolaborasikan antara kriyawan yang kreatif dengan korporasi. Kriyawan menciptakan desain baru dengan prototype-nya dan pihak korporasi berperan sebagai follow up tiap produk yang mendapat respons buyer ketika bertransaksi dan memesan.
Pihak korporasi sebagai penyandang dana tentu saja disubsidi pemerintah Vietnam dalam membiayai dan menciptakan desain baru serta sekaligus mewujudkannya. Antara kriyawan dan pihak korporasi sama-sama mendapatkan keuntungan: kriyawan memperoleh pembagian keuntungan dalam bentuk royalty dan pihak korporasi mendapatkan keuntungan dengan adanya order yang berarti ada pekerjaan dalam usaha mereka. Kriyawan pun dapat mengekspresikan ide-idenya dalam membuat karya, juga menumbuhkan kepercayaan dari para kriyawan bahwa pekerjaan sebagai craft designer merupakan pekerjaan yang menguntungkan. Pihak pemerintah pun juga mendapatkan keuntungan tersendiri, terutama pajak penerimaan negara.
Nilai orisinalitas pada karya seni kriya adalah hasil kreativitas seorang kriyawan dalam menciptakan karya baru dengan menyesuaikan trend pasar yang sedang berkembang. Inovasi baru itu kemudian diproduksi secara massal sebagai barang seni kerajinan. Dengan bentuk kerjasama semacam itu, maka kriyawan dapat juga mempelajari berbagai bentuk produk karya seni kriya baru dari negara lain yang sejenis melalui info dari pihak korporasi, buyer, dan survei ketika ada pameran bersama. Produk buatan dari luar negeri sebagai kompetitor dapat dijadikan bagian sumber inspirasi pembuatan karya baru yang dipakai sebagai dasar penciptaan target pameran tahun berikutnya. Kriyawan pun akhirnya memiliki kepekaan yang baik dalam membaca pasar dari gejala-gejala yang dilihatnya. Di samping itu dapat pula mengombinasikan antara seni tradisi dengan seni modern sehingga membantu para pengrajin seni kerajinan untuk membuat produk yang memenuhi kebutuhan home accessories rumah modern saat ini. Dalam menindaklanjuti pekerjaan produksi, ternyata aspek korporasi memiliki teknologi yang baik dalam membuat produk seni kriya menjadi produk massal guna memenuhi permintaan para buyer untuk diperdagangkan ke negara manca Negara..
Bagaimana dengan di Indonesia? Peran dari berbagai lembaga swasta maupun pemerintah seperti perajin, kriyawan, pemerintah melalui Deperindagkop (Departemen Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi), dan lain sebagainya sangatlah diperlukan. Menurut penulis, bentuk pola kerjasama semacam di negara Vietnam itu sangat mungkin dilakukan di Indonesia, hanya saja sebagian dari pemangku otoritas belum begitu sadar soal pentingnya para kreator seni kriya untuk diberi peluang menampilkan karya kriya dari hasil kreativitas mereka sebagaimana yang telah dilakukan negara Vietnam tersebut. Sungguh suatu kolaborasi yang baik, bagaimana dengan kita? Mampukah seni kriya menjadi komando dalam mengeksplorasi seni kriya baru yang dapat memberikan arah perkembangan bagi seni kerajinan Indonesia secara luas?
Produk seni kerajinan dapat mengalami perubahan yang sangat cepat. Terkadang produk baru atau desain baru yang muncul belum tentu dapat dijual atau bahkan telah dianggap usang, maka produk baru tersebut harus melalui test market terlebih dahulu. Produk baru itu belum tentu laku di pasaran, meskipun laku mungkin hanya beberapa saja atau malah juga booming luar biasa. Produk semacam itu masih memerlukan langkah yang panjang untuk memperoleh kemungkinan diproduksi secara kontinyu. Memang, kenyataannya para kreator seni kriya memiliki daya kreativitas tinggi, namun sayangnya selama ini belum dapat bekerjasama dengan para perajin. Persoalan yang pelik adalah tidak adanya penghargaan yang layak terhadap para kriyawan atas jasanya dalam menciptakan produk baru. Kesadaran terhadap pentingnya produk baru dalam mendongkrak perkembangan perusahaan juga seringkali terlupakan.
Memang, selama ini antara dunia seni kriya dan seni kerajinan secara formal jarang sekali dikelola secara baik agar memiliki hubungan yang saling menguntungkan. Banyak kriyawan yang enggan berhubungan dengan para pengusaha seni kerajinan yang dianggap sebagai korporasi karena dikhawatirkan akan siap menyaplok kreativitasnya. Kriyawan merasa dirugikan. Beberapa desain yang diciptakan kemudian direproduksi oleh pengusaha itu tanpa memberikan imbalan yang layak terhadap para kriyawan. Hal inilah yang menjadi jurang pemisah antara kriyawan dan pengusaha. Memang, salah satu penyebabnya adalah pola pikir yang sangat berbeda. Kriyawan lebih berkonsentrasi pada kemampuan kesenimanannya untuk menciptakan produk baru yang sama sekali tidak mempedulikan pasar. Sementara, pengusaha orientasinya adalah keuntungan sehingga desain yang tercipta selalu dikaitkan dengan wacana pasar. Bagi pengusaha, produk yang bagus adalah produk yang laku dijual sementara bagi kriyawan produk yang bagus adalah memenuhi kriteria basic design dan kesesuaian dengan suara batin. Oleh karena itu antara kriyawan dan seni kerajinan jika digabungkan akan memiliki kekuatan yang dahsyat. Kekuatan inilah yang menjadi andalan bagi produk seni kerajinan dari Indonesia untuk memenangkan pertarungan dalam perdagangan seni kerajinan di pasar lobal. Seperti apa yang dilakukan oleh para kriyawan dari Vietnam. Mereka dapat bersatu dengan perajin. Hal itulah yang membuat Vietnam pada tahun 2005 menjadi meteor baru untuk produk seni kerajinan. Menurut Mr. Enrico, produk negara Vietnam memiliki keunikan tersendiri dan juga memiliki harga yang kompetitif. Beberapa saat lamanya, dalam lima tahun, Vietnam menjadi idola para buyer yang juga sering berkunjung ke Indonesia.
Pelajaran tentang negara Vietnam menurut penulis menjadi satu model pembinaan bagi para kriyawan dan pengrajin untuk dapat berkolaborasi dalam suatu kerjasama yang saling menguntungkan. Keuntungan dari pihak kriyawan maupun dari pihak pengrajin adalah aspek pengembangan usaha yang bisa menjadi lebih baik. Kriyawan pun dapat berekspresi dan memberi arah pada pertumbuhan seni kerajinan terutama pada konteks penciptaan produk baru.


E.Nilai Ekonomi Seni Kriya
Umumnya masyarakat memerlukan kehadiran seni kriya di dalam kehidupan mereka, terutama sebagai sarana hidup untuk mengangkat harkat dan martabatnya. Seni kriya pernah menjadi perangkat simbol status seseorang, seni kriya bisa menjadi produk industri yang memiliki nilai ekonomi, dan seni kriya juga berfungsi sebagai pemenuh kebutuhan material maupun spiritual. Meningkatnya sarana hidup, membuka peluang berkembangnya seni kriya guna menjawab berbagai kepentinygan hidup, hal itu mempunyai pengaruh kuat terhadap eksistensi dan perkembangannya. Seni kriya yang sangat lekat dengan kebutuhan hidup itu memiliki peluang dan berpotensi besar untuk dikembangkan menjadi unit usaha produksi yang bersifat industrial, sekaligus menjadi komuditas yang handal di bidang perdagangan. Hal ini terbukti banyak cabang seni kriya yang setelah melalui pembinaan serius berhasil memenuhi tuntutan pasar dan dapat meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat pendukungnya, bahkan mendatangkan devisa negara.
Betapa besarnya peran seni kriya dalam meningkatkan perekonomian masyarakat menjadikan seni kriya menjadi salah satu bidang yang banyak digarap oleh kriyawan untuk memenuhi kebutuhan desain kerajinan pada era global. Memang dalam hal ini pengelolaan tentang penciptaan desain baru masih terasa sangat kurang, kriyawan belum memiliki sensitifitas terhadap perntingnya kriya baru sebagai bagian lahan hidupnya. Dengan demikian garapan seni kriya baru akan memiliki standar ekonomi yang berbeda dengan seni kerajinan. Nilai ekonomis seni kriya menjadi sangat tinggi seperti karya seni murni. Nilai sebagai karya yang tiada duanya baik sebagai karya yang siap dipakai sebagai koleksi, maupun karya yang memang dipakai sebagai proyotype dalam dunia reproduksi seni kerajinan. Maka kedudukan seni kriya salah satunya menopang pertumbuhan usaha-usaha seni kerajinan.
Kemudian peran seni kriya ini menjadi ganda satu pihak sebagai ekspresi pribadi yang berupaya untuk merangsang pemahaman masyarakat akan produk budaya yang berupa seni, di sisi lain sebagai peran untuk mendorong kemersialisme, kegairahan ekonomi dan maraknya perdagangan antar bangsa. Seiring dengan kemajuan perkembangan seni pada umumnya, tuntan karya seni kriya untuk memunculkan kriya baru dengan bentuk baru dan karakter baru terus diupayakan oleh para kriyawan yang datang dari lulusan lembaga pendidikan maupun masyarakat umum.
Nilai ekonomis seni kriya ditentukan oleh tujuan utama seni kriya itu ditetapkan, seni kriya terlahir dari interaksi konsep, inspirasi, ide atau gagasan produk karya seni bertujuan apa yang akan diciptakan. Pertimbangan fungsional dan non fungsional menjadi penting manakala seni kriya ini akan menentukan nasibnya menjadi produk seni yang mana. Interaksi konsep disitu terjadi, kriyawan mencoba memformulasikan sumber, ide atau gagasan ke dalam sebuah konstruksi pikir yang utuh untuk tercipta bentuk yang berfungsi maupun tidak berfungsi. Berkecamuknya proses itu akan berlarut manakala telah mempertimbangkan pada interaksi perwujudan. Ide yang begitu hebat dalam proses perwujudannya tentu menemui kendala-kendala diluar rencana awal. Oleh karena itu prototype baik sebagai contoh maupun karya yang telah jadi, menjadi penentu apakah karya memiliki nilai seni yang baik atau tidak


F. Nilai Ekonomi Seni Kerajinan
Di Indonesia seni kerajinan dikerjakan pada rumah-rumah produksi (home industry) yang berskala mikro, maupun yang berkelompok sebagai sentra industri seni kerajinan. Mereka memproduksi secara manual dengan alat yang sederhana dan menonjolkan kerja dengan ketrampilan yang turun-temurun, memiliki keunikan dan karakteristik bahan maupun proses pengerjaan. Seni kerajinan ini pada perkebangannya banyak disukai oleh para konsumen dari manca negara. Oleh kerena itu seni kerajinan pada era global sangat tergantung pada situasi global pula. Umunya, pengrajin membuat seni kerajinan merupakan pesanan dari para pembeli dari manca negera, meskipun pasar dalam negeri juga cukup baik. Pasar luar negeri seperti negara-negara uni eropa ternyata mampu menumbuhkan keberlangsungan seni kerajinan ini menjadi bagian dari minat mereka. Beberapa buyer dari luar negeri sangat berminat untuk membeli dan memasarkan produk seni kerajinan ini sebagai bagian dari impornya.
Semakin meluasnya pasar seni kerajinan, ternyata juga menjadikan kompetisi semakin bertambah ketat pula. Seni kerajinan harus berlomba menampilkan produk-produk yang inovatif, original dan up to date, sehingga dapat beriringan dengan perkembangan peradaban dan ilmu pengetahuan. Produk baru dengan tampilan baru ternyata dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap keberlangsungan sebuah usaha produksi seni kerajinan. Produk baru itu memberikan semangat baru pada diri kriyawan ataupun pengrajin untuk mempelajari dengan seksama akan sebuah trend produk interior pada saat itu. Masalahnya sekarang kreatifitas seorang pengrajin tampaknya kurang, maka dukungan dai para kriyawan menjadi hal yang sangat diperlukan. Sebab produk-produk baru yang ada justru dari gambar yang dibawa oleh para konsumen mereka. Dengan demikian bargaining pasition-nya sangat lemah. Pasti nilai ekonomis sebuah produk menjadi rendah manakala mereka menganggap desain itu datang dari mereka (konsumen).

Seni kerajinan kebetulan sangat diminati konsumen manca negara, meskipun pasar dalam negeri juga potensial. Pertimbangan yag unik dan menarik dan berkarakter menjadi pertimbangan para konseumen untuk megoleksi seni kerajinan itu. Memang struktur bagan di atas hanya menunjukan interaksi ekonomis antara seni kerajinan dan pasar, namun upaya itu tentu ada persoalan-persoalan lain dalan memenuhi proses negoisasi agar supaya deal atau sepakat. Pernik-pernik itu antara lain tampilan desain seni kerajinan yang benar-benar baru. Kemampuan mereprodusi produk itu dengan satandardisasi eksport dalam kualitas dan kuantitas. Pengetahuan tata laksana ekspor, kecakapan lain dalam mendukung suksesnya negoisasi.

G. Seni Kriya dalam Ekonomi Kreatif
Dalam sebuah kelompok kerja tentu sering mendapatkan kesulitan yang memerlukan penyelesaian, pada umumnya ada salah satu atau dua orang yang berusaha dan mencoba menyelesaikan masalah itu. Bagi sebagian orang, menjadi kreatif adalah melibatkan upaya untuk tidak malu dengan ide-idenya sendiri; bagi yang lain adalah menyadari bahwa menjadi kreatif dapat dilakukan dengan banyak cara yang berbeda. Orang-orang yang sadar dan cukup percaya diri, memiliki lebih sedikit penghalang dan dapat begitu saja membiarkan sifat kreatif untuk memunculkan sebuah lahan ekonomi. Dalam hal ini sebuah konteks usaha, maka diperlukan inovasi yang umumnya dianggap sebagai penerapan dari kreatifitas. Inovasi “adalah instrumen khusus kewirausahaan.” Kesempatan inovatif terkait dengan industri atau sektor jasa khusus, yaitu: yang tidak diharapkan; yang tidak awam; kebutuhan proses; dan perubahan struktural. Juga terkait dengan lingkungan manusia dan ekonomi: demografi; perubahan persepsi, suasana hati, dan arti; dan pengetahuan baru. Kreatifitas terkait erat dengan entrepreneur seperti pada pengusaha justru mereka memiliki lebih banyak peluang untuk menggunakan bakat kreatif mereka dibandingkan dengan pegawai yang digaji. Dalam rangka mengembangkan daya kreatifitas, dibutuhkan kesempatan untuk menilai perilaku kreatifitas sendiri agar dapat mulai mempraktekkan pemikiran yang kreatif itu. Kebanyakan orang dapat memikirkan beberapa pekerjaan yang membutuhkan kreatifitas, seperti : kriyawan, seniman, musisi, penari, perancang dan ilmuwan. Meskipun demikian, kebutuhan akan kreatifitas tidak terbatas pada pekerjaan-pekerjaan ini. Ide-ide kreatif dibutuhkan dimana terdapat masalah dengan solusi yang tidak diketahui. Seperti dalam dunia seni kriya, kriyawan menggunakan kreatifitas untuk memecahkan masalah produk baru, memproduksi, dan bagaimana cara mempromosikannya.

Seni kriya merupakan salah satu dalam ekonomi kreatif itu, yaitu ide adalah suatu komediti yang dapat dieksplorasi dengan tiada habisnya. Manusia dengan akal budinya disertai kreativitas yang ditempatkan dalam lingkungan yang kondusif akan mampu menghasilkan produk-produk kreatif bernilai ekonomi. Bidang-bidang yang mencangkup dalam koridor ekonomi kreatif terdapat di dalamnya seni kriya. Kriyawan merupakan salah satu mata rantai penting industri seni kerajinan. Hal ini dapat dilihat pada sentral-sentral seni kerajinan di Bali, Yogyakarta dan daerah lain sebagai kantong-kantong seni kerajinan. Hal ini telah menjadi bagian penting sebab mata rantai kunjungan wisata baik dari dalam dan manca negara telah ikut membuat wilayah-wilayah penghasil seni kerajinan itu menjadi berkembang. Untuk itu seni kriya sebagai awal munculnya seni kerajinan memegang peran yang utama terutama dalam menciptakan produk baru sesuai dengan target pasar yang akan dicapai. Dapat dilihat bahwa belanja seni ketrajinan seperti souvenir saja di Bali menjadi motivasi utama sebagai sasaran pembeli mencapai yakni 30-40% dari akibat interaksi langsung dari kunjungan wisatawan atau pembelian retail, sementara 60-70% adalah produk ekspor (wholesale) pada tahun 2009.
Produk-produk kriya telah menjadi elemen penunjang interior dan eksterior fasilitas kepariwisataan (hotel, rumah makan, taman kota, pusat Spa, kesehatan, dan sebagainya) di kota-kota di Indonesia maupun di luar negeri. Melihat potensi kekayaan seni kriya Indonesia yang begitu tinggi menjadi sangat penting untuk dikembangkan menjadi kontributor utama dalam era ekonomi kreatif. Karena dari semua ekonomi kreatif yang ada seni kriya tidak tergantung pada teknologi tinggi baik perangkat keras maupun perangkat lunak yang mahal harganya. Seni kriya sangat sesuai dengan kondisi sosial budaya Indonesia dan dapat mendorong penigkatan ekonomi kerakyatan. Industri kriya dapat dikembangkan secara padat karya sehingga dapat memberikan pekerjaan kepada masyarakat. Makin menyusutnya sumber daya alam diperlukan suatu kearifan dalam mengolah alam dan cara-cara lain untuk memutar roda perekonomian bangsa Indonesia. Salah satu cara yaitu menerapkan ekonomi kreatif sebagai sumber perekonomian. Pengembangan seni kriya dapat dijadikan suatu model ekonomi kreatif di Indonesia. Seni kriya dapat dilakukan dengan memanfaatkan materi dari alam maupun sentetis. Dengan eksplorasinya material dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin bahkan dari limbah sekalipun dapat dihasilkan produk kriya.

Tentu kreatifitas dalam seni kriya tidak saja bagaimana menciptakan karya yang hebat belaka, namun aspek lain sebagai pendukung tentu tidak bisa ditinggalkan. Aspek tersebut meliputi hal-hal yang berkaitan dengan langkah lebih lanjut, seperti perlakukan barang pada saat mendisplay, sumber daya manusia dalam menjaga kesetabilan produk, dan bagaimana mengupayakan agar barang dapat diapresiasi oleh konsumen. Kriyawan seringkali kurang memperhatikan display produk untuk menarik konsumen (produk kebanyakan ditata seadanya). Seringkali ditemukan, bahwa kemasan produk kriya untuk ritail masih rendah, belum memperhatikan unsur kemudahan, keamanan, estetika, yang bisa meningkatkan nilai jual produk. Interaksi dengan industri sekala besar/ekspor dan permintaan pasar menjadikan bentuk dan ragam hias produk lokal banyak dipengaruhi oleh unsur luar, sehingga kehilangan kekhasannya. Sebelum berbicara pasar, harus dilihat terlebih dahulu sejauh mana daya saing produk seni kriya Indonesia di pasar domestik maupun internasional. Ada beberapa masalah menyangkut daya saing produk kriya Indonesia antara lain: masalah disain, masalah Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dan masalah pemasaran.

H. Penutup
Seni Kriya telah menjadi bagian penting dalam mengembangkan perekonomian rakyat yang sarat dengan lokalitas baik bahan mamupun sumber daya manusianya. Pengembangan kreatifitas pada generasi muda menjadi penting agar kekayaan alam dan budaya bangsa Indonesia yang melimpah dapat dieksplorasi, dikembangkan, dan dipasarkan. Apalagi munculnya sistem perdagangan internasional yang kian ketat dalam persaingan. Perdagangan bebas ASEAN misalnya, sudah diputuskan berlaku 1 Januari 2010. Cina dipastikan bergabung, lewat apa yang disebut dengan Asean Cina Free Trade Agreement atau ACFTA. Masuknya Cina dalam perdagangan bebas Asean ini meresahkan kalangan produsen dalam negeri terutama tekstil dalam negeri, karena bisa dipastikan semua produk Cina bebas masuk ke pasar Asean, termasuk Indonesia. Para produsen pesimis produk mereka akan mampu bersaing dengan produk Cina yang harganya jauh lebih murah.
Nah bagaimana dengan langkah seni kriya sebagai salah satu pendukung ekonomi kreatif? Kreatifitas memegang peran yang penting agar agar mencapai kemenangan dalam persaingan global itu.
Demikian ada kesalahan mohon maaf…nuwun.

I. Kepustakaan

“Design Meet Artisan” Craft Revival Trust, Artesanfas de Columbia S.A., Unesco, 2005.
Adler Haymans Manurung, Wirausaha Bisnis Usaha Kecil Menegah, Penerbit Buku Kompas, Jakarta, 2006.
Enrico Vacetti, importir dari Karu, Milano, Italia. Wawancara pada tanggal 20 November 2008 di Kasongan Yogyakarta.
Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi kedua, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Balai Pustaka, Jakarta, 1996.
Mudrajad Kuncoro, Ekonomi Industri Indonesia Menuju Negara Industri Baru 2030?, Penerbit Andi Yogyakarta, Yogyakarta, 2007.
Soeharto Prawirokusumo, Ekonomi Rakyat (Kinsep, Kebijakan, dan Strategi), Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 2001.
SP. Gustami 1991, Seni Kriya Indonesia Dilema Pembinaan dan Pengembangannya, Jurnal Seni, Edisi 1/03 Oktober, BP. ISI. Yogyakarta.
Tika Nurjaya (ed.), Usaha Kecil Indonesia Tinjauan Tahun 2002 dan Prospek Tahun 2003, Indonesia Small Business Research. P. XX.
Wawancara dengan Ambar Polah pada tanggal 29 November 2008 di kantor Asmindo Yogyakarta jam 11.00 WIB.





























Tentang Penulis:
Dr. Timbul Raharjo, M. Hum.
Lahir di Kasongan Bantul Yogyakarta, 8 November 1969. Lulusan Program Doktor di Universitas Gadjah Mada tahun 2008. Sejak tahun 1993 mengajar di Institut Seni Indonesia Yogyakarta Jurusan Seni Kriya, khususnya Seni Keramik. Tahun 2007 mendapat anugerah Upakarti dari Presiden Republik Indonesia. Menjadi perajin keramik sejak tahun 1996. Produk keramiknya diekspor ke beberapa negara Eropa, Australia, Canada, Korea. Dan lain sebagainya.

Kamis, 27 Agustus 2009

Pemasaran Seni Karajinan di Bantul: Kasus Seni Kerajinan Keramik Kasongan PASAR SENI KERAJINAN KERAMIK KASONGAN SEDANG GUSAR DR. TIMBUL RAHARJO,

Pemasaran Seni Karajinan di Bantul: Kasus Seni Kerajinan Keramik Kasongan
PASAR SENI KERAJINAN KERAMIK KASONGAN SEDANG GUSAR
DR. TIMBUL RAHARJO, M. HUM.

A. Awal
Sekitar pukul dua siang minggu lalu, mbah Sarjiman karyawan penulis bagian packaging keluar gerbang sambil bersiul menenteng walesan pancing dan sebotol umpan ikan yang ternyata sejak pagi telah dipersiapkannya. Setelah presensi di depan satpam ia kemudian hendak belalu dengan sepeda motornya. Kebetulan penulis berpapasan dengannya dan menyapa “isih awan kok wis bali mbah?” (masih siang kok sudah pulang mbah?) dia menjawab “nggih la pun mbaten wonten gawean, niki ajeng mancing” (ya habis sudah tidak ada pekerjaan, mending mancing saja) ladalah ternyata disusul 40 orang anak buah mbah Sarjiman yang juga pulang awal. Pak Parno yang menjabat sebagai quality control bagian finishing juga sudah membawa sabit siap mencari damen buat ternak sapinya. Kemudian penulis bergegas menemui mbak Tris yang menjabat sebagai manager di perusahaan penulis, ia menjelaskan bahwa krisis financial global telah berdampak pada industri seni kerajinan termasuk usaha penulis. Kemudian penulis teringat cerita Pak Buang yang sekarang berprofesi menjadi pencari belut di sawah, bahwa di tempat kerjanya sudah tidak ada lagi order, sehingga terjadi pengurangan karyawan padahal ia harus menghidupi istri dan empat anaknya. Pada hal lagi Pak Buang dikenal sebagai seorang pembuat keramik yang handal. Namun ia tidak tahu kenapa tidak ada order, yang terpikir di benaknya hanya apakah para bule (buyer) itu takut ke Indonesia karena ada bom, atau mereka malas ke sini karena marah, sebab uang muka ordernya dipakai bosnya untuk kawin lagi atau apa? Mereka tahunya kok sekarang sepi order. Mereka tidak pernah membayangkan bagaimana barang seni kerajinan sampai di negara si bule, bagaimana cara menjualnya, barang laku apa tidak, rusak tidak, ia tahunya bule itu senangnya membeli barang yang antic dan bodoh, sebab senang produk yang di sini kurang laku dan tidak meling-meling (berkilau).
Pemahaman global tentang situasi dan kondisi internasional masih belum banyak dimengerti diantara pengrajin. Masyarakat dunia sedang menghemat uangnya akibat krisis financial global. Kengerian situasi itupun kemudian dapat kita lihat pada flash back beberapa bulan lalu, yakni pasar seni kerajinan tahun 2009 menunjukan situasi yang rumit yang turun sampai 70 persen pada semester awal tahun ini. Dengan demikian jika kita berbicara pemasaran seni kerajianan tentu berkaitan dengan apek pasar luar negeri. Sebab dalam bisnis seni kerajinan hampir 90 persen berpasar ekspor.
Dengan situasi demikian, tentu pembicaraan pemasaran menjadi kurang menarik karena kondisi yang selama ini menjadi primadona ekspor Bantul saat ini sedang mengalami penurunan yang luar biasa. Namun demikian kemungkinan justru menjadi sebuah masalah yang menarik yang dapat didiskusikan di ruangan ini. Baiklah judul di atas adalah “Pasar Seni Kerajinan Keramik Sedang “Gusar” maksud penulis bahwa seni kerajinan saat ini sedang mengalami kondisi pasar yang kurang baik, yang sedang sakit adalah para importer yang kesulitan menjual produk seni kerajinan Indonesia di negaranya, mereka sedang mriang, mereka sedang krisis. Sementara produsen/pengrajin tidak. Dengan kata lain saat ini mudah membuat tapi susah bisa jual. Untuk tidak mengurangi existensi yang diharapkan dalam diskusi ini, penulis juga mencoba bercerita tentang kondisi pasar dalam rentang waktu sebelum krisis financial global. Hal ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang menyeluruh tentang kondisi pasar seni kerajinan dan bagaimana upaya-upaya pembinaanya.

B. Kondisi Pasar Sebelum Krisis, tapi Gempa
Setelah gempa bumi 27 Mei 2006 lalu kondisi fisik di wilayah Bantul mengalami kerusakan yang luar biasa. Mr. Enrico, seorang importer dari Italia yang sering membeli seni kerajinan Keramik dari Kasongan yang rata-rata 10 kontainer tiap bulannya, dua hari setelah gempa menanyakan pada penulis “ Mr. Timbul what can I do to help you, should I send money to you” dengan gagah berani penulis menjawab “give me more order to fix our condition” Mr Enrico kaget dan memang membuat order lagi. Beberapa minggu kemudian penulis pusing dengan banyaknya order yang masuk sementara kondisi perusahaan masih amburadul. Banyak karyawan yang stress karena kondisi rumah mereka roboh, mental mereka terganggu, mudah tersinggung, dan mudah marah. Sehingga kinerja mereka sangat menurun, mereka pucat dan kurus-kurus. Pada hal pasar seni kerajinan keramik masih terbuka lebar sementara produksi sedang K.O dan produktifitas menurun. Penulis kemudian berfikir bagaimana cara memperbaiki situasi yang demikian dengan cepat.
Mengingat pasar masih memerlukan produk seni kerajinan keramik, sementara produksi mengalami kendala teknis yang cukup berat. Kemudian penulis lakukan tindakan yakni pertama dicoba untuk membenahi mental para karyawan dengan mendatangkan konsultan mental (spikiater), penulis meminta untuk mengobati mental mereka untuk dapat konsentrasi bekerja, kedua membenahi infrastruktur produksi dan yang ketiga membenahi system produksi. Dalam jangka sepuluh bulan kemudian ternyata produktifitas meningkat, dapat memaksimalkan produksi sesuai ekspektasi penulis. Pasar menjadi lebih terinspirasi untuk memberikan peluang-peluang lain untuk memaksimalkan produksi. Bahkan pada tahun 2007 mengalami peningkatan yang luar biasa, pasar Eropa, Amerika, Kanada, Australia dan Korea sangat mendominasi pembelanjaan seni kerajinan Keramik Kasongan. Mereka tampak kesetanan untuk membelanjakan uangnya karena produk seni kerajinan keramik memiliki kualitas seni yang mampu menyihir konsumen manca negara untuk mengkoleksi dan menghiasi rumah hunian mereka. Mereka sangat menghargai barang kerajinan tangan sebagai salah satu produk yang memiliki nilai seni tinggi.
Dengan adanya gempa itu membuat gereget pemerintah untuk memberikan dukungan penyelamatan gempa cukup baik. Upaya-upaya dilakukan agar masyarakat Kasongan dapat bekerja kembali. Mengingat ketika itu kendala akibat gempa dapat ditangani masyarakat pengrajin dengan cepat, penulis pernah memprediksikan Kasongan akan pulih dua tahun lagi, namun ketika ditahun awal 2008 meletusnya gelembung surat berharga yang diawali dari Negara adidaya Amerika yang kemudian meruntuhkan sendi-sendi ekonomi dunia dan dunia ekspor Indonesia, maka pasti pemulihan kondisi akan mengalami kemunduran sampai tahun 2011 dengan catatan krisis global telah berakhir. Persoalan pasar sesaat setelah gempa tidak menjadi persoalan bahkan beberapa pengusaha seni kerajinan di wilayah Bantul mengalami peningkatan yang signifikan. Indikasinya terlihat dari beberapa event pameran seni kerajinan dan mebel seperti Trade Expo Indonesia 2007 banyak peserta dan buyer yang datang.

C. Pasar pada Era Krisis Global
Bagian terpenting dari kegiatan pasar seni kerajinan bergantung pada kondisi internasional. Gejolak masyarakat dunia akan menentukan baik dan tidak, sebab seni kerajinan Keramik Kasongan sebagian besar hanya melayani pasar luar negeri. Dengan kondisi krisis financial global yang sedang berlangsung saat ini memang tidak banyak yang bisa diperbuat. Beberapa buyer yang telah terbiasa belanja seni kerajinan Keramik Kasongan sedang mengatur kondisi perusahaan masing-masing. Mereka menunggu sampai kondisi membaik, orang sudah mulai nyaman jika kebutuhan primer telah tercukupi, sementara seni kerajinan adalah barang yang dibutuhkan sebagai bagian kebutuhan skunder. Wajar jika produk ini akan laku terjual ketika kebutuhan makan, sandang, dan perumahan telah terpenuhi.
Kondisi seni kerajinan memang menjadi serba sulit, banyak kegiatan home industry di wilayah Kasongan megalami pemutusan hubungan kerja, bahkan telah tutup. Usaha yang masih mengandalkan pada suplay ke perusahaan lebih besar mengalami kemacetan, Mungkin pemerintahpun belum begitu sadar akan terganggunya pemasaran oleh olah krisi global ini. Dengan demikian upaya-upaya yang dilakukan masih bersifat pembenahan dari sisi produksi, sementara pasar yang digarap belum dapat memberikan pemulihan pasar yang baik. Tentu dalam hal ini bukan bagaimana mencari pasar yang tidak terkena dampak krisis seperti Timur Tengah, Eropa Timur, maupun Negara-nera Karibian, namun juga realisasi pemasaran yang bernar-benar meringankan bagi UMKM. Beberapa dari teman pengrajin mencoba untuk memasarkan ke wilayah-wilayah potensial di dalam negeri, hanya saja kendala transportasi antar pulau yang masih menjadi kendala serius dalam proses perdagangan seni kerajinan.
Meskipun krisis saat ini yang kena adalah finansialnya, bukan sector riil, namun antara financial dan sector riil merupakan dua hal yang tak terpisahkan. Awalnya banyak orang memprediksikan sector riil tidak kena dampaknya, namun pada kenyataannya sector riil inilah yang ternyata mengalami kesulitan yang lebih besar. Pada umumnya mereka belum menerapkan system manajemen yang baik terutama dalam hal penataan research and development (R&D) dalam bagian unsahanya, begitu terkena dampak perubahan situasi pasti mereka jatuh terlebih dahulu. Kapankah krisi akan berakhir? Pernah penulis lontarkan kepada calon wapres Budiono dalam sebuah diskusi. Beliau menjelaskan pada sector keuangan sudah menunjukan titik terang adanya perubahan ke arah yang lebih baik, sementara pada sector reiil diharapkan akan segera menyusul. Kapan menyusulnya? Nah ini tergantung pada telah membaiknya kondisi ekonomi internasional dan kesadaran masyarakat dunia untuk segera melupakan krisis dan segera menggunakan atau membelanjakan uangnya, harapannya geliat bisnis seni kerajinan Keramik segera bangkit seperti semula.
Beberapa perusahaan trading yang besar di Eropa mengalami resesi. Dari beberapa yang penulis kenal telah menyatakan sementara berhenti membeli dulu sampai krisis berlalu, bahkan ada yang telah tutup. Sementara buyer retailer yang mereka langsung menjual produknya di showroom pribadinya masih menunjukan geliat yang cukup baik. Hanya saja keteraturan melayani mereka harus dijaga secara intensif mengingat buyer jenis ini ternyata memiliki daya tahan yang baik sebab mereka tidak direpotkan dengan proses pengaturan distribusi yang cukup panjang dalam pemasarannya. Pada sub bab berikut disampaikan beberapa cara pemasaran yang dilakukan pada seni kerajinan terutama seni kerajinan Keramik.
D. Kegiatan Pemasaran Seni Kerajinan
Sebagai pengrajin kecil pada usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), pada awalnya, pola kegiatan produksi masih bersifat tradisional dan hanya kenal dengan pasar regional sekitarnya. Mereka menjajakan produknya berkeliling dari desa ke desa, mensuplay para pengepul di pasar-pasar tradisional. Umumnya produk yang dihasilkan jauh dari unsur seni, sesuai dengan kebutuhan harian masyarakat sekitanya, seperti roduk seni kerajinan sebagai barang peralatan rumah tangga. Mereka adalah masyarakat yang rata-rata mengenyam pendidikan tingkat dasar, sehingga belum begitu baik untuk mengenal pasar modern yang lebih luas apalagi aplikasi dengan teknologi informasi. Namun bagi unit-unit usahan yang cukup besar dapat mengatur kegiatan pasar seefektif mungkin. Merka dapat memahami, menerapkan, dan melakukan jenis-jenis pola pemasaran yang cukup baik.
Pengrajin seni kerajinan Keramik tidak semua membuat terobosan pasar dari berbagai sisi, seperti mengikuti pameran di dalam maupun diluar negeri, atau membuat situs di internet. Namun juga mereka mengandalkan arshop-arshop yang mereka miliki di wilayah sepanjang jalan Kasongan. Tampaknya pasar seni kerajinan yang terpadu dalam sebuah lokasi membuat para buyer yang semula datang untuk membeli seni kerajinan Keramik pada beberapa buyer juga melirik produk non gerabah yang juga ikut dijajakan di wilayah sepanjang jalan Kasongan.
Sebagai desa wisata Kasongan telah mampu menjadi salah satu tujuan wisata yang baik. Ketertarikan dengan wilayah ini telah membuat Kasongan memiliki daya tarik tersendiri pada para buyer. Sebagai wilayah kedua yang didatangi oleh para buyer lepasan dari Bali, maka Kasongan sebagai pilihan utama bagi para wisatawan terutama yang suka berbinis dalam bidang seni kerajinan. Kasongan telah hadir sebagai representasi wilayah Bantul bahkan Yogyakarta sebagai pusat seni kerajinan yang dihasilkan dari wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Meskipun Malioboro telah hadir dan menampilkan produk seni kerajinan Yogyakarta para buyer yang telah mendalami bisnisnya tentu menghindari Malioboro untuk negosiasi bisnisnya. Inilah yang membuat daya tarik Kasongan semakin menjadi ketika produk hadir sebagai ujung tombak dalam meraih pasar di sepanjang kiri-kanan jalan Kasongan itu.
Perusahaaan yang memiliki kapasitas dapat melayani buyer dalam skala container tentu melakukan upaya pemasaran yang lebih luas. Salah satu produk pameran seni kerajinan yang bertarap internasional adalah Trade Ekspo Indonesia (TEI) pada bulan Oktober tiap tahunnya dan IFFINA pada bulan maret adalah dua pameran besar internasional di Indonesia yang sering diikuti oleh para pengusaha yang telah memiliki system managemen yang baik, atau perusahaan yang berorientisasi ekspor. Ada juga pmeran INACRAFT yang diselenggarakan bulan April yang lebih focus utuk pasar local, juga menjadi salah satu alternative pasar dalam negeri.
Namun demikian pemasaran pada tingkat ke dua adalah pemasaran yang memang khusus mensuplay para trading yang dibawa berpameran internasional itu. Mereka memposisikan diri sebagi penyuplay saja, mereka tidak mau melakukan pameran sebab akan terjadi benturan diantara pembeli dan produsen yang ikut serta dalam sebuah event pameran. Demikian pula kegiatan pameran luar negeri beberapa pengusaha yang telah berpameran internasional dalam negeri, tentu tidak mau berpameran di luar negeri dengan kondisi tujuan pasar yang sama dengan buyernya. Memang etika menjadi sangat penting, posisi pasar yang mana yang akan diambil.
Sebuah kegiatan bisnis tentu memiliki pola dan langkah yang tepat dalam melakukan kegiatan pemasaran. Kantong mana yang akan di jelajah sesuai dengan kapasitas masing masing. Sebuah sentra seni kerajinan seperti Kasongan para pengrajinnya memiliki tingkat managemen yang berbeda-beda, yang lebih kecil akan mensuplay pada perusahaan yang lebih besar, baik dalam sistem produksi maupun pemasaran. Keduanya menjadi sangat penting dan terjadinya sinergisme yang baik dalam suasana saling menguntungkan. Jika berat sebelah maka sebuah usaha akan mengalami penurunan.
E. Penutup
Pemasaran seni kerajinan terutama seni kerajinan Keramik mermiliki pola pemasaran yang menyesuaikan dengan kapasitas usaha seni kerajinan Keramik itu. Usaha-usaha pemasaran yang dilakukan adalah:
1. Menjajakan secara berkeliling, terutama barang peralatan rumah tangga
2. Acongan, terutama saat musim wisata di beberapa wilayah yang dikunjungi wisatawan seperti di Alun-alun Utara.
3. Memiliki Showroom di pinggir jalan Kasongan.
4. Mengikuti Pameran-pameran local dan Internasional
5. Membuta situs pemasaran melalui Internet.
6. Adanya guide yang membawa tamu ke showroom/studio dengan memberi imbalan “brengos” yang umumnya lima persen.
Hal itu beberapa hal yang dapat penulis disampaikan ada kurangnya mohon maaf.





F. Tentang Penulis
Nama Timbul Raharjo, bertempat tinggal di Kasongan Kab. Bantul Yogyakarta. Lahir di Kasongan 39 tahun yang lalu. Tahun 2008 menyelesaikan program Doktor di Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada. Tahun 2007 menerima anugerah UPAKARTI dari Presiden, dan menjadi pengusaha terbaik empat versi Dji Sam Sue. Mengajar di Jurusan Kriya ISI Yogyakarta, Memiliki studio Timboel Keramik di Kasongan.

Kamis, 07 Mei 2009

Penciptaan Seni Kriya dalam Ranah Suvenir

A. Pendahuluan
Terima kasih kepada panitia penyelenggara sebab penulis diberi kesempatan pada hari ini untuk bertukar pikiran dengan para guru sekolah menengah pertama. Dalam kesempatan ini penulis sampaikan bahwa pola pengajaran pendidikan pada tingkat pertama selalu dimulai dengan bentuk-bentuk pembelajaran bersifat mendasar. Sebab pengetahuan seni tentu dikaitkan dengan selera orang per-orang yang deisebut dengan rasa seni atau art test. Ada orang yang dengan cepat dapat menyesuaikan dengan kreteria basig design dalam estetika, ada pula yang susah untuk segera menyesuaikan dengan rasa seni itu, namun bahkan ada yang pas dengan cita rasa seni itu, yakni dengan hasil kreatifitas yang luar biasa. Kepekaan meilihat, merasakan, mewujudkan dan mengapreasikan menjadi momentum yang baik dalam menelusuri kreatifitas. Oleh karena itu pembuatan suvenirpun dalam tataran tertentu juga harus memperhitungkan bagaimana sebuah suvenir hadir untuk menjawab tantangan konsumen yang meginginkannya. Jika dalam membuat suvenir diperhitungkan dengan baik, maka akan segera terakomodasi sebagai produk yang siap dikonsumsi masyarakat.
Dalam pembuatan suvenir memang belum ada aturan pembantasan secara khusus, sebab suvenir itu umumnya berukuran kecil. Sebagai barang yang diapakai sebagai kenang-kenangan , tanda mata, cenderamata, atau apalah yang sifatnya memeberikan bentuk pengingatan akan suatu peristiwa atau telah berkunjung pada suatu tempat dan lain sebagainya. Oleh karena itu umumnya suvenir berukuran kecil agar mudah dibawa oleh orang yang menginginkan atau diberi sebagai produk pengingat agar terkenang terus ketika suatu hari melihat produk itu. Kenangan itu akan hadir manakala telah datang rentang waktu atau masa sesudahnya dan berefek pada pelamunan akan peristiwa yang diwakili oleh suvenir itu. Sungguh merupakan kenangan yang menarik, yang menyedihkan, mengharukan atau bahkan menjengkelkan. Namun peristiwa adalah bentuk kenangan yang telah menjadi sejarah akan peristiwa lampau yang saat ini situasinya berbeda. Untuk itu kenangan pada umumya adalah kenangan yang manis agar menumbuhkan gairah kesenangan baru ketika menikmati suvenir itu.
Baiklah dalam kesempatan ini seni kriya diciptakan sebagai suvenir diharapakn sebagai bagian penting dalam proses pembelajaran. Dalam dunia pendidikan seni sampai saat ini belum diberikan porsi yang layak dalam kurikulum di Indonesia, sehingga porsi dan posisi pembelajaran seni senantiasa dirasa masih belum berpihak alias kurang, padahal seni merupakan pembentuk dasar kepekaan seseorang akan kehalusan, keunikan, dan estitika. Beberapa Negara maju telah memposisikan seni sebagai pra-empiris untuk membentuk rasa kehalusan jiwa, sehingga kepekaan akan esteika dapat diterapkan atau terbawa ke berbagai bidang kegiatan yang mereka geluti.
Sementara di Indonesia sebagai Negara berkembang kegiatan seni dalam hal ini seni kerajinan pada kenyataanya banyak mengandalkan pada ketrampilan tangan. Kegiatan ini dilakukan oleh masyarakat pengrajin yang tersebar di beberapa sentra seni kerajinan yang berkembang di Indonesia. Kandungan nilainya tambahnya adalah nilai seni dan keunikannya dari olah ketrampilan tangan. Orang asing sering menyebut dengan keunikan Asia, seni yang berciri khas dan bersumber inspirasi benda-benda budaya timur (ancient art). Karena bermula dari seni tradisi, maka terdapat anggapan persoalan kreatifitas hanya terbentuk dari daya peniruan atas seni tradisi tanpa ada perubahan. Jika hanya bentuk pengulangan yang terus menerus menjadi hambar nilai kreatifitasnya, bahkan dikawatirkan dianggap primitive. Tampaknya jenis seni apapun yang berhasil dengan daya kreatifitas dan inovasinya akan segera terapresiasi penggemarnya tanpa mempertimbangkan primitive, modern, atau tradisi.
Nah dengan demikian dalam pembuatan suvenir perlu adanya sebuah pengetahuan dalam bidang seni kriya agar pembuatan suvenir memiliki daya tarik tersendiri bagi calon pemakainya. Perhitungan dan pertimbangan dalam membuat suvenir perlu diberikan rambu-rambu yang baik agar suvenir yang diciptakan memiliki kreteria sebagai suvenir yang unik dan menarik. Kemenarikan itu akan terpancar pada sisi karakter yang terdiri dari daya kreatifitas, pemilihan bahan, bentuk, finishing, dan ide yang original. Didukung dengan pola produksi dan pola pasar, maka akan tercipta suvenir yang “bagus”. Arti bagus disini menurut penulis sangat relative, bisa bagus karena bentuknya yang unik bagi pada perasaan pembuatnya, bagus karena cepat laku, atau bagus karena menjuarai pada lomba suvenir. Bagus dan tidak tentunya tergantung pada kandungan esteis, makna, dan tentunya test seni. Jika suvenir telah dijadikan mata pencaharian, maka bagus itu adalah cepat laku, jika sebagai koleksi pribadi bagus karena ia suka, dan lain sebagainya. Namun dalam persoalan ini pembekalan pengetahuan bagi para guru tentu dimulai dari bagaimana membuat produk agar supaya bagus dalam arti kreteria telah terpenuhi yakni bagaimana menggugah daya kreatifitas anak didik agar dapat mau untuk membentuk seni dari hasil pengamatan yang ada disekitarnya dan dijadikan seuatu yang bermanfaat.
Nah bagaimana membuat seni kriya dalam ranah suvenir ini menjadi bagus, maka penulis mencoba untuk membuat beberapa masukan agar dapat dipakai sebagai pengetahuan dalam membentuk suvenir. Bukan saja membuat suvenir yang dilihat dari sisi basig design melalui bentuk saja, namun perhitungan tentang budaya, bahan, produksi, dan marketnya memegang peran sangat penting. Hal ini agar anak didik memiliki gambaran holistic apa fungsi dari suvenir secara utuh.
B. Pemilihan Bahan
Indonesia memiliki keunikan bahan baku yang dapat dieksplorasi menjadi produk yang memiliki nilai tambah melalui sentuhan kreatifitas. Bahan mentah atau row material di Indonesia banyak diekspor tanpa kita tahu kegunaan selanjutnya, seperti bijih besi, rotan, kapur, dan lain sebagainya. Tentu dibutuhkan manusia-manusia yang memiliki kemampuan untuk mengeksplorasi sebuah bahan yang melimpah dan tampak tidak berguna itu diubah menjadi sesuatu yang memiki nilai lebih, sehingga memiliki daya jual yang lebih baik dari pada row material yang ada. Salah satunya dibentuk menjadi barang seni kriya. Kepekaan terhadap bahan yang ada di alam sangat diperlukan, semisal sebuah daun kering yang kemudian ditekok, dilipat, dan dilem menjadi sebuah bunga yang menarik. Sepotong kayu bakar yang kemudian diberi sentuhan guratan, dan diberi tulisan dapat dibuat sebuah suvenir yang berfungsi sebagai gantungan kunci.
Kepekaan melihat dan mengamati bahan yang ada disekitar kriyawan menjadi hal yang perlu ditekankan bagi anak didik kita. Siswa diajari bagaimana melihat suatu bahan yang tampak tidak berguna itu menjadi sesuatu yang bermanfaat. Dengan cara demikian kreatifitas anak didik akan terus terasah untuk memanfaatkan bahan itu, dalam bahasa Jawa “reko-reko” dengan rekaannya pasti memunculkan sesuatu yang berbeda dari asal mula bahan sebelumnya. Dengan demikian bahan baku tidak harus dibeli dari toko, atau impor dari luar negeri. Eksplorasi bahan sendiri memiliki keuntungan yang luar biasa, sperti bahan tidak usah beli sehingga menekan cost produksi dan pasti jika dijual memiliki keuntungan lebih besar. Pertimbangan ini telah terbukti ketika krisis ekonomi tahun 1997 dimana sektor konglomerasi bangkrut karena semua atau sebagian besar bahannya import dari manca Negara. Oleh karena harga bahan impor dan saat itu ternyata harganya melambung tinggi, sehingga harga jualnya tidak sebanding dengan cost produksinya. Bahkan pasar yang dituju ternyata pasar local, yakni dalam negeri yang juga sedang krisis saat itu. Bahan yang didapat dari lokal saat krisis itu mampu bertahan sebagi contoh maraknya order kepada sentra seni kerajinan kayu Jepara, Keramik Kasongan, Sebatu Tegalalang Bali, mereka taun 1997 meraup keuntungan yang luar biasa karena salah satunya berbahan lokal.
Sekali lagi pemilihan bahan bagi para pembuat suvenir pemula penting sebagai penggugah kreatifitas. Mereka dapat membayangkan akan dibentuk seperti apa bahan itu, misalnya bahan berupa tanah liat maka dibuatlah seni kerajinan keramik, kayu dapat dibuat seni kriya suvenir dalam kerajinan kayu, bebatuan maka dapat dibentuk patung, jika berupa powder maka dapat dibentuk dengan menggunakan bahan katalisator seperti semen atau lem. Katalisator tersebut dapat menguatkan powder dan bersifat keras setelah pembentukan selesai. Jika bahan yang ditemui dedaunan maka dapat dibentuk bunga-bungaan atau bentuk lain yang memiliki keunikan tersendiri. Bahkan lumpur Lapindo yang jutaan kubik itu dapat dimanfaatkan untuk membuat seni kerajinan keramik, patung, atau suvenir apapun dengan cara dibakar, ditambah semen, resin dan lain sebahgainya. Nah kepekaan mengolah bahan ini menjadi penting untuk membuat sebuah produk suvenir yang memiki karakter bahan lokal.
C. Sumber Inspirasi
Sumber inspirasi adalah ilham yakni sebuah bentuk tertentu untuk memancing sebuah kreatifitas terhadap penentuan sebuah tindakan atau membuat sesuatu. Sebagai sebuah angan-angan yang muncul dari hati, bisikan hati, atau sesuatu yang menggerakan hati untuk mencipta, bahkan bisikan dari tuhan seperti para Nabi. OLeh karena itu sumber inspirasi adalah awal munculnya angan-angan untuk membentuk sebuah suvenir yang didapat dari pancingan sumber itu. Tindakan kreatifitas diawali dengan sumber yang didapat dari sebuah bentuk yang ada baik yang berupa artefak sejarah, simbol penting dari sebuah ciri wilayah dan lain sebagainya. Upaya penciptaan itu dilandasi dengan angan-angan bahwa sebuah suvenir memiliki daya pikat dan daya kenang yang kuat dari sebuah bentuk sumber inspirasi yang dipilih. Pemilihan sumber tentu diperhitungkan sebagai salah satu image dengan mengambil sumber inspirasi lambing kota, wilayah, cerita-cerita mitos, dan lain sebagainya. Ciri khas inilah yang membuat suvenir menjadi berharga.
Budaya sebagai sumber inspirasi dalam penciptaan suvenir penting terutama yang berhungan dengan bentuk suvenir berkaitan dengan pariwisata. Pemerintah daerah pada umumnya mengupayakan bentuk-bentuk suvenir yang khas daerahnya. Surabaya memiliki banyak artefak budaya yang dapat dieksplorasi sebagai sumber inspirasi pembentukan barang suvenir. Peninggalan yang sifatnya masa lampau seperti artefak Kerajaan Majapait, bahkan cerita Sura dan Baya yang melegenda sebagai mitos yang akrap ditelinga masyarakat Surabaya sebagai cerita awal munculnya kota Surabaya. Bentuk-bentuk itu dapat dieksplorasi dengan media bahan yang telah dipilih sebagai bahan pembuat suvenir. Kegiatan pariwisata di Surabaya sebagai bentuk upaya pemerintah daerah dalam menggalakan kunjungan wisata. Wisatawan menginginkan bentuk kenangan yang berkhas Surabaya. Dengan demikian diperlukan upaya-upaya eksplorasi bentuk-bentuk simbol umum yang dapat memberikan image pada wisatawan tentang Surabaya. Hal ini sesuai dengan program pemerintah tentang upaya percepatan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat.
Bentuk-bentuk lain tentu juga menjadi pertimbanagn manakala sebuah suvenir dipesan dengan desain dari pemesan seperti logo pertamina, logo sebuah merk dagang tertentu, dan lain sebagainya. Simbol itu kemudian digarap dengan daya kreatifitas seorang pembuat suvenir sehingga memenuhi kreteria yang diinginkan konsumen. Lain lagi ketika suvenir itu dibentuk bukan atas permintaan dari para pemesan yakni suvenir yang ciptakan dari kreasi sendiri yang berinpirasi dari angan-angan yang tidak begitu jelas tetapi karakter bahan lebih ditonjolkan. Jika suvenir itu diproduksi secara masal dalam suatu desa atau wilayah, maka jenis inipun lambat laun menjadi ciri khas daerah itu. Oleh karena itu simbol yang ada di sebuah wilayah dapat ditentukan dari seberapa besar nelai kepentingan dan impresi yang dimunculkan dan simbol, artefak maupun hasil dari angan-angan itu.
D. Fungsi Suvenir
Kombinasi pemilihan bahan dan pemilihan sumber inspirasi sangat penting dalam membekali anak didik dalam memahami pada suvenir yang dibuat dengan tujuan tertentu. Artefak dan simbol wilayah adalah penting sebagai dasar pembentukan suvenir yang dikonsumsi oleh para wisatawan, tamu Negara, atau tamu pribadi yang sengaja berkunjung. OLeh karena itu bentuk selalu berubah sesuai dengan kebutuhan. Tujuan dibuat suvenir pada umumnya di peruntukkan:
Suvenir pemenuh kebutuhan pariwisata
Suvenir untuk kebutuhan acara pernikahan
Suvenir untuk kebutuhan acara peresmian
Suvenir untuk acara promosi
Suvenir untuk acara kunjungan
Suvenir untuk acara pertemuan ilmiah
Suvenir untuk ulang tahun
Dan lain sebagainya.
Kebutuhan suvenir untuk pariwisata di beberapa wilayah tujuan kunjungan wisata telah hadir berbagai bentuk suvenir. Bahan dan bentuknya telah beraneka ragam, seperti berbahan kerang, kayu, logam, bahkan testile seperti kaos oblong dan lain sebagainya. Mereka menawarkan berbagai suvenir ini untuk dikonsumsi wisatawan yang berkunjung di sana. Suvenir yang sering menjadi primadona oleh para pengrajin adalah suvenir yang dipakai dalam upacara pernikahan. Suvenir ini memiliki pangsa yang luar biasa sebab pada bulan-bulan tertentu pada masyarakat Jawa misalnya banyak acara pernikahan yang memerlukan suvenir. Sentra-sentra industri suvenir pada bulan tertentu itu banyak diserbu oleh para pasangan muda yang akan menyelenggarakan pernikahan. Hanya sayangnya beberapa tahun ini produk-produk Cina mendominasi dipasar Indonesia dengan harga yang relative murah dan berteknologi tinggi seperti “ceklikan kuku”, sisir dan kaca, bola berlampu dan lain sebagainya, sehingga produk lokal mengalami penurunan omset produksi.
Untuk acara peresmian, promosi, pertemuan ilmiah, dan lain sebagainya tentu menggunakan bentuk yang sesuai dengan program kegiatan itu. Oleh karena itu bentuknya mengikuti apa yang sedang di upacarakan. Suvenir seperti ini juga jumlah dan macam bahannnya bervariasi, namun karena untuk pemenuhan modernisasi sebuah promosi, maka umumnya menggunakan material yang lebih modern seperti logam, resin bening dan lain sebagainya. Nilai luxurious dikedepankan sebagai image yang baik untuk mengangkat produk yang sedang dipromosikan.
E. Teknik Produksi
Teknik Produksi dalam membuat suvenir mengikuti produk seperti apa yang akan dibuat, bahan apa, dan finishing seperti apa. Oleh karena produk suvenir umumnya berukuran kecil, mudah dibawa, dan jumlahnya banyak, maka perlu peralatan yang tidak saja mengandalkan kehalusan ketrampilan tangan, namun agar ukuran dan stabilisasi bentuk tercapai maka upaya modernisasi dengan percepatan produksi, oleh karenaya upaya pembentukan dengan mesin dilakukan. Hasil akhir sentuhan tangan perlu dikedepankan terutama untuk produk suvenir yang memiliki keunikan terutama pada karakter pada ketrampilan tangan. Pengetahuan dan pemahaman produksi dalam pendidikan ditekankan pada system yang sederhana dan mudah, tidak sulit dan terjangkau. Bagi anak didik, bentuk-bentuk yang sederhana itu sebagai upaya untuk mamancing kreatifitas. Pada umumnya kreatifitas dalam persoalan produksi akan terbentuk ketika telah menemui berbagai persoalan pekerjaan yang mengharuskan pada penyelesaian tepat waktu, tepat kualitas, dan tepat management.
Perjalanan penciptaan diawali dari pemilihan bahan, sumber inspirasi, sketsa, detail gambar, perwujudan, finishing, dan pemasaran adalah hal-hal yang saling berkaitan. Pengetahuan ini sangat penting, sebab dalam produksi harus berimbang dengan bagaimana kesediaan bahan, dan kemampuan pasar menerima produk suvenir itu. Suvenir akan berhasil apabila terlah ada wujud sesuai dengan kaidah desain yang ada, apalagi jika telah laku dijual. Pengetahuan tentang urusan memproduksi dan berjualan, selanjutnya dapat membekali anak didik menjadi seorang entrepreneur dalam bidang pembuatan seni kriya, terkhusus pada bisnis pembuatan suvenir. Dengan demikian kreatifitas mereka terbangkitkan yang akan memberi efek eksplorasi pada tindakan lain yang lebih bermanfaat.
Kegiatan memancing kreatifitas adalah bagian dari kewirausahaan, produktifitas, dan upaya managerial yang baik akan membentuk sebuah usaha yang madiri. Kemandiriannya akan ditentukan oleh kesetabilan berproduksi dan bagaimana upaya memasarkan produk. Umumnya mereka menemui peningkatan yang luar biasa, namun kurangnya kegigihan dan pengaturan proses produksi maka mereka mulai bosan, kualitas turun, dan akhirnya bangkrut. Apalagi menggunakan system management yang ala kadarnya pastilah tidak akan bertahan lama. Oleh karena itu, ada dua usaha yang harus dipertahankan yakni upaya ke luar dan upaya ke dalam. Upaya ke luar adalah bagimana menjaga para pelanggan untuk terus menggunakan produknya. Dan upaya ke dalam bagaimana meningkatkan produktifitas yang berkaitan dengan supplier, tenaga kerja, dan “tetek bengek” persoalan yang ada dalam system produksi yang sering memusingkan kepala. Belum lagi jika ada pelanggan yang ngutang, atau karyawan yang ingin pinjam uang, dan lain sebagainya.
F. Sistem Regenerasi
Penulis sering dihadapkan pada persoalan regenerasi pada sentra seni kerajinan. Umumnya generasi baru tidak mau melanjutkan usaha orang tuanya, seperti yang terjadi pada industri kerajinan keramik di Godean Sleman Yogyakarta, anak-anak mereka lebih senang bekerja di perkotaan sebagai buruh pabrik tekstile, penjaga toko, buruh bangunan, dan lain sebagainya. Mereka lupa ketika ia sekolah dibiayai dengan seni kerajinan keramik yang dibuat oleh orang tuanya. Ada anggapan usaha orang tuanya “tidak keren”, ndeso, dan tidak modern. Dengan demikian tinggallah orang tua yang renta tetap membentuk seni keramik itu, sementara generasi mudanya pergi ke kota yang belum tentu memiliki prospek yang baik.
Dalam persolan ini, tentu pendidikan yang diupayakan terhadap anak didik agar mencintai pada hasil kreatifitasnya. Jika telah mencintai kreatifitasnya mereka akan mengupayakan kreatifitas yang lain dalam membentuk jatidirinya. Karakter, keberanian, mengungkapkan kreatifitasnya menjadi point yang penting dalam upaya menumbuhkan keberanian. Memang tidak semudah apa yang ditulis di sini, namun paling tidak upaya membentuk anak didik itu menjadi fokus utama untuk meberikan karakter entrepreneurship sebagai bekal hidup mereka. Nah.. dengan demikian upaya memberikan “pangalembono” terhadap anak didik terus diberikan yang kemudian diberi kritikan yang berupa masukan agar keberanian membuat terus dilakukan tanpa takut mendapat celaan dari guru pengajarnya.
G. Penutup
Sebuah kreatifitas untuk mencipta mencipta souvenir patut memperhitungkan kemungkinan munculnya ide yang original. Tentu kita tidak dapat berharap semua siswa harus menggeluti suvenir sebagai jalan hidupnya, namun pembuatan suvenir sebagai upaya memancing kreatifitas siswa untuk berbuat sesuatu yang bermanfaat dan bernilai seni. Pola pikir untuk membuat sebuah barang suvenir perlu pengetahuan bahwa sebuah suvenir memiliki latar belakang dan tujuan ke depan yang luas, yakni dimulai pemilihan bahan, sumber inspirasi, managerial, produksi, sampai pada bagaimana cara pemasaran, dan kreteria apa agar sebuah produk dapat disebut suvenir.
Bagi para guru dipersilahkan untuk mengupayakan pancingan kreatifitas terutama dalam membuat suvenir yang baik dan benar. Dalam kesempatan ini teman-teman guru sekalian akan membentuk sebuah produk berbahan gabus/stereophon, dengan pertimbangan gabus ringan, mudah didapat dan yang penting mudah dibentuk dan difinishing. Oleh karena itu pelaksanaan ini sebagai upaya untuk mengeksplorasi bentuk. Sementara sumber inspirasi dipersilahkan dapat mengakomodasi dari bentuk-bentuk artefak yang ada, symbol yang ada atau bahkan kreatifitas masing-masing. Produk yang dapat pula dilihat dari fungsinya seperti tempat pensil, asbak, tempat kunci dan lain sebagainya.
Demikian jika ada kekurangan penulis mohon maaf, terima kasih….

Rabu, 29 April 2009

INDUSTRI SENI KRIYA SEBAGAI MEDIA PERCEPATAN KESEJAHTERAAN EKONOMI KERAKYATAN[1]

INDUSTRI SENI KRIYA
SEBAGAI MEDIA PERCEPATAN KESEJAHTERAAN EKONOMI KERAKYATAN[1]
Dr. Timbul Raharjo, M. Hum.


A. Pendahuluan
Tampak judul di atas kental dengan nuansa ekonomi, namun penulis bukanlah seorang ekonom. Penulis adalah seorang kriyawan yang mencoba melihat sisi seni kriya dari perspektif ekonomi yang ternyata mampu mengangkat derajat perekonomian masyarakat perajin di beberapa wilayah Indonesia. Agar tidak salah tafsir dalam persoalan ini penulis menyebut dengan industri seni kriya. Oleh karena ada penambahan kata “industri”, maka seni kriya tidak lagi sebuah masterpiece, namun telah tereproduksi menjadi produk massal yang sering disebut dengan seni kerajinan. Sebab, seni kriya adalah sebuah karya yang diciptakan sebagai karya seorang kriyawan yang orisinal, kreatif, dan inovatif. Karya itu berdiri sebagai sebuah karya yang tiada duanya dan mampu memberikan sebuah produk baru sebagai karya seni kriya.
Tentu, hal ini menarik perhatian para pemerhati seni kriya. Apalagi jika teringat wajah kriyawan yang sering mengernyitkan jidat ketika hasil karyanya direproduksi para perajin seni kerajinan. Mereka gusar, marah, dan penuh segudang kejengkelan ketika mengetahui karya seni kriyanya diproduksi oleh perajin tanpa permisi. Terjadilah pertentangan antara kreativitas kriyawan dalam membuat karya dan kreativitas perajin dalam menjiplak seni kriya itu. Pertentangan itu terjadi diakibatkan kurangnya pengetahuan tata krama berbisnis di antara para perajin. Mereka menganggap persoalan karya kriya baru yang diciptakan kriyawan tidak memiliki nilai, karena beberapa perajin tidak pernah memikirkan betapa mahalnya sebuah ide kreativitas.
Pada beberapa tahun belakangan ini pemerintah menggalakkan apa yang disebut seni kreatif. Industri seni kreatif tersebut terus dipompa dengan harapan bahwa seni kreatif mampu memberikan inspirasi baru dalam persaingan global. Sebab, pada era global, ketika kreativitas membuat produk baru secara ekonomis dapat diterima masyarakat konsumen, maka daya saingnya semakin kuat. Dengan demikian, selanjutnya secara makro dapat membentuk ekonomi kreatif yang merupakan wujud dari upaya mencari titik temu pembangunan ekonomi masyarakat yang berkelanjutan melalui aspek kreativitas. Terbentuk pula suatu kelestarian iklim perekonomian yang berdaya saing tinggi, didukung cadangan sumber daya yang terbarukan dan tepat guna[2]. Banyak negara maju hanya mengandalkan kreativitasnya saja, seperti Jepang dan Korea. Dengan keterbatasan sumber daya alam namun karena kreativitasnya tetap mampu mengolah bahan yang didatangkan dari luar negaranya menjadi produk berdaya saing dan berteknologi tinggi. Nah, mampukah seni kriya sebagai bagian lahan kreativitas budaya bangsa Indonesia dapat dieksplorasi para kriyawan? Sesungguhnya juga dapat menjadi sebuah wilayah yang subur untuk meningkatkan daya saing bangsa Indonesia di mata dunia. Bukankah industri seni kriya saat ini mampu memberi nilai ekonomis dan banyak menyerap tenaga kerja?

B. Keadaan Dunia Seni Kriya
Seni kriya memiliki nilai artistik yang tinggi karena olah keterampilan tangan manusia. Olah seni itu umumnya terinspirasi atas kekayaan hasil seni dan budaya bangsa. Sebagai sebuah karakter budaya bangsa yang juga menggali sumber daya alam dan dipadu sumber daya manusianya, maka seni kriya memiliki aspek etnisitas yang mampu memberikan nuansa Indonesia. Aspek etnisitas itu terpancar dari keunikan eksplorasi seni tradisi Nusantara dan karakter bahan baku yang ada di setiap wilayah Indonesia. Perpaduan itulah yang menjadi menonjol pada pameran tentang aksesoris rumah dan furniture di Madrid beberapa bulan lalu. Memang, menjadi berbeda jika dibandingkan dengan hasil produk China, Vietnam, maupun negara Asia lainnya. Ciri khas Bali, Yogyakarta, maupun Lombok memberikan aksen ketertarikan tersendiri bagi para konsumen di Eropa.[3]
Pada tataran pendidikan maupun pemerintahan, kata “seni kriya” sangat dikenal untuk menyebut produk seni yang adiluhung hasil gubahan seni budaya bangsa. Para kreator seni kriya adalah sebagai kriyawan-kriyawan yang mampu memberikan inovasi baru terhadap perkembangan seni kriya Indonesia. Pada kenyataannya justru sering tidak mendapat tempat yang baik ketika karya yang dihasilkan tidak lagi menjadi karya kriya. Mereka merasa hasil kreativitasnya terenggut arus perubahan industrialisasi seni yang mengakibatkan seni kriya menjadi produk seni kerajinan. Seni kerajinan sangat mengikuti perubahan pasar sehingga jika produk yang dilempar ke pasar memiliki daya jual yang baik, maka para perajin akan sekuat tenaga mereproduksinya. Nah, ini menjadi sebuah persoalan bagi sebagian kriyawan. Memang, di antara mereka menjadi khawatir sebab mereka (kriyawan) berusaha mencari inovasi dan kreativitas yang cukup lama dalam proses penciptaannya. Namun dengan serta-merta dicomot sebagai model atau contoh bagi para pengusaha industri seni kerajinan. Inilah yang mengakibatkan beberapa kriyawan mandeg kreativitasnya.
Terdapat dua tujuan dalam penciptaan seni kriya, yaitu sebagai barang yang dibuat atas dasar kepentingan ekspresi pribadi dan seni kriya yang diciptakan atas dasar keperluan ekonomis. Keduanya diciptakan secara penuh perhatian dengan tujuan ke depan, mungkin hanya sebagai koleksi pribadi atau sebagai barang yang siap dijual: sebagai barang pemenuh pasar. Kriyawan-kriyawan justru muncul kreativitasnya untuk mau berkarya ketika karya yang dihasilkan memiliki daya tawar yang baik. Daya tawar itu akan bermuara pada medan transaksi baik secara langsung atau tidak langsung berupa tindakan ekonomis. Oleh karena itu, kriyawan yang mendasarkan pada tataran kesenimanannya sering tidak tahan ketika persoalan ekonomi menimpa dirinya. Namun, kriyawan yang juga memikirkan bagaimana mekanisme produksi yang kreatif dan berusaha menelurkan reproduksi yang baik pula, maka kriyawan semacam ini akan selalu kreatif mencari peluang bagi produknya agar dapat diterima pasar. Adakalanya dengan kreativitasnya malah menciptakan produk seni kriya yang mampu mengarahkan pasar atau konsumen mengikuti arah perkembangan seni kriya kreasi baru itu. Bukankah karya seni lain pun akan selalu hidup jika ada penyangga yang dapat memberikan keleluasaan berkreasi agar kedua arah yakni antara produktivitas atas hasil kreativitas mendapatkan peluang atau diterima oleh pihak lain sebagai pengguna atau penikmat. Seorang kriyawan yang mampu membentuk karyanya diterima penikmat sebagai barang seni yang memiliki nilai tinggi, maka sang kriyawan tersebut telah mampu memberikan arah perubahan atas arus pasar yang sejalan dengannya.
Namun persoalan yang sering muncul adalah keengganan kriyawan untuk berkarya kriya karena persoalan dijiplak atau desainnya diproduksi orang lain. Seorang kriyawan yang memiliki talenta tinggi dalam menciptakan seni kriya dapat membuat pengguna, penikmat, atau pasar mengikuti gerak kreativitas itu. Hanya saja, beberapa kriyawan belum dapat memanfaatkan peluang tersebut. Hal ini disebabkan persoalan mindset dalam diri mereka justru berpikir tidak ada persoalan jika menciptakan karya yang sesuai imajinasinya. Hanya saja, bagaimana mekanisme keberlangsungan kreativitas itu sehingga dapat terus terjaga? Belum banyak juga kriyawan yang menguasai cara berproduksi yang baik serta cara memasarkannya. Hal ini memerlukan manajemen yang baik, didukung karakter kriyawan tersebut agar mau menjadi entrepreneur yang baik. Tentu, dalam hal ini, tidak saja diperlukan bagaimana membuat produk seni kriya yang baik, namun juga bagaimana menjalankan mekanisme proses reproduksi dan memasarkan hasil produknya. Itulah hal yang juga sangat penting.
Sebagai seorang kriyawan maka tinggal memilih jalur yang akan dilalui. Akankah memilih jalur seni kriya sebagai ungkapan jiwa kriyawan atau seni kriya sebagai produk yang mengabdi pada pasar? Jalur yang utama, jika mengikuti program pemerintah tentang seni kreatif maka memiliki peluang yang baik manakala sebuah kreativitas dapat diorganisasi menjadi badan usaha yang bergerak dalam pemenuhan desain baru atau ide baru seni kriya yang dapat dimanfaatkan oleh para pengusaha seni kerajinan. Tentu legalitas desain yang diciptakan akan mendapatkan hak sebagai desain ciptaan kriyawan karena didaftarkan ke badan yang mengurusi hak atas kekayaan intelektual (HAKI) yang meliputi hak cipta, hak merk, dan hak paten[4].

C. Keadaan Dunia Seni Kerajinan
Seni kerajinan merupakan bentuk kegiatan berkreasi masyarakat. Jika dalam sebuah wilayah terdapat seni kerajinan yang tumbuh dan berkembang sebagai bentuk kegiatan mata pencaharian, maka wilayah itu disebut dengan sentra seni kerajinan. Para penduduknya menggantungkan hidupnya dari membuat seni kerajinan yang banyak mengandalkan keterampilan tangan. Keahlian itu umumnya didapat dari peninggalan warisan orang tua mereka yang kemudian dikembangkan sebagai bagian penyesuaian dengan gerak pertumbuhan dan perubahan zaman. Bagi sentra industri seni kerajinan yang berkembang dapat dipastikan memiliki pelanggan atau konsumen yang baik. Jika produk seni kerajinan itu semakin laku, maka kegiatan produksi volumenya semakin meningkat. Terjadi sebuah mekanisme sirkulasi proses produksi yang kait-mengait sehingga terjadi sinergisme yang satu sama lain saling membutuhkan.
Pada beberapa tahun ini pemerintah menamai sinergisme itu sebagai klaster. Klaster sebuah sentra seni kerajinan adalah bentuk kegiatan yang saling mendukung secara keseluruhan dalam sebuah sentra seni kerajinan guna mencapai percepatan ekonomi kerakyatan. Keserasian antara peran pemerintah, perajin, dan konsumen dalam membangun sarana pembangunan infrastruktur, mekanisme perizinan, kesediaan bahan, transportasi, keamanan, dan agen-agen pemasar bergerak searah agar mencapai tujuan yang sama.
Sinergisme tersebut menjadi kesepakatan yang diatur bersama dalam mengembangkan sentra industri seni kerajinan. Hal ini diupayakan karena perajin yang sebagian merangkap sebagai pengusaha seni kerajinan umumnya susah diajak kerjasama. Mereka saling menutup diri, yang mengakibatkan tidak adanya komunikasi di antara para perajin, sehingga akhirnya terjadi persaingan tidak sehat. Saling curiga, menurunkan harga, menyerobot desain baru, menjelekkan lawan usaha dan seterusnya, sehingga tidak jarang terjadi perselisihan di antara mereka. Upaya-upaya sinergisme sebagai bentuk perwujudan kerjasama yang saling membutuhkan terus diupayakan. Tata kelolanya dapat di-sharing-kan secara bersama dalam sebuah bentuk kerjasama yang saling menguntungkan.
Namun upaya itu belumlah mendapatkan hasil yang maksimal. Di beberapa daerah masih terjadi persoalan yang cukup pelik, bahkan beberapa sentra seni kerajinan mulai surut, seperti kerajinan cor kuningan di Juwana Pati Jawa Tengah yang konon harga batangannya lebih laku daripada harga sebuah seni kerajinan. Maka, mereka pun mencetak bahan rongsok menjadi batangan-batangan logam kuningan untuk diekspor yang ternyata lebih menguntungkan. Juga masalah bahan baku kayu untuk keperluan permebelan masih menjadi persoalan, meskipun beberapa wilayah seperti di Klaten dan Solo dengan Asosiasi Mebel dan Kerajinan Indonesia (ASMINDO) Surakarta telah membuat depo bahan baku yang didatangkan dari luar daerah. Namun masih terganjal mekanisme suplai yang memang rumit: transportasinya mahal, adanya pungli aparat dan para preman, dan perizinan yang serba duit[5]. Kemudian adanya kenyataan tangisan para perajin keramik di Banjarnegara yang tidak dapat melakukan glasir karena bahan bakar minyak maupun gas semakin tidak balance antara ongkos produksi dengan harga jualnya. Mereka sebagian kembali membakar dengan bahan bakar kayu yang suhu panasnya kurang stabil serta tidak cocok untuk membakar glasir.
Padahal, sebuah wilayah sentra seni kerajinan telah menjadi magnit bagi sebagian masyarakat yang ingin mengembangkan usaha kerajinannya. Sebab, keberadaan sentra tentu telah diketahui para pembeli seni kerajinan. Sebagai contoh, seni kerajinan keramik Kasongan misalnya. Sentra keramik ini telah banyak dilirik dan dijajah para pedagang seni kerajinan dari wilayah luar Kasongan meskipun produk yang dijajakan bukan keramik. Dan ternyata tetap laku. Para pembeli pada kenyataannya berpikir ulang untuk tidak hanya membeli kerajinan keramik, namun juga seni kerajinan lain yang ada di Kasongan. Sebab pedagang seni kerajinan mancanegara itu terdiri dari retailer dan wholesaler. Umumnya, retailer melakukan pembelanjaan lebih bervariatif yang banyak itemnya, hal ini untuk keperluan penjualan dalam lokasi art shop yang ia miliki saja. Berbeda dengan wholesaler yang membeli dengan jumlah banyak namun itemnya sedikit. Dalam proses pembelanjaan pun seorang retailer harus mengumpulkan barang belanjaannya dalam satu lokasi untuk konsolidasi. Sementara wholesaler lebih banyak melakukan pengiriman pada satu perajin yang mengerjakan dalam item terbatas tersebut.
Memang, sebuah sentra industri umumnya lahir dari kunjungan wisatawan yang tertarik dengan produk yang telah ada. Kemudian mereka membeli secara langsung sebagai oleh-oleh. Belakangan, setelah dirasa produknya memiliki daya jual yang baik, maka beberapa pembeli mengupayakan sebuah bisnis yang saling menguntungkan dalam sebuah pembelian yang relatif besar. Oleh karena itu, hasil kerajinan yang semula diperuntukkan bagi pariwisata kemudian ber-order banyak, maka sentra itu juga lebih banyak memenuhi dunia bisnis seni kerajinan. Ada juga yang secara sadar membentuk sebuah perusahaan dengan cara merencanakan sebuah proses produksi yang baik dan sistem pemasaran yang gencar. Bahkan ada juga perusahaan trading yang hanya menangani pemasaran saja tanpa memproduksi, melakukan collecting produk dari perajin, menata dokumen pengiriman, dan melakukan transaksi pembayaran langsung dengan para buyer. Hal demikian cukup menjamur terutama pada perusahaan yang merangkap sebagai shiping company dan agen yang mirip dengan trader.


D. Industri Seni Kriya yang Berkembang di Indonesia
Jika membicarakan persoalan industri pasti di benak kita kemudian masuk pada pemikiran yang berkaitan dengan teknologi modern: pabrik yang mesinnya canggih maupun perusahaan yang menggunakan alat permesinan, seperti pabrik besi-baja, otomotif, dan elektronik. Pada dasarnya terdapat apa yang disebut dengan industri hilir, yakni memproduksi barang yang siap dilempar ke enduser dan industri hulu yang banyak membuat barang baku dan bahan penolong. Namun, ada pula industri yang jauh dari urusan permesinan yakni industri jasa seperti perhotelan, pariwisata, dan lainnya[6]. Dalam beberapa persoalan yang berkaitan dengan seni kerajinan yang mengutamakan kerja tangan, ada yang menyebut dengan industri pedesaan sebab merupakan perkembangan sebuah kegiatan masyarakat pedesaan dalam membuat peralatan rumah tangga atau barang keperluan hidup. Awalnya, mereka membuat produk yang sederhana yang usefull untuk dikonsumsi sebagai barang kebutuhan rumah tangga (houseware). Lagi-lagi karena desakan modernisasi maka peralatan pabrikan oleh industri besar yang menggunakan mesin membuat industri pedesaan tersisih hingga perajinnya kehilangan pekerjaan. Hal ini juga disebabkan karena konsumen lebih suka mengonsumsi barang pabrikan yang konon relatif praktis, ringan, lebih bergengsi, dan dikemas secara menarik. Oleh karena itu, produk tradisional masyarakat industri pedesaan itu kemudian diupayakan untuk dapat memiliki nilai yang lebih daripada produk pabrikan, seperti penambahan aspek nilai seni pada produk kerajinan. Kerajinan pun tidak lagi berfungsi sebagai alat dapur, namun menjadi barang home accessories atau barang sebagai penghias ruang interior rumah tinggal. Aspek desain pun diperbaiki dan cara produksinya menggunakan peralatan semi manual. Oleh karena nilai kerja tanganlah yang diutamakan, maka peralatan mesin hanya dipakai menangani proses awal, sementara pada proses akhir nilai sentuhan tangannya tetap mempunyai ciri khas. Hal inilah yang ternyata mampu bersaing di mancanegara karena aspek etnisitasnya yang khas. Dan untuk industri besar beberapa saat ini bangsa kita masih menjadi sasaran pasar potensial terbesar di Asia Tenggara.
Pameran Inacraft 2009 di Jakarta Convention Center Senayan adalah sebuah pameran khusus industri seni kerajinan terbesar di Indonesia terutama untuk konsumsi dalam negeri atau pasar lokal. Di saat krisis ekonomi global seperti saat ini, adanya pameran Inacraft sangat bermanfaat untuk menyambung hidup di tengah redupnya pasar internasional. Kita tahu, terjadi penurunan ekspor seni kerajinan yang diperkirakan mencapai 75% sampai semester pertama tahun 2009. Pameran yang dibuka Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada 22 April 2009 itu mengkampanyekan cinta Indonesia yakni dengan memberikan ajakan meningkatkan apresiasi dan kebanggaan menggunakan produk nasional. Kampanye cinta Indonesia itu dengan tema “100% Cinta Indonesia” sebab ternyata industri seni kerajinan nasional memang memberi kontribusi relatif besar, yakni 30% dari total produk industri kreatif di Indonesia. Melibatkan sekitar 700.000 Usaha Kecil Menengah (UKM), keberadaan industri seni kerajinan telah menyerap 1,8 juta tenaga kerja[7]. Pameran itu setidaknya memberikan acuan potret perkembangan seni kerajinan di Indonesia.
Industri seni kerajinan yang berkembang di Indonesia memberikan kontribusi yang signifikan pada pertumbuhan perekonomian nasional. Bahkan industri ini menyumbang 6,3% dari produk domestik bruto Indonesia. Perkembangan ini memberikan dukungan bagi pertumbuhan ekonomi yang berbasis kerakyatan dan dapat memberi peluang untuk terciptanya usaha baru yang dapat menyerap tenaga kerja. Untuk mengoptimalkan pertumbuhan seni kerajinan maka pemerintah telah membuka kran yang lebar pada akses permodalan. Terlihat pada upaya pemberian kredit lunak tanpa agunan oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang dikucurkan pada para perajin sebagai binaannya. Fasilitas pemerintah melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) diharapkan dimanfaatkan secara optimal. Konon, tahun 2009 alokasi anggaran KUR mencapai 20 triliun. Upaya itu sebagai bagian untuk dapat memberikan peluang yang lebar bagi pertumbuhan seni kerajinan.
Dalam pembicaraan tentang industri seni kriya marilah kita coba melihat perkembangan dari wilayah Yogyakarta. Yogyakarta dikenal dengan produk seni kerajinan yang dapat pula dijadikan tolok ukur perkembangan seni kriya di Indonesia, baik kriya sebagai karya seni maupun seni kerajinan pemenuh kebutuhan pasar[8]. Pertumbuhan dan perubahannya selalu dinamis. Terdapat sentra-sentra industri seni kerajinan yang berkembang yakni sentra seni kerajinan keramik Kasongan, Pundong, dan beberapa sentra seni kerajinan keramik lainnya. Ada pula sentra industri berbahan kulit tersamak dan perkamen yang berkembang di Manding, kulit ikan pari di Sleman, wayang kulit Genteng dan Pocong di Imogiri. Industri seni kerajinan perak di Kotagede, cor logam aluminium-kuningan di Gunung Sempu. batik kayu di Krebet Pajangan Bantul, topeng di Putat Gunung Kidul, tenun di Gamplong Sleman, dan lain sebagainya. Sentra itu terbentuk dari keunikan produk yang telah ada berkat keterampilan nenek moyang mereka. Bentuk-bentuk seni tradisi yang berkembang mendapatkan sentuhan desain yang menyesuaikan perkembangan zaman sehingga menjadikan sentra tersebut dapat berkembang cukup pesat.
Namun demikian, terjadi pasang-surut pada beberapa sentra industri seni kerajinan yang berkembang di Yogyakarta. Pada saat krisis ekonomi pada tahun 1998, jenis industri ini sebagian besar memiliki daya saing luar biasa. Bahan yang didapat adalah dari sumber daya alam lokal Indonesia, didukung dengan jumlah tenaga kerja dan keterampilan tangan perajin yang mampu membentuk sebuah kawasan ekonomi dapat bertahan bahkan meningkat di saat krisis. Namun, pada saatnya sebuah usaha tentu tetap mengalami surut seperti ketika krisis finansial global 2009 saat ini. Krisis ini bermula dari Amerika yang sangat berdampak pada industri seni kerajinan. Hal ini dikarenakan hampir 80% produk kerajinan diekspor ke mancanegara. Dengan melemahnya daya beli masyarakat internasional, maka dampaknya sangat terasa pada tahun 2009 ini. Diharapkan pada tahun 2010 nanti keadaan akan lebih baik dan dapat memberikan keleluasaan pasar ekspor seni kerajinan dari Indonesia.
Industri seni kerajinan menjadi tumpuhan kekuatan ekonomi masyarakat, seperti apa yang terjadi di wilayah Kabupaten Bantul. Kabupaten ini telah dikenal sebagai satu-satunya tempat diproduksinya barang seni kerajinan yang banyak menghiasi galeri di beberapa kota besar di dalam maupun di mancanegera. Hampir 20% penduduknya menggantungkan hidup dengan menggarap seni kerajinan. Memang, Bantul memiliki kekuatan penting dalam dunia seni kerajinan di wilayah Yogyakarta bahkan Indonesia. Barangkali benar jika Bantul memiliki predikat lain yakni the Mekkah of kriya Indonesia is Bantul. Industri seni kerajinannya berkembang hampir di setiap kelurahan karena terdapat perajin-perajin yang siap mengerjakan order yang datang.

E. Penutup
Industri seni kriya pada dasarnya memiliki peluang yang baik dalam meraih kesempatan berkembang di tengah pasar ekspor. Hubungan antara produsen dan konsumen sebenarnya hanya berhenti sesaat di saat krisis finansial global 2009 ini. Telah terbukti sector ini banyak memberikan pengaruh ekonomis terhadap masyarakat pengrajin. Hal inilah yang diharapkan menjadi salah satu bentuk kegiatan kreatif yang dapat memberikan nilai tambah pada kehidupan masyarakat sebagai bentuk ekonomi kerakyatan di Indonesia. Persoalan antara kriyawan dan perajin seni kerajinan sebenarnya juga dapat disinergikan dengan beberapa langkah kemungkinan, yaitu:
Perlunya komunikasi di antara kriyawan dan pengusaha industri seni kerajinan, agar tumbuh sikap saling memerlukan dan menghormati hak maupun kewajiban. Seorang kriyawan yang kreatif akan mencipta produk desain baru, dan perajin pun bersedia memproduksi dalam jumlah banyak. Sementara pengusahanya cenderung mengatur strategi dalam pemasaran.
Membentuk badan usaha yang berkaitan dengan penyediaan ide kreativitas dalam bidang seni kriya atau seni kreatif. Badan ini dikelola dengan manajemen yang baik sehingga hasil idenya dapat dijual kepada para perajin. Hal ini hampir mirip dengan research and development yang dapat mengakomodasi kemauan mengembangkan jenis produk karena adanya ide-ide yang orisinal dan laku jual.
Pemahaman perlunya pengetahuan kriyawan yang tidak saja mempelajari bagaimana menciptakan produk seni kriya yang berorientasi kepuasan batin saja, namun juga dapat mempelajari selera konsumen pada zamannya. Pengetahuan ini penting sebagai bagian mencari ide kecenderungan produk seperti apa yang akan muncul pada tren berikutnya.
Pada situasi krisis global tentu sedikit bertiarap sambil memperbaiki situasi di dalam perusahaan apakah kelemahan kita selama ini. Ekspansi dan investasi mungkin masih jauh dari pemikiran.
Terdapat industri kecil pedesaan yang melibatkan ratusan ribu tenaga kerja yang memiliki potensi reproduksi kerja tangan luar biasa. Industri ini tentu akan menyerap tenaga kerja dan memberikan peluang memperoleh pendapatan dalam hidupnya.
Seni kriya sebagai media percepatan perkembangan seni kerajinan terutama pada suplai desain baru. Industri seni kriya menjadi sangat penting manakala produk baru di era global telah menjadi ujung tombak keberhasilan sebuah produk sehingga dapat diterima pasar.
Mulai menghilangkan manajemen ala kadarnya menjadi manajemen yang profesional. Karena dengan profesionalitas itu akan memberi andil besar dalam pertumbuhan sebuah perusahaan. ***
F. Tambahan Wacana
“Kampanye Cinta Indonesia Bukan Tindakan Proteksi” ulasan berita Pameran Inacraft 2009 di harian Kompas, Kamis 23 April 2009
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Edisi Kedua, (Jakarta: Balai Pustaka)
Mari Elka Pangestu, “Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia 2009-2025”, makalah disampaikan pada Seminar Nasional bertema “Aksentuasi Triple Helix dalam Realisasi Ekonomi Kreatif” dalam rangka Dies Natalis ISI Yogyakarta ke 24 pada 9 Agustus 2009.
Seperti yang diungkapkan oleh Henk Sechram, seorang buyer berasal dari Belanda dalam sebuah pembicaraan non-formal dengan penulis saat berkunjung di studio penulis, pada 25 Maret 2009 di Kasongan Bantul Yogyakarta.
Timbul Raharjo, “Pasar Global Sedang Gombal”, makalah disampaikan pada diskusi ilmiah yang diselenggarakan Disperindag Provinsi DIY di Hotel Inna Garuda Yogyakarta pada 4 Januari 2008.
_________________, “Yogyakarta sebagai Ikon Perkembangan Seni Kriya di Indonesia”, makalah disampaikan pada acara Diskusi Ilmiah dalam rangka Purna Tugas Prof. Drs. SP. Gustami, S.U. di Gedung Pascasarjana ISI Yogya pada 4 April 2009.
Wahyuntana, ”Pengembangan Kerajinan di Yogyakarta”, makalah disampaikan pada acara persiapan pembukaan Jurusan D-3 Kriya Souvenir FSR ISI Yogyakarta, di Hotel Brongto Yogyakarta pada 28 Juli 2001.



[1]Makalah disampaikan pada acara Seminar Nasional dalam rangka Purna Tugas Prof. Drs. SP. Gustami, S.U. di Institut Seni Indonesia Yogyakarta pada 5 Mei 2009.
[2]Mari Elka Pangestu, “Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia 2009-2025”, makalah disampaikan pada Seminar Nasional bertema “Aksentuasi Triple Helix dalam Realisasi Ekonomi Kreatif” dalam rangka Dies Natalis ISI Yogyakarta ke 24 pada 9 Agustus 2009.
[3]Seperti yang diungkapkan oleh Henk Sechram, seorang buyer berasal dari Belanda dalam sebuah pembicaraan non-formal dengan penulis saat berkunjung di studio penulis, pada 25 Maret 2009 di Kasongan Bantul Yogyakarta.
[4]Wahyuntana, ”Pengembangan Kerajinan di Yogyakarta”, makalah disampaikan pada acara persiapan pembukaan Jurusan D-3 Kriya Souvenir FSR ISI Yogyakarta, di Hotel Brongto Yogyakarta pada 28 Juli 2001.
[5]Timbul Raharjo, “Pasar Global Sedang Gombal”, makalah disampaikan pada diskusi ilmiah yang diselenggarakan Disperindag Provinsi DIY di Hotel Inna Garuda Yogyakarta pada 4 Januari 2008.
[6]Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Edisi Kedua, (Jakarta: Balai Pustaka), 377.
[7]“Kampanye Cinta Indonesia Bukan Tindakan Proteksi” ulasan berita Pameran Inacraft 2009 di harian Kompas, Kamis 23 April 2009.
[8]Timbul Raharjo, “Yogyakarta sebagai Ikon Perkembangan Seni Kriya di Indonesia”, makalah disampaikan pada acara Diskusi Ilmiah dalam rangka Purna Tugas Prof. Drs. SP. Gustami, S.U. di Gedung Pascasarjana ISI Yogya pada 4 April 2009.