Kamis, 27 Agustus 2009

Pemasaran Seni Karajinan di Bantul: Kasus Seni Kerajinan Keramik Kasongan PASAR SENI KERAJINAN KERAMIK KASONGAN SEDANG GUSAR DR. TIMBUL RAHARJO,

Pemasaran Seni Karajinan di Bantul: Kasus Seni Kerajinan Keramik Kasongan
PASAR SENI KERAJINAN KERAMIK KASONGAN SEDANG GUSAR
DR. TIMBUL RAHARJO, M. HUM.

A. Awal
Sekitar pukul dua siang minggu lalu, mbah Sarjiman karyawan penulis bagian packaging keluar gerbang sambil bersiul menenteng walesan pancing dan sebotol umpan ikan yang ternyata sejak pagi telah dipersiapkannya. Setelah presensi di depan satpam ia kemudian hendak belalu dengan sepeda motornya. Kebetulan penulis berpapasan dengannya dan menyapa “isih awan kok wis bali mbah?” (masih siang kok sudah pulang mbah?) dia menjawab “nggih la pun mbaten wonten gawean, niki ajeng mancing” (ya habis sudah tidak ada pekerjaan, mending mancing saja) ladalah ternyata disusul 40 orang anak buah mbah Sarjiman yang juga pulang awal. Pak Parno yang menjabat sebagai quality control bagian finishing juga sudah membawa sabit siap mencari damen buat ternak sapinya. Kemudian penulis bergegas menemui mbak Tris yang menjabat sebagai manager di perusahaan penulis, ia menjelaskan bahwa krisis financial global telah berdampak pada industri seni kerajinan termasuk usaha penulis. Kemudian penulis teringat cerita Pak Buang yang sekarang berprofesi menjadi pencari belut di sawah, bahwa di tempat kerjanya sudah tidak ada lagi order, sehingga terjadi pengurangan karyawan padahal ia harus menghidupi istri dan empat anaknya. Pada hal lagi Pak Buang dikenal sebagai seorang pembuat keramik yang handal. Namun ia tidak tahu kenapa tidak ada order, yang terpikir di benaknya hanya apakah para bule (buyer) itu takut ke Indonesia karena ada bom, atau mereka malas ke sini karena marah, sebab uang muka ordernya dipakai bosnya untuk kawin lagi atau apa? Mereka tahunya kok sekarang sepi order. Mereka tidak pernah membayangkan bagaimana barang seni kerajinan sampai di negara si bule, bagaimana cara menjualnya, barang laku apa tidak, rusak tidak, ia tahunya bule itu senangnya membeli barang yang antic dan bodoh, sebab senang produk yang di sini kurang laku dan tidak meling-meling (berkilau).
Pemahaman global tentang situasi dan kondisi internasional masih belum banyak dimengerti diantara pengrajin. Masyarakat dunia sedang menghemat uangnya akibat krisis financial global. Kengerian situasi itupun kemudian dapat kita lihat pada flash back beberapa bulan lalu, yakni pasar seni kerajinan tahun 2009 menunjukan situasi yang rumit yang turun sampai 70 persen pada semester awal tahun ini. Dengan demikian jika kita berbicara pemasaran seni kerajianan tentu berkaitan dengan apek pasar luar negeri. Sebab dalam bisnis seni kerajinan hampir 90 persen berpasar ekspor.
Dengan situasi demikian, tentu pembicaraan pemasaran menjadi kurang menarik karena kondisi yang selama ini menjadi primadona ekspor Bantul saat ini sedang mengalami penurunan yang luar biasa. Namun demikian kemungkinan justru menjadi sebuah masalah yang menarik yang dapat didiskusikan di ruangan ini. Baiklah judul di atas adalah “Pasar Seni Kerajinan Keramik Sedang “Gusar” maksud penulis bahwa seni kerajinan saat ini sedang mengalami kondisi pasar yang kurang baik, yang sedang sakit adalah para importer yang kesulitan menjual produk seni kerajinan Indonesia di negaranya, mereka sedang mriang, mereka sedang krisis. Sementara produsen/pengrajin tidak. Dengan kata lain saat ini mudah membuat tapi susah bisa jual. Untuk tidak mengurangi existensi yang diharapkan dalam diskusi ini, penulis juga mencoba bercerita tentang kondisi pasar dalam rentang waktu sebelum krisis financial global. Hal ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang menyeluruh tentang kondisi pasar seni kerajinan dan bagaimana upaya-upaya pembinaanya.

B. Kondisi Pasar Sebelum Krisis, tapi Gempa
Setelah gempa bumi 27 Mei 2006 lalu kondisi fisik di wilayah Bantul mengalami kerusakan yang luar biasa. Mr. Enrico, seorang importer dari Italia yang sering membeli seni kerajinan Keramik dari Kasongan yang rata-rata 10 kontainer tiap bulannya, dua hari setelah gempa menanyakan pada penulis “ Mr. Timbul what can I do to help you, should I send money to you” dengan gagah berani penulis menjawab “give me more order to fix our condition” Mr Enrico kaget dan memang membuat order lagi. Beberapa minggu kemudian penulis pusing dengan banyaknya order yang masuk sementara kondisi perusahaan masih amburadul. Banyak karyawan yang stress karena kondisi rumah mereka roboh, mental mereka terganggu, mudah tersinggung, dan mudah marah. Sehingga kinerja mereka sangat menurun, mereka pucat dan kurus-kurus. Pada hal pasar seni kerajinan keramik masih terbuka lebar sementara produksi sedang K.O dan produktifitas menurun. Penulis kemudian berfikir bagaimana cara memperbaiki situasi yang demikian dengan cepat.
Mengingat pasar masih memerlukan produk seni kerajinan keramik, sementara produksi mengalami kendala teknis yang cukup berat. Kemudian penulis lakukan tindakan yakni pertama dicoba untuk membenahi mental para karyawan dengan mendatangkan konsultan mental (spikiater), penulis meminta untuk mengobati mental mereka untuk dapat konsentrasi bekerja, kedua membenahi infrastruktur produksi dan yang ketiga membenahi system produksi. Dalam jangka sepuluh bulan kemudian ternyata produktifitas meningkat, dapat memaksimalkan produksi sesuai ekspektasi penulis. Pasar menjadi lebih terinspirasi untuk memberikan peluang-peluang lain untuk memaksimalkan produksi. Bahkan pada tahun 2007 mengalami peningkatan yang luar biasa, pasar Eropa, Amerika, Kanada, Australia dan Korea sangat mendominasi pembelanjaan seni kerajinan Keramik Kasongan. Mereka tampak kesetanan untuk membelanjakan uangnya karena produk seni kerajinan keramik memiliki kualitas seni yang mampu menyihir konsumen manca negara untuk mengkoleksi dan menghiasi rumah hunian mereka. Mereka sangat menghargai barang kerajinan tangan sebagai salah satu produk yang memiliki nilai seni tinggi.
Dengan adanya gempa itu membuat gereget pemerintah untuk memberikan dukungan penyelamatan gempa cukup baik. Upaya-upaya dilakukan agar masyarakat Kasongan dapat bekerja kembali. Mengingat ketika itu kendala akibat gempa dapat ditangani masyarakat pengrajin dengan cepat, penulis pernah memprediksikan Kasongan akan pulih dua tahun lagi, namun ketika ditahun awal 2008 meletusnya gelembung surat berharga yang diawali dari Negara adidaya Amerika yang kemudian meruntuhkan sendi-sendi ekonomi dunia dan dunia ekspor Indonesia, maka pasti pemulihan kondisi akan mengalami kemunduran sampai tahun 2011 dengan catatan krisis global telah berakhir. Persoalan pasar sesaat setelah gempa tidak menjadi persoalan bahkan beberapa pengusaha seni kerajinan di wilayah Bantul mengalami peningkatan yang signifikan. Indikasinya terlihat dari beberapa event pameran seni kerajinan dan mebel seperti Trade Expo Indonesia 2007 banyak peserta dan buyer yang datang.

C. Pasar pada Era Krisis Global
Bagian terpenting dari kegiatan pasar seni kerajinan bergantung pada kondisi internasional. Gejolak masyarakat dunia akan menentukan baik dan tidak, sebab seni kerajinan Keramik Kasongan sebagian besar hanya melayani pasar luar negeri. Dengan kondisi krisis financial global yang sedang berlangsung saat ini memang tidak banyak yang bisa diperbuat. Beberapa buyer yang telah terbiasa belanja seni kerajinan Keramik Kasongan sedang mengatur kondisi perusahaan masing-masing. Mereka menunggu sampai kondisi membaik, orang sudah mulai nyaman jika kebutuhan primer telah tercukupi, sementara seni kerajinan adalah barang yang dibutuhkan sebagai bagian kebutuhan skunder. Wajar jika produk ini akan laku terjual ketika kebutuhan makan, sandang, dan perumahan telah terpenuhi.
Kondisi seni kerajinan memang menjadi serba sulit, banyak kegiatan home industry di wilayah Kasongan megalami pemutusan hubungan kerja, bahkan telah tutup. Usaha yang masih mengandalkan pada suplay ke perusahaan lebih besar mengalami kemacetan, Mungkin pemerintahpun belum begitu sadar akan terganggunya pemasaran oleh olah krisi global ini. Dengan demikian upaya-upaya yang dilakukan masih bersifat pembenahan dari sisi produksi, sementara pasar yang digarap belum dapat memberikan pemulihan pasar yang baik. Tentu dalam hal ini bukan bagaimana mencari pasar yang tidak terkena dampak krisis seperti Timur Tengah, Eropa Timur, maupun Negara-nera Karibian, namun juga realisasi pemasaran yang bernar-benar meringankan bagi UMKM. Beberapa dari teman pengrajin mencoba untuk memasarkan ke wilayah-wilayah potensial di dalam negeri, hanya saja kendala transportasi antar pulau yang masih menjadi kendala serius dalam proses perdagangan seni kerajinan.
Meskipun krisis saat ini yang kena adalah finansialnya, bukan sector riil, namun antara financial dan sector riil merupakan dua hal yang tak terpisahkan. Awalnya banyak orang memprediksikan sector riil tidak kena dampaknya, namun pada kenyataannya sector riil inilah yang ternyata mengalami kesulitan yang lebih besar. Pada umumnya mereka belum menerapkan system manajemen yang baik terutama dalam hal penataan research and development (R&D) dalam bagian unsahanya, begitu terkena dampak perubahan situasi pasti mereka jatuh terlebih dahulu. Kapankah krisi akan berakhir? Pernah penulis lontarkan kepada calon wapres Budiono dalam sebuah diskusi. Beliau menjelaskan pada sector keuangan sudah menunjukan titik terang adanya perubahan ke arah yang lebih baik, sementara pada sector reiil diharapkan akan segera menyusul. Kapan menyusulnya? Nah ini tergantung pada telah membaiknya kondisi ekonomi internasional dan kesadaran masyarakat dunia untuk segera melupakan krisis dan segera menggunakan atau membelanjakan uangnya, harapannya geliat bisnis seni kerajinan Keramik segera bangkit seperti semula.
Beberapa perusahaan trading yang besar di Eropa mengalami resesi. Dari beberapa yang penulis kenal telah menyatakan sementara berhenti membeli dulu sampai krisis berlalu, bahkan ada yang telah tutup. Sementara buyer retailer yang mereka langsung menjual produknya di showroom pribadinya masih menunjukan geliat yang cukup baik. Hanya saja keteraturan melayani mereka harus dijaga secara intensif mengingat buyer jenis ini ternyata memiliki daya tahan yang baik sebab mereka tidak direpotkan dengan proses pengaturan distribusi yang cukup panjang dalam pemasarannya. Pada sub bab berikut disampaikan beberapa cara pemasaran yang dilakukan pada seni kerajinan terutama seni kerajinan Keramik.
D. Kegiatan Pemasaran Seni Kerajinan
Sebagai pengrajin kecil pada usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), pada awalnya, pola kegiatan produksi masih bersifat tradisional dan hanya kenal dengan pasar regional sekitarnya. Mereka menjajakan produknya berkeliling dari desa ke desa, mensuplay para pengepul di pasar-pasar tradisional. Umumnya produk yang dihasilkan jauh dari unsur seni, sesuai dengan kebutuhan harian masyarakat sekitanya, seperti roduk seni kerajinan sebagai barang peralatan rumah tangga. Mereka adalah masyarakat yang rata-rata mengenyam pendidikan tingkat dasar, sehingga belum begitu baik untuk mengenal pasar modern yang lebih luas apalagi aplikasi dengan teknologi informasi. Namun bagi unit-unit usahan yang cukup besar dapat mengatur kegiatan pasar seefektif mungkin. Merka dapat memahami, menerapkan, dan melakukan jenis-jenis pola pemasaran yang cukup baik.
Pengrajin seni kerajinan Keramik tidak semua membuat terobosan pasar dari berbagai sisi, seperti mengikuti pameran di dalam maupun diluar negeri, atau membuat situs di internet. Namun juga mereka mengandalkan arshop-arshop yang mereka miliki di wilayah sepanjang jalan Kasongan. Tampaknya pasar seni kerajinan yang terpadu dalam sebuah lokasi membuat para buyer yang semula datang untuk membeli seni kerajinan Keramik pada beberapa buyer juga melirik produk non gerabah yang juga ikut dijajakan di wilayah sepanjang jalan Kasongan.
Sebagai desa wisata Kasongan telah mampu menjadi salah satu tujuan wisata yang baik. Ketertarikan dengan wilayah ini telah membuat Kasongan memiliki daya tarik tersendiri pada para buyer. Sebagai wilayah kedua yang didatangi oleh para buyer lepasan dari Bali, maka Kasongan sebagai pilihan utama bagi para wisatawan terutama yang suka berbinis dalam bidang seni kerajinan. Kasongan telah hadir sebagai representasi wilayah Bantul bahkan Yogyakarta sebagai pusat seni kerajinan yang dihasilkan dari wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Meskipun Malioboro telah hadir dan menampilkan produk seni kerajinan Yogyakarta para buyer yang telah mendalami bisnisnya tentu menghindari Malioboro untuk negosiasi bisnisnya. Inilah yang membuat daya tarik Kasongan semakin menjadi ketika produk hadir sebagai ujung tombak dalam meraih pasar di sepanjang kiri-kanan jalan Kasongan itu.
Perusahaaan yang memiliki kapasitas dapat melayani buyer dalam skala container tentu melakukan upaya pemasaran yang lebih luas. Salah satu produk pameran seni kerajinan yang bertarap internasional adalah Trade Ekspo Indonesia (TEI) pada bulan Oktober tiap tahunnya dan IFFINA pada bulan maret adalah dua pameran besar internasional di Indonesia yang sering diikuti oleh para pengusaha yang telah memiliki system managemen yang baik, atau perusahaan yang berorientisasi ekspor. Ada juga pmeran INACRAFT yang diselenggarakan bulan April yang lebih focus utuk pasar local, juga menjadi salah satu alternative pasar dalam negeri.
Namun demikian pemasaran pada tingkat ke dua adalah pemasaran yang memang khusus mensuplay para trading yang dibawa berpameran internasional itu. Mereka memposisikan diri sebagi penyuplay saja, mereka tidak mau melakukan pameran sebab akan terjadi benturan diantara pembeli dan produsen yang ikut serta dalam sebuah event pameran. Demikian pula kegiatan pameran luar negeri beberapa pengusaha yang telah berpameran internasional dalam negeri, tentu tidak mau berpameran di luar negeri dengan kondisi tujuan pasar yang sama dengan buyernya. Memang etika menjadi sangat penting, posisi pasar yang mana yang akan diambil.
Sebuah kegiatan bisnis tentu memiliki pola dan langkah yang tepat dalam melakukan kegiatan pemasaran. Kantong mana yang akan di jelajah sesuai dengan kapasitas masing masing. Sebuah sentra seni kerajinan seperti Kasongan para pengrajinnya memiliki tingkat managemen yang berbeda-beda, yang lebih kecil akan mensuplay pada perusahaan yang lebih besar, baik dalam sistem produksi maupun pemasaran. Keduanya menjadi sangat penting dan terjadinya sinergisme yang baik dalam suasana saling menguntungkan. Jika berat sebelah maka sebuah usaha akan mengalami penurunan.
E. Penutup
Pemasaran seni kerajinan terutama seni kerajinan Keramik mermiliki pola pemasaran yang menyesuaikan dengan kapasitas usaha seni kerajinan Keramik itu. Usaha-usaha pemasaran yang dilakukan adalah:
1. Menjajakan secara berkeliling, terutama barang peralatan rumah tangga
2. Acongan, terutama saat musim wisata di beberapa wilayah yang dikunjungi wisatawan seperti di Alun-alun Utara.
3. Memiliki Showroom di pinggir jalan Kasongan.
4. Mengikuti Pameran-pameran local dan Internasional
5. Membuta situs pemasaran melalui Internet.
6. Adanya guide yang membawa tamu ke showroom/studio dengan memberi imbalan “brengos” yang umumnya lima persen.
Hal itu beberapa hal yang dapat penulis disampaikan ada kurangnya mohon maaf.





F. Tentang Penulis
Nama Timbul Raharjo, bertempat tinggal di Kasongan Kab. Bantul Yogyakarta. Lahir di Kasongan 39 tahun yang lalu. Tahun 2008 menyelesaikan program Doktor di Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada. Tahun 2007 menerima anugerah UPAKARTI dari Presiden, dan menjadi pengusaha terbaik empat versi Dji Sam Sue. Mengajar di Jurusan Kriya ISI Yogyakarta, Memiliki studio Timboel Keramik di Kasongan.

1 komentar:

budi mengatakan...

Kondisi pasar yang lesu memang menyedihkan, namun jika lama kondisi bisa diprediksi mungkin justru situasi seperti ini sangat baik untuk memperluas pasar, sehingga ketika ekonomi global sudah pulih mungkin kondisainya akan jauh lebih baik bagi pengusaha.
namun upaya itu sangat banyak membeyuhkan biaya promosi, dan aku melihat ketidak mampuan pengusaha UKM kita untuk masalah biaya, menurut saya banyak upaya - upaya pemerintah namun tidak ada koordinasi dalam mengembangkan UKM dan IKM, mereka masih berjalan sendiri mengedepankan ego lembaga masing2. ada BKPM, ada SMESKO, NAFED, ujung tombak informasi dagang kita ada di atase perdagangan namun kebanyakan dari mereka orang sospol dan masih terjebak pola - pola administratif sehingga melupakan fungsi - fungsi strategis.
Industry kecil dan menengah kita memang sangat memprihatinkan, terutama yang membutuhkan sentuhan tehnology, masih sangat dan sangat tertinggal jauh. di indonesia banyak orang pinter namun strukture sangat tidak mendukung, kebijakan pemerintah dan politik juga tidak mendukung, sehingga semua jalur distribusi kita di pasar nasional hampir 80% dikuasai non pribumi, muali dari tekstil, IT, otomotif, makanan, electronik, komunikasi dll, sehingga praktis kita UKM hanya klepretan saja dan diperebutkan 80% penduduk Indonesia.
maka dari itu Industri kerajinan merupakan sarana kepepet yang strategys untuk maju bersaing di pasar global, karena disamping tetap mempertahankan nilai - nilai budaya ekonomi juga relatif masih mempunyai daya saing yang cukup di pasar international, khususnya yang berbahan natural dan handmade.
saya kira kita para pelaku UKM khususnya harus selalu ngoprak - oprak pemerintah agar lebih giat lagi dalam memerjuangkan kemajuan ekonomi khususnya UKM yang selama ini ibarat ayam kampung yang dibiarkan cari amakn seniri namun kalau bertelur di buat jamu.
bravo kang...sukses yo